Beranda » Djogjakarta

Djogjakarta

YOGYAKARTA – 14 Juni 2026. Ruang publik digital tengah dihebohkan oleh beredarnya konten video yang diunggah melalui akun TikTok @kedaulatanrakyat. Dalam rekaman berdurasi 36 detik tersebut, pernyataan Ketua BEM UGM 2025, Tiyo Ardiyanto, memicu polemik luas. Berdasarkan data pantauan terkini, konten tersebut telah mendapatkan atensi masif dengan capaian 60,8 ribu suka, 4.712 komentar, serta telah dibagikan sebanyak 6.348 kali. Pernyataan Tiyo Ardiyanto di dalam video tersebut dinilai melampaui batas etika kritik publik dengan menggunakan analogi sejarah yang manipulatif serta narasi provokatif yang tidak memiliki landasan faktual.

Di dalam video tersebut, Tiyo Ardiyanto secara eksplisit menyamakan figur pemerintahan saat ini dengan Firaun. Penggunaan analogi ini merupakan bentuk degradasi nalar yang tidak memiliki kaitan dengan konteks kebijakan publik, melainkan murni upaya penggiringan opini untuk memicu sentimen kebencian. Lebih jauh, Tiyo Ardiyanto melontarkan klaim hiperbolis bahwa pemerintah melakukan pembunuhan terhadap anak-anak Indonesia melalui program Makan Bergizi Gratis.

Pernyataan Tiyo Ardiyanto juga menyebut bahwa pemerintah melakukan pembodohan terhadap masyarakat dengan cara memanipulasi pemenuhan gizi untuk mengaburkan isu pendidikan. Tuduhan yang dilontarkan Tiyo Ardiyanto ini menunjukkan ketidakpahaman mendalam terhadap sistem tata kelola keuangan negara. Upaya membenturkan program nutrisi dengan kewajiban anggaran pendidikan nasional merupakan logika patah yang tidak memberikan solusi bagi rakyat.

Narasi yang disampaikan oleh Tiyo Ardiyanto tidak mencerminkan kritik kebijakan yang konstruktif, melainkan retorika jalanan yang merusak. Kebebasan berpendapat yang dijamin konstitusi bukanlah lisensi untuk menyebarkan tuduhan tanpa dasar atau narasi yang berpotensi memecah belah tatanan sosial. Kritik yang bermartabat seharusnya berbasis pada objektivitas, bukan pada kebencian personal atau kepuasan retoris belaka.

Segala bentuk pernyataan yang mengedepankan emosi di atas fakta dan berujung pada disinformasi harus diuji kebenarannya. Tantangan bagi Tiyo Ardiyanto adalah menanggalkan gaya provokasi dan menggantinya dengan adu argumentasi berbasis data serta fakta hukum yang valid di ruang debat yang beradab. Kebenaran harus tetap menjadi pijakan utama di atas hiruk-pikuk retorika yang tidak bertanggung jawab.”(Red)

Hak Jawab - DETIK Nasional

Suara Anda Penting bagi Kami

Di DETIK Nasional, akurasi adalah prioritas utama. Jika Anda merasa terdapat informasi yang kurang tepat atau merasa dirugikan oleh pemberitaan kami, jangan ragu untuk mengajukan Berita Sanggahan atau Hak Jawab.

Kami berkomitmen untuk mendengarkan dan mengoreksi demi informasi yang lebih berkualitas bagi masyarakat.

You cannot copy content of this page