Beranda » Religi » Halaman 18

Religi

Seni Menjemput Rezeki: Mengapa Ketenangan Adalah Prasyarat Mutlak Kesejahteraan?

Oleh: Casroni | 19 Desember 2025

DETIK-NASIONAL.COM — Di tengah hiruk-pikuk dunia modern yang mendewakan hustle culture, masyarakat kita sering terjebak dalam mitos berbahaya: bahwa kesuksesan finansial adalah hasil linear dari kerja keras yang penuh kepanikan. Kita dipaksa berlari tanpa henti dalam ritme yang toksik, hingga lupa bahwa rezeki bukan sekadar hasil dari keringat yang bercucuran, melainkan buah dari kejernihan pikiran.

Stres: “Lubang Hitam” Penghambat Peluang

Secara neurosains, kondisi mental yang stres dan panik memicu lonjakan hormon kortisol yang melumpuhkan fungsi prefrontal cortex—bagian otak yang bertanggung jawab atas logika dan pengambilan keputusan strategis. Ketika seseorang berada dalam kondisi “jiwa yang terjepit”, mereka mengalami tunnel vision atau penyempitan sudut pandang.

Hak Jawab - DETIK Nasional

Suara Anda Penting bagi Kami

Di DETIK Nasional, akurasi adalah prioritas utama. Jika Anda merasa terdapat informasi yang kurang tepat atau merasa dirugikan oleh pemberitaan kami, jangan ragu untuk mengajukan Berita Sanggahan atau Hak Jawab.

Kami berkomitmen untuk mendengarkan dan mengoreksi demi informasi yang lebih berkualitas bagi masyarakat.

Akibatnya, peluang emas yang ada di depan mata sering kali terlewatkan karena otak terlalu sibuk memproses kecemasan. Uang mungkin menyukai kecepatan, tetapi ia lebih memilih menetap pada mereka yang memiliki kapasitas untuk mengelolanya dengan kepala dingin. Ketenangan, dalam konteks ini, bukan sekadar kondisi batin, melainkan aset ekonomi yang nyata.

Menata Ulang Logika di Tengah Tekanan

Jika saat ini Anda merasa buntu akibat tekanan finansial, menambah jam kerja dalam kondisi mental yang kacau justru bisa menjadi bumerang. Langkah paling radikal—namun paling efektif—adalah berani berhenti sejenak.

Mengambil jeda bukan berarti menyerah; ini adalah upaya sadar untuk merebut kembali kendali logika dari dominasi emosi yang destruktif. Perbedaan mendasar antara mereka yang benar-benar sukses dengan yang sekadar “sibuk” terletak pada cara mereka merespons krisis. Figur sukses tidak bekerja lebih keras saat panik; mereka justru mencari keheningan untuk menemukan celah yang tidak terlihat oleh mata yang penuh kecemasan.

Tiga Pilar Strategis Ketenangan

Ketenangan bukanlah sikap pasif, apalagi apatis. Ia adalah fondasi aktif yang memungkinkan tiga pilar keberhasilan ini berdiri kokoh:

Ketekunan Strategis: Kemampuan bertahan menghadapi badai tanpa kehilangan arah kompas tujuan.

Fokus Tajam: Menjaga atensi pada target jangka panjang di tengah distraksi tren sesaat yang sering kali menyesatkan.

Konsistensi Terukur: Bergerak secara ajek (slowly but surely). Sejarah membuktikan bahwa kemenangan finansial diraih oleh mereka yang mampu menjaga “napas panjang”, bukan mereka yang melakukan sprint di awal lalu tumbang karena kelelahan emosional.

“Rezeki memiliki frekuensinya sendiri; ia cenderung menghampiri mereka yang mampu mengelola diri dengan tenang.”

Hak Jawab - DETIK Nasional

Suara Anda Penting bagi Kami

Di DETIK Nasional, akurasi adalah prioritas utama. Jika Anda merasa terdapat informasi yang kurang tepat atau merasa dirugikan oleh pemberitaan kami, jangan ragu untuk mengajukan Berita Sanggahan atau Hak Jawab.

Kami berkomitmen untuk mendengarkan dan mengoreksi demi informasi yang lebih berkualitas bagi masyarakat.

Kesimpulan: Rezeki Mencari Wadah yang Stabil

Menjadi sejahtera bukan sekadar tentang seberapa cepat kita mengejar angka, tetapi seberapa stabil “wadah” internal kita untuk menampung keberuntungan tersebut. Di dalam jiwa yang tenang, ide-ide brilian tumbuh dan peluang menemukan tempat untuk berlabuh.

Pada akhirnya, kita harus menyadari bahwa ketenangan bukan sekadar kenyamanan batin yang bersifat opsional. Ketenangan adalah bentuk tertinggi dari kecerdasan finansial. Tanpa itu, sebanyak apa pun materi yang datang hanya akan menguap dalam pusaran kepanikan yang tak berujung. Mari berhenti sejenak, bernapaslah, dan jemputlah rezeki dengan kewarasan yang utuh.

Opini: Publik
Penulis: Casroni

Filosofi Membumi: Rahasia Bahagia di Tengah Dunia yang Memuja Materi

Oleh: Casroni Kamis, 18 Desember 2025

DETIK-NASIONAL.COM II Perjalanan hidup manusia jarang sekali menyerupai garis lurus yang mudah ditebak. Ia lebih sering tampak seperti labirin penuh teka-teki, karena sejatinya tidak ada yang abadi di bawah langit ini. Dalam pandangan Al-Qur’an, dunia hanyalah mata’ul ghurur atau kesenangan yang memperdaya (QS. Ali Imran: 185).

Di tengah bisingnya dunia yang memuja materi, tantangan sering kali datang tanpa mengetuk pintu. Kualitas sejati seorang manusia justru tidak diuji saat ia berada di titik nadir, melainkan ketika ia berdiri di puncak pencapaian. Di sinilah relevansi pepatah Jawa, “Ojo dumeh” (jangan mentang-mentang), menjadi pengingat agar kita tidak silau oleh ketinggian posisi.

