PASAMAN BARAT, DN-II Polemik kepemimpinan Kerapatan Adat Nagari (KAN) Lingkuang Aua akhirnya menemui titik terang. Ketua Harian Lembaga Kerapatan Adat Alam Minangkabau (LKAAM), Khaidir Dt. St. Kabasaran, secara tegas menyatakan bahwa ketua KAN yang sah hanyalah Uyun Dt. Manindiang Alam, dan tidak ada serta tidak diakui ketua KAN lainnya.
Penegasan tersebut disampaikan Khaidir Dt. St. Kabasaran dalam pernyataan terbukanya yang merujuk langsung pada ketentuan adat, Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (AD/ART) KAN, serta peraturan daerah yang mengatur eksistensi Kerapatan Adat Nagari.
“Dalam adat Minangkabau tidak dikenal kepemimpinan ganda. Ketua KAN yang sah hanya satu, dan itu adalah Uyun Dt. Manindiang Alam. Klaim-klaim lain di luar itu tidak memiliki dasar adat,” tegas Kabasaran.
Menutup Ruang Dualisme KAN
Pernyataan Ketua Harian LKAAM ini sekaligus mematahkan seluruh spekulasi dan klaim tandingan yang selama ini berkembang di tengah masyarakat. Menurutnya, dualisme kepemimpinan KAN merupakan pelanggaran serius terhadap tatanan adat, karena bertentangan dengan prinsip musyawarah ninik mamak dan aturan tertulis yang berlaku.
Suara Anda Penting bagi Kami
Di DETIK Nasional, akurasi adalah prioritas utama. Jika Anda merasa terdapat informasi yang kurang tepat atau merasa dirugikan oleh pemberitaan kami, jangan ragu untuk mengajukan Berita Sanggahan atau Hak Jawab.
Kami berkomitmen untuk mendengarkan dan mengoreksi demi informasi yang lebih berkualitas bagi masyarakat.
Ia menegaskan bahwa KAN adalah lembaga adat tertinggi di nagari, sehingga keberadaan lebih dari satu ketua tidak hanya cacat adat, tetapi juga berpotensi menimbulkan konflik horizontal antar kaum dan suku.
Selaras dengan AD/ART dan Perda
Penetapan Uyun Dt. Manindiang Alam sebagai Ketua KAN yang sah dinilai selaras dengan AD/ART KAN Lingkuang Aua, Perda Provinsi Sumatera Barat Nomor 13 Tahun 1983, serta Perda Kabupaten Pasaman Barat yang mengatur Kerapatan Adat Nagari.
Dalam AD/ART KAN secara tegas disebutkan bahwa identitas ninik mamak dan kepengurusan KAN tidak boleh ganda, serta setiap pelanggaran terhadap ketentuan tersebut dapat dikenakan sanksi adat.
“Adat itu jelas, tidak abu-abu. Kalau sudah diputuskan secara adat dan sesuai aturan, maka seluruh anak kemenakan wajib tunduk,” ujar Khaidir menambahkan.
Seruan Kepatuhan Adat
Ketua Harian LKAAM juga menyerukan kepada seluruh ninik mamak, penghulu suku, serta masyarakat Nagari Lingkuang Aua agar menghentikan polemik dan menghormati keputusan adat.
Menurutnya, memperpanjang konflik hanya akan merusak marwah adat dan menggerus kepercayaan publik terhadap lembaga adat itu sendiri.
“Adat bukan alat kepentingan. Adat adalah pemersatu,” tegasnya.
Dengan pernyataan ini, LKAAM secara institusional menegaskan hanya satu kepemimpinan KAN yang sah, sekaligus menutup ruang bagi pihak-pihak yang mencoba mengklaim jabatan Ketua KAN tanpa dasar adat dan hukum yang jelas.
Suara Anda Penting bagi Kami
Di DETIK Nasional, akurasi adalah prioritas utama. Jika Anda merasa terdapat informasi yang kurang tepat atau merasa dirugikan oleh pemberitaan kami, jangan ragu untuk mengajukan Berita Sanggahan atau Hak Jawab.
Kami berkomitmen untuk mendengarkan dan mengoreksi demi informasi yang lebih berkualitas bagi masyarakat.
“Saciok bak ayam, sadanciang bak basi.
Ketua satu, adat satu.”
Hingga berita ini diterbitkan, tidak terdapat bantahan resmi terhadap pernyataan Ketua Harian LKAAM tersebut.
(red)
TEGAL, DN-II Kepedulian dan pelayanan humanis kembali ditunjukkan jajaran Polsek Slawi Polres Tegal dengan membantu penjemputan dan penyerahan seorang warga yang tersesat di kawasan Objek PAI Tegal Kota, Rabu (14/1/2026).
Warga tersebut diketahui bernama Darso (72), warga Desa Paketiban RT 02 RW 01, Kecamatan Pangkah, Kabupaten Tegal. Penanganan dilakukan oleh petugas piket Polsek Slawi setelah menerima laporan dari masyarakat yang meminta bantuan Kepolisian.