Jebakan Ego dan Esensi Syukur

Hak Jawab - DETIK Nasional

Suara Anda Penting bagi Kami

Di DETIK Nasional, akurasi adalah prioritas utama. Jika Anda merasa terdapat informasi yang kurang tepat atau merasa dirugikan oleh pemberitaan kami, jangan ragu untuk mengajukan Berita Sanggahan atau Hak Jawab.

Kami berkomitmen untuk mendengarkan dan mengoreksi demi informasi yang lebih berkualitas bagi masyarakat.

Sering kali, embusan angin keberhasilan membuat kita lupa berpijak pada bumi. Padahal, Allah SWT telah mengingatkan: “Dan janganlah kamu berjalan di muka bumi ini dengan sombong…” (QS. Al-Isra: 37). Secara eksistensial, tidak ada ruang bagi kesombongan di semesta yang luas ini.

Dalam kearifan Jawa, ini disebut sebagai sikap Eling lan Waspada. Eling berarti sadar akan asal usul (sangkan paraning dumadi) bahwa segala titipan akan kembali pada-Nya, dan Waspada berarti berhati-hati terhadap tipu daya nafsu pribadi. Kekayaan sejati adalah ketika keberadaan kita mampu menghadirkan kemaslahatan bagi sesama—sebuah manifestasi dari prinsip Memayu Hayuning Bawana (memperindah keindahan dunia).

Kemanusiaan Tanpa Sekat: Melawan Arus Arrogansi

Dalam struktur sosial modern, ada godaan besar untuk mengukur derajat manusia berdasarkan harta. Namun, merendahkan sesama adalah bentuk ketidaktahuan atas kuasa Tuhan yang Maha Membolak-balikkan keadaan (Ya Muqallibal Qulub).

Primbon Jawa menggambarkan kehidupan seperti Cakra Manggilingan—roda yang terus berputar. Siapa yang hari ini di atas, esok bisa di bawah. Oleh karena itu, menaruh hormat kepada siapa pun tanpa memandang kasta adalah cermin kemuliaan akhlak. Di mata keabadian, kita hanyalah peziarah yang hanya akan membawa bekal amal dan ketulusan.

Menjemput Takdir dengan ‘Active Surrender’

Sebagai manusia, kita harus memahami batasan diri. Ada wilayah ikhtiar (usaha), namun ada pula ranah tawakkal (kepasrahan). Dalam tradisi Jawa, kita mengenal konsep Pinasti, yaitu ketetapan yang tidak bisa dielakkan. Memahami empat ketetapan dasar akan membuat langkah terasa lebih ringan:

Rezeki: Yang mengalir melalui pintu tak disangka (QS. At-Talaq: 3).

Jodoh & Pertemuan: Garis pertemuan yang telah diatur oleh presisi waktu semesta.

Hidup & Maut: Misteri absolut yang tidak dapat dimajukan maupun ditunda (QS. Al-A’raf: 34).

Hak Jawab - DETIK Nasional

Suara Anda Penting bagi Kami

Di DETIK Nasional, akurasi adalah prioritas utama. Jika Anda merasa terdapat informasi yang kurang tepat atau merasa dirugikan oleh pemberitaan kami, jangan ragu untuk mengajukan Berita Sanggahan atau Hak Jawab.

Kami berkomitmen untuk mendengarkan dan mengoreksi demi informasi yang lebih berkualitas bagi masyarakat.

Kesadaran ini bukanlah keputusasaan, melainkan bentuk kepasrahan yang aktif. Kita bekerja keras, namun tidak mendikte hasil. Inilah yang disebut dalam falsafah Jawa sebagai “Narimo ing Pandum”—menerima dengan ikhlas apa yang diberikan Tuhan setelah usaha maksimal dilakukan.

Penutup: Warisan Jejak Kebaikan

Makna hidup yang sesungguhnya bukanlah tentang memenangkan kompetisi, melainkan tentang bagaimana kita berdamai dengan ketetapan-Nya. Di tengah krisis integritas saat ini, menjaga lisan adalah kunci. Jangan sampai kita mengumbar janji manis yang hanya menjadi selubung kebohongan, karena setiap kata akan dimintai pertanggungjawaban.

Tugas kita sederhana: berikhtiar dengan totalitas, tetap membumi dalam kerendahan hati, dan terus menebar manfaat. Sebab pada akhirnya, kita akan diingat bukan karena jabatan, melainkan karena jejak kebaikan dan kejujuran yang kita tanam di hati orang lain. Sebagaimana pesan luhur: “Urip iku urup”—hidup itu hendaknya memberi cahaya bagi sekitar.

Opini:
Oleh: Casroni / Kamis, 18 Desember 2025

 

Kontribusi Peserta: Rp 120.000,- per Orang

BREBES, DN-II Keluarga Besar Bani Wasan, Brebes, akan kembali melaksanakan agenda tahunan Ziarah dan Rekreasi pada tahun 2026. Keputusan final mengenai jadwal, rute perjalanan, dan mekanisme pendanaan telah ditetapkan dalam Rapat Pengurus Keluarga Besar Bani Wasan yang dilaksanakan pada malam Kamis, 14 Desember 2025.

Rapat koordinasi yang dihadiri oleh perwakilan pengurus dari masing-masing keluarga ini berlangsung di kediaman Saudara Edi Syamsuri dan menghasilkan finalisasi rencana perjalanan yang wajib menjadi perhatian bagi seluruh anggota keluarga.

I. RENCANA PELAKSANAAN ZIARAH & REKREASI 2026

1. Waktu Pelaksanaan

Hak Jawab - DETIK Nasional

Suara Anda Penting bagi Kami

Di DETIK Nasional, akurasi adalah prioritas utama. Jika Anda merasa terdapat informasi yang kurang tepat atau merasa dirugikan oleh pemberitaan kami, jangan ragu untuk mengajukan Berita Sanggahan atau Hak Jawab.

Kami berkomitmen untuk mendengarkan dan mengoreksi demi informasi yang lebih berkualitas bagi masyarakat.

Agenda Ziarah dan Rekreasi tahun 2026 akan dilaksanakan pada:

Hari/Tanggal: Senin, 23 Maret 2026.

Keterangan: Bertepatan dengan 4 Syawal 1447 Hijriah (Momen Halal Bihalal).

2. Titik Kumpul dan Keberangkatan

Untuk menjamin ketepatan waktu, seluruh peserta diimbau untuk memperhatikan jadwal berikut:

Titik Kumpul: Lokasi Gg. Bima (Banjir), Brebes.

Waktu Kumpul: Segera setelah pelaksanaan shalat Subuh.

Waktu Keberangkatan Bus: Tepat pukul 06.00 WIB.

Penting: Dua unit armada bus telah disiapkan. Peserta diwajibkan datang tepat waktu.

3. Rute Utama Perjalanan (Ziarah & Rekreasi)

Hak Jawab - DETIK Nasional

Suara Anda Penting bagi Kami

Di DETIK Nasional, akurasi adalah prioritas utama. Jika Anda merasa terdapat informasi yang kurang tepat atau merasa dirugikan oleh pemberitaan kami, jangan ragu untuk mengajukan Berita Sanggahan atau Hak Jawab.

Kami berkomitmen untuk mendengarkan dan mengoreksi demi informasi yang lebih berkualitas bagi masyarakat.

Rute perjalanan telah ditetapkan dengan fokus pada Makam Auliya dan satu lokasi rekreasi utama:

Ziarah ke Makam Mbah RUBI, Klampok, Brebes.

Ziarah ke Makam Maulana Syekh Syamsudin, Widuri, Pemalang.

Rekreasi ke Pantai Dolphin Center SIGANDU, Batang.

Ziarah ke Makam Mbah NUR, Moga, Pemalang.

4. Rute Tambahan (Kondisional)

Pengurus mempertimbangkan penambahan satu lokasi ziarah, yang akan disesuaikan dengan ketersediaan waktu dan situasi di lapangan:

Pilihan 1: Makam Maulana Syekh Maghribi di Ujungnegoro (dekat Pantai Sigandu Batang), atau

Pilihan 2: Makam Syekh Ki Pandanjati di Bantar Bolang, Pemalang (searah menuju Mbah Nur Moga).

II. PENDANAAN DAN KONTRIBUSI PESERTA

Untuk menunjang kelancaran akomodasi dan transportasi, setiap peserta diwajibkan memberikan kontribusi biaya.

Biaya Kontribusi: Rp 120.000,00 (Seratus Dua Puluh Ribu Rupiah) per orang.

Mekanisme Pembayaran: Biaya dapat disetorkan melalui petugas koordinator keluarga masing-masing.

Konfirmasi Transfer: Bagi anggota yang membayar via transfer bank, diminta untuk segera mengirimkan bukti struk transfer kepada Bendahara untuk pendataan dan validasi. (Nomor rekening resmi akan segera dibagikan oleh Bendahara).

III. AGENDA TAMBAHAN: ZIARAH MAQBAROH KELUARGA (Pra-Acara)

Sebagai rangkaian acara, seluruh peserta dan Keluarga Besar Bani Wasan diimbau untuk bersama-sama melaksanakan ziarah ke makam leluhur sehari sebelum keberangkatan:

Tujuan Ziarah: Maqbaroh Mbah WASAN bin Caswad.

Waktu Pelaksanaan: Ahad, 22 Maret 2026, setelah waktu shalat Zuhur.

IV. KOORDINASI DAN EVALUASI LANJUTAN

Guna memastikan kesiapan maksimal seluruh panitia, Pengurus merencanakan Rapat Evaluasi dan Koordinasi lanjutan sebelum Hari-H. Rapat berikutnya diagendakan pada waktu antara bulan Ruwah atau bulan Puasa (Ramadhan).

Keputusan-keputusan ini bersifat final dan mengikat. Diharapkan partisipasi dan kerja sama seluruh anggota Keluarga Besar Bani Wasan dapat menjamin kesuksesan pelaksanaan agenda tahunan ini.

“Untuk Masyarakat Umum Juga Diperbolehkan Ikut”

Untuk Lebih Jelasnya Bisa Langsung Hub WhatsApp +62 823-2785-3901 – Bendahara.

Redaktur: Casroni

Wage: Rahasia “Samudra Senyap” yang Menyimpan Kekuatan Bumi (alam semesta).

WWW.DETIK-NASIONAL.COM II Sejak lama, weton pasaran Wage diselimuti aura misteri. Dikenal sebagai pribadi yang tenang, bahkan cenderung dingin, ia sering dianggap sulit dijangkau. Namun, di balik kesenyapan itu, tersimpan kekuatan karakter yang kokoh layaknya Ibu Pertiwi. Inilah sisi terdalam dari Weton Wage—sebuah samudra yang permukaannya tenang, namun dasarnya adalah pondasi spiritual yang kuat.

Kita akan menyingkap filosofi dan watak sejati dari pasaran Wage, sebuah pemahaman yang melampaui sekadar angka dan menyentuh inti terdalam keberadaan.

1. Landasan Primbon: Lakuning Bumi dan Neptu Terkecil

Dalam perhitungan Primbon Jawa, pasaran Wage seringkali menghasilkan nilai Neptu terkecil, seperti pada kasus Selasa Wage. Nilai ini adalah kunci utama untuk menyingkap watak.

Hak Jawab - DETIK Nasional

Suara Anda Penting bagi Kami

Di DETIK Nasional, akurasi adalah prioritas utama. Jika Anda merasa terdapat informasi yang kurang tepat atau merasa dirugikan oleh pemberitaan kami, jangan ragu untuk mengajukan Berita Sanggahan atau Hak Jawab.

Kami berkomitmen untuk mendengarkan dan mengoreksi demi informasi yang lebih berkualitas bagi masyarakat.

Elemen Nilai Neptu

Hari Selasa 3

Pasaran Wage 4

Total Neptu (Selasa Wage) 7

Neptu 7 adalah yang terkecil. Berbeda dengan weton ber-Neptu besar yang berwatak layaknya api atau air yang bergerak cepat, Neptu kecil berada di bawah naungan watak Lakuning Bumi (Berjalan seperti Bumi).

Intisari Karakter Lakuning Bumi:

Pondasi dan Pengayom: Watak ini menjadikan mereka pribadi yang sangat sabar, ikhlas, dan menerima (nrimo ing pandum). Mereka adalah tempat bersandar yang kokoh, berperan sebagai pondasi yang mengayomi keluarga atau lingkungan.

Anti-Konflik: Mereka sangat menghindari keramaian, pertengkaran, dan cenderung pendiam. Inilah yang sering menciptakan kesan tertutup, misterius, atau sulit ditebak.

Kemandirian Batin: Mereka menghargai ruang pribadi sebagai area untuk self-recharge. “Mlaku karo bayangane dhewe” (berjalan bersama bayangannya sendiri) adalah filosofi yang mengajarkan bahwa kemandirian batin adalah kebutuhan mutlak bagi Wage.

2. Misteri Kedalaman: Cakra Dasar dan Otonomi Diri

Hak Jawab - DETIK Nasional

Suara Anda Penting bagi Kami

Di DETIK Nasional, akurasi adalah prioritas utama. Jika Anda merasa terdapat informasi yang kurang tepat atau merasa dirugikan oleh pemberitaan kami, jangan ragu untuk mengajukan Berita Sanggahan atau Hak Jawab.

Kami berkomitmen untuk mendengarkan dan mengoreksi demi informasi yang lebih berkualitas bagi masyarakat.

Mengapa jiwa Wage terasa sulit dimiliki sepenuhnya? Jawabannya terletak pada koneksi energi mereka.

Cakra Dasar Muladhara: Pasaran Wage terhubung kuat dengan Cakra Dasar, pusat energi yang mengatur naluri, keberadaan diri, dan koneksi ke bumi (alam). Keterikatan pada pondasi batin ini membuat mereka sulit melebur dengan ego orang lain. Mereka mencintai, namun tidak akan pernah kehilangan esensi diri mereka demi siapapun.

Filosofi Kewagean: Wage melambangkan arah Utara dan juga filosofi Kembali kepada Diri Sendiri (Kasunyatan). Inilah batas tak terlihat yang mereka bangun, bukan untuk menolak, melainkan untuk mempertahankan otonomi batin yang mutlak.

3. Anugerah dan Beban: Titen Batin (Wasesa Segara)

Weton Wage sering dikaitkan dengan istilah Wasesa Segara (Samudra Kekayaan Batin) dan memiliki Titen Batin (kepekaan batin) yang tinggi.

Spesialis Resonansi: Kepekaan Wage bukan sekadar soal hal gaib, melainkan resonansi energi dan emosi. Mereka adalah “penyerap” (absorber) niat dan emosi tersembunyi di sekitar mereka. Mereka adalah spesialis “rasa” yang bisa mendeteksi kepalsuan atau kebohongan.

Pedang Bermata Dua: Kepekaan ini adalah beban yang serius. Wage sangat rentan terhadap stres atau kecemasan karena tanpa sadar mereka “membawa pulang” energi negatif dari lingkungan yang penuh konflik atau kepalsuan. Mereka mudah lelah secara batin karena terus-menerus menyaring energi.

4. Komitmen Senyap dalam Asmara

Bagi pasangan hidup Wage, memahami sifat “samudra senyap” ini sangatlah krusial.

Tantangan Ruang: Mereka tidak suka diikat atau diatur secara berlebihan. Pasangannya mungkin merasa Wage tidak sepenuhnya hadir, padahal Wage sedang menyeimbangkan kebutuhan ruang pribadinya. Mencoba memiliki Wage sepenuhnya justru akan mendorong mereka menjauh.

Kesetiaan Pondasi (Janji Batin): Keistimewaan luar biasa dari Wage adalah kesetiaan mereka yang berbasis pondasi. Komitmen bagi mereka adalah sumpah batin yang sangat dijaga. Mereka adalah tipe yang: “Tidak banyak berkata cinta, tapi setiap tindakan adalah bukti dari janji sehidup semati.”

Cinta Wage ibarat api yang membara di dalam tungku: tersembunyi, senyap, namun mampu menghangatkan seluruh rumah, dan jauh lebih bertahan lama daripada api unggun yang terlihat besar namun cepat padam.

Penutup: Kekuatan Sejati Wage

Di tengah hiruk pikuk kehidupan modern, Weton Wage adalah pengingat filosofis yang penting: Kekuatan terbesar bukanlah seberapa besar kita terhubung dengan dunia luar, melainkan seberapa kokoh kita berdiri dalam diri sendiri.

Misteri Wage bukanlah sesuatu yang harus dipecahkan, melainkan sesuatu yang harus diterima dan dihargai, karena di dalam kesenyapan mereka, tersimpan kedalaman dan kesetiaan yang tak tertandingi.

Artikel: Cs
10 Desember 2025

Yogyakarta, DN-II Kabar optimisme menyelimuti upaya pemberantasan korupsi di Indonesia setelah adanya laporan mengenai perbaikan signifikan dalam Indeks Internasional terkait tata kelola dan integritas. Perbaikan ini disampaikan oleh Prof. Dr. KH. Nasaruddin Umar, MA, bersamaan dengan seruan mendalam bagi seluruh bangsa untuk melakukan introspeksi moral dan pencegahan korupsi, terutama di tengah duka cita atas bencana alam yang melanda. (9/12/2025).

Kenaikan Skor Integritas: Sinyal Positif Pemberantasan Korupsi

Dalam sebuah laporan yang disampaikan di Yogyakarta pada Selasa, 9 Desember 2025, Prof. Dr. KH. Nasaruddin Umar, Imam Besar Masjid Istiqlal dan Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, menyoroti adanya kecenderungan positif pada peringkat integritas Indonesia di kancah internasional.

Beliau menyebutkan adanya kenaikan skor yang signifikan bagi Indonesia, yang diinterpretasikan sebagai perbaikan integritas dalam waktu singkat.

“Ada perbaikan skor kita, dari 37 menjadi 34, Bapak, ya,” ujar Prof. Nasaruddin. “Ini ada kecenderungan perbaikan dan ini sangat signifikan. Perbaikan dalam Indeks Internasional ini menandakan upaya pemberantasan korupsi mulai menunjukkan hasil.”

Hak Jawab - DETIK Nasional

Suara Anda Penting bagi Kami

Di DETIK Nasional, akurasi adalah prioritas utama. Jika Anda merasa terdapat informasi yang kurang tepat atau merasa dirugikan oleh pemberitaan kami, jangan ragu untuk mengajukan Berita Sanggahan atau Hak Jawab.

Kami berkomitmen untuk mendengarkan dan mengoreksi demi informasi yang lebih berkualitas bagi masyarakat.

Perbaikan ini disambut dengan optimisme dan diharapkan menjadi momentum untuk menguatkan fondasi moral bangsa.

“Apalagi nanti kalau kita sudah melakukan proses pembudayaan nilai-nilai luhur bangsa kita, maka insya Allah, kita akan menganggap korupsi itu adalah sesuatu yang akan hilang di bumi nusantara ini,” tegas beliau.

Duka Mendalam dan Seruan Introspeksi Pasca Bencana

Di tengah kabar baik mengenai integritas, fokus juga diberikan kepada korban bencana alam yang baru-baru ini melanda Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. Prof. Nasaruddin menyampaikan belasungkawa mendalam dan mendoakan para korban yang meninggal dunia.

Beliau menyampaikan harapan agar para korban bencana alam, sesuai dengan ajaran agama, dapat dikategorikan sebagai syahid atau gugur dalam keadaan mulia.

“Kita ucapkan sekali lagi ucapan keprihatinan kita terhadap para korban. Semoga mereka itu syahid, mati syahid,” ucap beliau.

Mengutip Hadis Nabi, beliau mengingatkan bahwa meninggal karena musibah alam, seperti gempa, termasuk dalam salah satu kategori syuhada (orang-orang yang mati syahid) di luar medan perang. Secara umum, kategori ini mencakup mereka yang meninggal karena penyakit menular, penyakit menahun, ibu yang meninggal saat melahirkan, dan mereka yang tertimpa musibah (seperti bencana alam).

Menghubungkan Musibah dengan Pelanggaran Moral

Lebih dari sekadar belasungkawa, peristiwa bencana ini dijadikan momen penting untuk menyerukan kesadaran spiritual dan pencegahan moral kolektif. Prof. Nasaruddin menyampaikan kekhawatiran bahwa musibah bisa menjadi pemicu yang berhubungan dengan banyaknya pelanggaran moral dan agama.

“Semoga peristiwa ini menyadarkan kita betapa mirisnya di bumi ini. Jangan sampai nanti musibah ini menjadi faktor pemicu yang terjadi karena banyaknya pelanggaran-pelanggaran agama yang kita lakukan,” harap beliau.

Hak Jawab - DETIK Nasional

Suara Anda Penting bagi Kami

Di DETIK Nasional, akurasi adalah prioritas utama. Jika Anda merasa terdapat informasi yang kurang tepat atau merasa dirugikan oleh pemberitaan kami, jangan ragu untuk mengajukan Berita Sanggahan atau Hak Jawab.

Kami berkomitmen untuk mendengarkan dan mengoreksi demi informasi yang lebih berkualitas bagi masyarakat.

Secara spesifik, beliau berharap musibah yang dialami Indonesia dapat menjadi rem kolektif terhadap nafsu-nafsu koruptif yang merugikan bangsa.

“Semoga kejadian-kejadian di Indonesia ini mengerem nafsu-nafsu liar kita untuk mengambil yang bukan hak kita,” tutup beliau, menekankan pentingnya kejujuran dan integritas dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Penutup Lintas Agama:

Pidato tersebut diakhiri dengan doa dan harapan keberkahan yang mencerminkan semangat toleransi dan persatuan lintas agama:

Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Om Shanti Shanti Shanti Om. Namo Buddhaya, Salam Kebajikan.

Red/Teguh

Mahalnya Harga Sebuah Kebohongan: Mengapa Manipulasi Informasi Pasti Runtuh

Oleh: Redaksi DN-II

Nasional, DN-II Di era di mana informasi bergerak lebih cepat dari logika, masyarakat modern kian terjebak dalam labirin klaim yang saling tumpang tindih. Namun, di tengah riuh rendahnya hoaks dan manipulasi, sebuah prinsip purba tetap berdiri kokoh: Kebenaran adalah pelari maraton yang tidak akan pernah kehabisan napas. (8/12/2025).

Berikut adalah bedah urgensi integritas di tengah gempuran badai disinformasi:

1. Waktu sebagai Auditor Alam yang Independen

Hak Jawab - DETIK Nasional

Suara Anda Penting bagi Kami

Di DETIK Nasional, akurasi adalah prioritas utama. Jika Anda merasa terdapat informasi yang kurang tepat atau merasa dirugikan oleh pemberitaan kami, jangan ragu untuk mengajukan Berita Sanggahan atau Hak Jawab.

Kami berkomitmen untuk mendengarkan dan mengoreksi demi informasi yang lebih berkualitas bagi masyarakat.

Banyak pihak mencoba memanipulasi fakta demi keuntungan elektoral maupun material sesaat. Namun, sejarah selalu membuktikan bahwa waktu adalah hakim yang paling adil. Kepalsuan mungkin bisa menempati barisan terdepan hari ini, namun ia dibangun di atas fondasi pasir yang rapuh.

Hukum Alam: Sesuatu yang palsu akan selalu dianggap sebagai “benda asing” dalam narasi kehidupan.

Ketangguhan: Kebenaran tidak butuh dibela dengan kebohongan baru; ia hanya butuh ketabahan untuk menanti saatnya menampakkan diri secara utuh.

2. Jejak Digital: Pedang Bermata Dua bagi Kejujuran

Digitalisasi telah mengubah lanskap kejujuran secara radikal. Saat ini, integritas bukan lagi sekadar domain moralitas, melainkan aset ekonomi dan sosial yang sangat bernilai. Setiap pernyataan meninggalkan rekam jejak yang abadi dan tak terhapuskan.

“Reputasi yang dibangun selama puluhan tahun bisa runtuh dalam hitungan detik ketika satu kebohongan terendus oleh audit jejak digital.”

Masyarakat kini kian piawai dalam melakukan uji silang (cross-check). Sekali kepercayaan publik retak akibat manipulasi informasi, kredibilitas pribadi maupun institusi akan sulit dikembalikan ke bentuk semula.

3. Biaya Psikologis di Balik Kepalsuan

Menjaga narasi bohong adalah pekerjaan yang melelahkan secara mental. Dalam psikologi komunikasi, hal ini dikenal sebagai Beban Kognitif Tinggi (High Cognitive Load).

Beban Mental: Ketakutan konstan akan terbongkarnya rahasia memicu stres kronis bagi sang penyebar disinformasi.

Hak Jawab - DETIK Nasional

Suara Anda Penting bagi Kami

Di DETIK Nasional, akurasi adalah prioritas utama. Jika Anda merasa terdapat informasi yang kurang tepat atau merasa dirugikan oleh pemberitaan kami, jangan ragu untuk mengajukan Berita Sanggahan atau Hak Jawab.

Kami berkomitmen untuk mendengarkan dan mengoreksi demi informasi yang lebih berkualitas bagi masyarakat.

Kemerdekaan Batin: Memilih untuk jujur—meski pahit—adalah bentuk kemerdekaan batin. Ketenangan pikiran adalah kemewahan yang tidak bisa dibeli dengan hasil manipulasi data apa pun.

4. Menjadi Konsumen Informasi yang Etis

Kita semua memiliki tanggung jawab kolektif untuk berhenti menjadi “bahan bakar” penyebaran hoaks. Sebelum menekan tombol share, setiap individu perlu menggunakan filter Tiga Pertanyaan Fundamental:

Parameter Pertanyaan Kritis Tujuan

Faktual Apakah ini benar? Memverifikasi bukti valid dan sumber kredibel.

Utilitas Apakah ini bermanfaat? Memastikan informasi membangun, bukan merusak.

Etika Apakah ini adil? Menghindari narasi yang menyudutkan sepihak.

Kebenaran mungkin tidak selalu menjadi yang pertama sampai di garis finis, namun ia adalah satu-satunya yang akan tetap berdiri tegak saat seluruh bangunan kepalsuan runtuh. Menjaga integritas di tengah badai informasi bukan sekadar pilihan moral, melainkan investasi terbaik untuk menyelamatkan peradaban dari kegelapan intelektual.

Cahaya kebenaran akan selalu menemukan celah untuk menembus kegelapan yang paling pekat sekalipun. Saatnya kita berdiri di sisi yang benar.

Bagaimana menurut Anda? Apakah Anda memiliki pengalaman di mana kebenaran terungkap secara tak terduga di tengah kepungan hoaks? Bagikan perspektif Anda di kolom komentar untuk memperkuat gerakan literasi informasi nasional.

Berita Opini :
Oleh Casroni

Jakarta, DN-II Presiden Prabowo Bertolak ke Daerah Terdampak Bencana untuk Kedua Kalinya, Pastikan Penanganan Berjalan Cepat

Presiden Prabowo Subianto kembali meninjau secara langsung penanganan bencana yang melanda sejumlah wilayah di Aceh, Minggu (07/12/2025).

Presiden bertolak dari Pangkalan TNI AU Halim Perdanakusuma, Jakarta menuju Bandara Internasional Sultan Iskandar Muda, Kabupaten Aceh Besar sekitar pukul 07.55 WIB.

Setibanya di Aceh, Kepala Negara diagendakan meninjau titik yang mengalami kerusakan dan dampak signifikan akibat banjir, sekaligus menerima laporan terbaru dari pemerintah daerah dan instansi terkait.

Kunjungan ini dilakukan Kepala Negara untuk memastikan percepatan penanganan darurat serta pemulihan di daerah terdampak. Presiden juga akan memantau distribusi bantuan, proses evakuasi warga, serta langkah-langkah pembukaan akses jalan.

Hak Jawab - DETIK Nasional

Suara Anda Penting bagi Kami

Di DETIK Nasional, akurasi adalah prioritas utama. Jika Anda merasa terdapat informasi yang kurang tepat atau merasa dirugikan oleh pemberitaan kami, jangan ragu untuk mengajukan Berita Sanggahan atau Hak Jawab.

Kami berkomitmen untuk mendengarkan dan mengoreksi demi informasi yang lebih berkualitas bagi masyarakat.

Pemerintah menegaskan bahwa penanganan banjir di Aceh menjadi prioritas nasional dan seluruh sumber daya dikerahkan untuk mempercepat pemulihan kondisi masyarakat.

Red

Sumber: BPMI Setpres

#KemensetnegRI
#RilisPresiden

Integritas Adalah Mata Uang Termahal: Menolak Godaan Jalan Pintas Finansial

Oleh: Casroni

Minggu, 7 Desember 2025

WWW.DETIK-NASIONAL.COM II Mencari nafkah bukan sekadar urusan perut atau angka di rekening bank; ia adalah ujian moralitas tertinggi bagi seorang manusia. Di tengah kepungan inflasi dan persaingan hidup yang kian sengit, godaan untuk menempuh “jalan pintas” semakin nyata di depan mata. Kita tidak lagi hanya bicara soal kecurangan kecil, melainkan praktik sistematis yang menghalalkan penipuan, sabotase, hingga kezaliman demi akumulasi aset secara instan.

Masyarakat kita hari ini disuguhi tontonan ironis: individu-individu yang menukar kehormatan diri dengan kekayaan semu. Namun, sebuah pertanyaan eksistensial muncul: apakah rezeki instan itu benar-benar sebuah keuntungan, atau justru investasi jangka panjang menuju kehancuran total?

Hak Jawab - DETIK Nasional

Suara Anda Penting bagi Kami

Di DETIK Nasional, akurasi adalah prioritas utama. Jika Anda merasa terdapat informasi yang kurang tepat atau merasa dirugikan oleh pemberitaan kami, jangan ragu untuk mengajukan Berita Sanggahan atau Hak Jawab.

Kami berkomitmen untuk mendengarkan dan mengoreksi demi informasi yang lebih berkualitas bagi masyarakat.

Ilusi “Kekayaan Beracun” dan Kontrak Kehancuran

Tindakan culas dalam mencari materi sejatinya adalah penandatanganan kontrak dengan kegagalan masa depan. Kekayaan yang diperoleh dari ketidakjujuran ibarat meminum air laut untuk menghapus dahaga: semakin diminum, semakin haus, dan perlahan membunuh dari dalam.

Dalam spektrum etika universal, rezeki yang didapat secara haram membawa konsekuensi yang tak terelakkan, yakni “Penyakit Sebab-Akibat”. Kekayaan yang dibangun di atas penderitaan orang lain tidak akan pernah melahirkan keberkahan. Alih-alih membawa kebahagiaan, ia justru mewujud menjadi musibah berselimut kemewahan dalam beberapa bentuk nyata:

Beban Kecemasan (The Anxiety Burden): Kekayaan haram adalah penjara berlapis emas. Pelakunya dihantui ketakutan akan terbongkar, ketidaktenangan batin, dan hilangnya tidur nyenyak—sebuah ongkos mental yang sangat mahal.

Erosi Hubungan Primer: Keberkahan yang hilang sering kali memanifestasikan diri dalam keretakan rumah tangga dan hilangnya kepercayaan dari orang terdekat. Harta tersebut menjadi bumerang yang menghancurkan keluarga yang sejatinya ingin dinafkahi.

Magnet Masalah: Harta yang tidak stabil akan menjadi magnet bagi sengketa hukum dan konflik internal. Ia menawarkan ketenangan palsu yang rapuh, bukan kedamaian jiwa yang abadi.

Integritas Sebagai Fondasi Kemakmuran Sejati

Sebaliknya, ada jalan mulia yang terbukti secara empiris dan spiritual mampu membawa kemakmuran yang lestari. Integritas bukanlah sekadar aksesori moral, melainkan modal struktural yang menopang nilai jual manusia di mata pasar dan komunitas.

Berikut adalah pilar-pilar integritas yang menjadi mesin pertumbuhan jangka panjang (sustainable growth):

Kejujuran sebagai Social Capital: Modal sosial yang membuka pintu peluang tanpa batas. Kepercayaan adalah mata uang yang tidak bisa dipalsukan.

Hak Jawab - DETIK Nasional

Suara Anda Penting bagi Kami

Di DETIK Nasional, akurasi adalah prioritas utama. Jika Anda merasa terdapat informasi yang kurang tepat atau merasa dirugikan oleh pemberitaan kami, jangan ragu untuk mengajukan Berita Sanggahan atau Hak Jawab.

Kami berkomitmen untuk mendengarkan dan mengoreksi demi informasi yang lebih berkualitas bagi masyarakat.

Ketulusan Mental: Membebaskan energi batin dari beban dengki dan pamrih, sehingga fokus sepenuhnya tertuju pada produktivitas dan inovasi.

Kesabaran Strategis: Menjamin langkah karier yang stabil dan terukur, memastikan keberhasilan yang tidak mudah goyah oleh badai krisis.

Kontribusi Positif: Memastikan keberadaan kita menjadi aset bagi masyarakat, bukan liabilitas yang membebani lingkungan sekitar.

Dengan mengedepankan pilar-pilar ini, seseorang sedang membangun “Rezeki Abadi”. Meski didapat secara bertahap, ia datang dengan paket lengkap: ketenangan, penghormatan, dan keberkahan yang tak ternilai harganya.

Kesimpulan: Sebuah Pilihan Eksistensial

Jalan pintas hanyalah fatamorgana yang menjanjikan kemudahan, namun berakhir pada penjara kehampaan. Sebaliknya, pilar integritas menjanjikan kehidupan yang kaya tanpa perlu bersembunyi.

Pilihan kini ada di tangan kita, terutama bagi generasi muda yang tengah merintis mimpi: ingin menjadi kaya yang tenang dan terhormat, atau kaya namun tercekik oleh konsekuensi perbuatan sendiri? Integritas mungkin tampak mahal di awal, namun ia adalah investasi yang paling menguntungkan di akhir. Karena pada akhirnya, kekayaan sejati adalah kemampuan untuk menatap cermin dengan rasa bangga, bukan dengan rasa malu.

Opini: 7 Desember 2025.
Penulis
Oleh: Casroni

Sekjen Liga Muslim Dunia, Syaikh Al-Issa, sebut Indonesia di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo memiliki pengaruh kuat di dunia Islam dan global, serta diharapkan menjadi wajah utama perjuangan perdamaian.

Jakarta, DN-II Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto menerima kunjungan kehormatan Sekretaris Jenderal Liga Muslim Dunia (Muslim World League atau MWL), Syaikh Dr. Muhammad Abdul Karim Al-Issa, di Istana Merdeka, Jakarta, pada hari Kamis, 4 Desember 2025. Pertemuan ini menegaskan semakin eratnya hubungan strategis antara Indonesia dan MWL.

Indonesia Diharapkan Menjadi Wajah Utama Perdamaian

Dalam pertemuan tersebut, Syaikh Al-Issa menyampaikan penilaiannya yang tinggi terhadap Indonesia. Ia menyebut bahwa Indonesia di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo memiliki pengaruh yang sangat kuat, baik di dunia Islam maupun pada tataran global.

Lebih lanjut, Syaikh Al-Issa secara khusus menyatakan harapannya agar Indonesia, dengan peran kepemimpinan Presiden Prabowo, dapat menjadi wajah utama dunia Islam dalam upaya kolektif untuk memperjuangkan perdamaian dan mempromosikan nilai-nilai toleransi.

Hak Jawab - DETIK Nasional

Suara Anda Penting bagi Kami

Di DETIK Nasional, akurasi adalah prioritas utama. Jika Anda merasa terdapat informasi yang kurang tepat atau merasa dirugikan oleh pemberitaan kami, jangan ragu untuk mengajukan Berita Sanggahan atau Hak Jawab.

Kami berkomitmen untuk mendengarkan dan mengoreksi demi informasi yang lebih berkualitas bagi masyarakat.

“Mereka berharap Presiden Prabowo membawa pesan-pesan perdamaian, membawa semangat persatuan di dunia Islam,” kata Wakil Menteri Haji dan Umrah Dahnil Anzar Simanjuntak usai pertemuan.

Apresiasi Dukungan Pembangunan Kampung Haji

Presiden Prabowo menyambut baik pandangan dan harapan dari Sekjen MWL. Presiden juga menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada Liga Muslim Dunia, serta Pemerintah Arab Saudi, atas dukungan konkret terhadap rencana pembangunan Kampung Haji Indonesia di Arab Saudi.

Pembangunan Kampung Haji ini merupakan inisiatif strategis pemerintah Indonesia yang bertujuan untuk meningkatkan secara signifikan pelayanan dan fasilitas bagi jemaah haji dan umrah Indonesia di Tanah Suci.

Komitmen Kuat Prabowo untuk Umat

Secara keseluruhan, pertemuan antara Presiden Prabowo dan Syaikh Al-Issa menggarisbawahi semakin kuatnya hubungan antara Indonesia dengan organisasi Islam global terkemuka tersebut. Selain itu, pertemuan ini menjadi penegasan kembali komitmen Presiden Prabowo dalam memperjuangkan perdamaian global dan peningkatan pelayanan umat, khususnya jemaah haji Indonesia.

Dukungan MWL juga disampaikan terkait rencana pembangunan Museum Nabi di Indonesia, yang didedikasikan untuk masyarakat muslim di Tanah Air.

Red

Morowali, DN-II Wakil Menteri Dalam Negeri (Wamendagri) Akhmad Wiyagus mendorong Kabupaten Morowali untuk memperkuat inklusivitas pembangunan, tata kelola pemerintahan yang bersih, serta keberlanjutan lingkungan di tengah pesatnya pertumbuhan ekonomi daerah tersebut. Pesan itu disampaikan Wiyagus saat menghadiri Upacara Hari Ulang Tahun (HUT) ke-26 Kabupaten Morowali di Alun-Alun Rumah Jabatan Bupati Morowali, Sulawesi Tengah (Sulteng), Jumat (5/12/2025).

“Kita dapat hadir bersama-sama di bumi ‘Tepe Asa Moroso’ untuk memperingati momen bersejarah hari ulang tahun Kabupaten Morowali yang ke-26, yang mengusung tema ‘Morowali Tangguh, Morowali Juara’,” katanya.

Wiyagus mengatakan bahwa usia 26 tahun merupakan fase yang cukup matang bagi sebuah daerah otonom. Menengok perjalanan pembentukan Kabupaten Morowali mengingatkan pada semangat ketekunan dan pengorbanan para pendahulu yang telah meletakkan fondasi bagi kemajuan daerah tersebut.

Ia menuturkan, Morowali yang dulu dianggap sulit dijangkau kini menjelma menjadi episentrum gravitasi ekonomi, bukan hanya di Sulawesi, tetapi juga di Indonesia, bahkan dunia. Kekayaan alam berupa nikel menjadikan Morowali pemain kunci dalam rantai pasok global industri baterai dan kendaraan listrik. “Ini adalah sejarah besar yang sedang kita bangun bersama,” tegasnya.

Wiyagus juga mengapresiasi berbagai keberhasilan yang telah dicapai Kabupaten Morowali. Data menunjukkan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) per kapita dan pertumbuhan ekonomi Morowali termasuk yang tertinggi di Sulteng, mencerminkan besarnya perputaran ekonomi daerah.

Hak Jawab - DETIK Nasional

Suara Anda Penting bagi Kami

Di DETIK Nasional, akurasi adalah prioritas utama. Jika Anda merasa terdapat informasi yang kurang tepat atau merasa dirugikan oleh pemberitaan kami, jangan ragu untuk mengajukan Berita Sanggahan atau Hak Jawab.

Kami berkomitmen untuk mendengarkan dan mengoreksi demi informasi yang lebih berkualitas bagi masyarakat.

“Selanjutnya, kualitas manusia Morowali pun terus membaik. Indeks Pembangunan Manusia, IPM kita tahun 2024 berada di angka 74,36 masuk kategori tinggi dan merupakan yang tertinggi kedua di Sulawesi Tengah setelah Kota Palu,” ungkapnya.

Namun demikian, Wiyagus mengingatkan bahwa tantangan terbesar adalah memastikan pertumbuhan ekonomi yang tinggi dapat inklusif dan memberikan efek menetes ke bawah (trickle down effect). Selain itu, isu lingkungan hidup harus mendapat perhatian serius. Hilirisasi nikel merupakan prioritas nasional, namun pelaksanaannya harus berkelanjutan dan memperhatikan kaidah lingkungan.

Tantangan berikutnya adalah kebutuhan sumber daya manusia (SDM) terampil untuk mendukung investasi teknologi tinggi. Karena itu, isu pengangguran lokal harus diatasi melalui pelatihan vokasi yang link and match dengan kebutuhan industri.

“Kepada seluruh jajaran Pemerintah Kabupaten Morowali dan masyarakat Morowali [saya apresiasi] atas kerja kerasnya dalam membangun daerah ini menjadi salah satu pilar ekonomi nasional,” tambahnya.

Pada momentum HUT ke-26, mewakili pemerintah pusat, Wiyagus menyampaikan sejumlah arahan kebijakan. Pertama, fokus pada penurunan kemiskinan ekstrem secara stabil. Kedua, memperkuat tata kelola pemerintahan yang bersih dan terdigitalisasi melalui penerapan Sistem Pemerintahan Berbasis Elektronik (SPBE) serta menutup celah korupsi. Ketiga, menjaga kondusivitas wilayah sebagai objek vital nasional karena stabilitas keamanan adalah kunci investasi.

Keempat, memperkuat sinergi pusat dan daerah yang tegak lurus pada kebijakan nasional, termasuk hilirisasi dan penataan ruang. Kelima, memastikan penegakan tata ruang yang tegas, menghentikan alih fungsi lahan yang melanggar aturan, dan menjamin industri berjalan sesuai standar lingkungan. Keenam, memperkuat sektor non-tambang agar pendapatan daerah juga diarahkan untuk merevitalisasi sektor pertanian dan pariwisata.

“Semoga Morowali semakin maju, sejahtera, dan menjadi daerah yang baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur. Teruslah berkarya untuk bangsa dan negara. Dirgahayu Kabupaten Morowali,” pungkasnya.

Acara ini turut dihadiri oleh Gubernur Sulteng Anwar Hafid, Bupati Morowali Iksan Baharudin Abdul Rauf, Wakil Bupati Morowali Iriane Iliyas, Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) Provinsi Sulteng, tokoh masyarakat, tokoh adat, serta tokoh perempuan dan pemuda Sulteng.

Red

You cannot copy content of this page