Meskipun secara wilayah administratif Desa Paketiban masuk wilayah Kecamatan Pangkah, jajaran Polsek Slawi tetap merespons laporan tersebut karena diterima oleh Polsek Slawi. Langkah ini merupakan wujud komitmen Polri dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat tanpa membedakan batas wilayah.
Penjemputan dan pendampingan dilakukan oleh Aiptu Budi, selaku Bhabinkamtibmas Kelurahan Procot, bersama Aiptu A. Cholik, Kanit Samapta Polsek Slawi. Petugas memastikan warga dalam kondisi aman sebelum diserahkan kepada pihak keluarga.
Kapolsek Slawi AKP Rushendro Cipto Harjono, S.H. menyampaikan bahwa pelayanan Kepolisian diberikan kepada seluruh masyarakat yang membutuhkan, tanpa melihat batas wilayah administratif. 
Suara Anda Penting bagi Kami
Di DETIK Nasional, akurasi adalah prioritas utama. Jika Anda merasa terdapat informasi yang kurang tepat atau merasa dirugikan oleh pemberitaan kami, jangan ragu untuk mengajukan Berita Sanggahan atau Hak Jawab.
Kami berkomitmen untuk mendengarkan dan mengoreksi demi informasi yang lebih berkualitas bagi masyarakat.
“Kami siap memberikan pelayanan kepada masyarakat yang membutuhkan bantuan. Selama laporan diterima, anggota akan segera merespons dan mengedepankan pendekatan humanis,” ujar AKP Rushendro Cipto Harjono.
Sementara itu, Kapolres Tegal AKBP Bayu Prasetyo, S.H., S.I.K., M.H. melalui jajaran menegaskan bahwa setiap laporan masyarakat akan ditindaklanjuti secara cepat dan profesional sebagai bagian dari pelayanan prima Polri.
Melalui kegiatan ini, Polres Tegal berharap kepercayaan masyarakat terhadap Polri semakin meningkat, serta tercipta situasi kamtibmas yang aman dan kondusif melalui pelayanan yang responsif dan berorientasi pada nilai kemanusiaan. ( Bim )
Jakarta, DN-II Presiden Prabowo Subianto hendaknya mengeluarkan Keppres yang ditujukan kepada orang kaya di Indonesia agar membantu pemerintah untuk menciptakan lapangan kerja baik dilingkungan usahanya maupun membuat terobosan lapangan pekerjaan agar tidak ada pengangguran di Indonesia yang selama ini ditanggung penuh pemerintah ,”Ujar Prof Dr KH Sutan Nasomal SH MH Pakar Hukum Internasional Ekonom Nasional memberikan stegmennya menjawab materi pertanyaan para pemimpin Redaksi Media Cetak Onlen dalam luar negeri di kantornya Markas Pusat Partai Oposisi Merdeka di Jakarta 14/1/2026
Bergeraknya ekonomi di semua pasar INDONESIA adalah dari minat belanjanya para orang kaya di Indonesia. Uang orang kaya yang bertumpuk direkeningnya tidak diberikan untuk di kembangkan menghidupkan ekonomi Masyarakat banyak di INDONESIA. Tidak mau para orang kaya ini uangnya di belanjakan di pasar Indonesia dan merasa tidak nyaman kekayaannya di berikan untuk menghidupkan pasar serta ekonomi INDONESIA. Ada apa hal ini seperti ini terus terjadi ?
Jangan uang para orang kaya di INDONESIA hanya di gunakan untuk berburu Dollar USA dan Emas atau investasi saham. Prof Sutan Nasomal menerima pertanyaan dari tim media bahwa para orang kaya pontang panting cari keuntungan yang banyak di INDONESIA, pagi pagi buta memborong Dollar USA atau emas dan ketika hartanya makin banyak tetapi selalu membelanjakan uangnya di luar negri. Sehingga tidak bermanfaat para orang kaya dari harta kekayaannya dan tidak berdampak menggerakkan ekonomi di INDONESIA. Para orang kaya ini dari kecil berniaga dan cari makan di INDONESIA tetapi setelah menjadi milyuner mereka hanya memikirkan perutnya sendiri atau menumpuk kekayaannya dan tidak bermanfaat untuk Masyarakat dan Negara Indonesia.
Presiden RI Jendral Haji Prabowo Subianto dan Negara Indonesia tidak boleh kalah dalam strategi. Maka perlu di siapkan para orang kaya ini bisa memiliki kamar khusus agar uangnya bisa dibelanjakan di INDONESIA. Jangan biarkan para orang kaya ini kabur dan masuk kamar di luar negri dan membelanjakan uangnya yang banyak di luar negri.
Para mentri di bawah Presiden RI harus bekerja keras agar para orang kaya ini tidak kabur keluar negri karena melihat tidak ada kamar khusus untuk para orang kaya menjalankan usahanya di INDONESIA. Bila para orang kaya di INDONESIA tidak merasa aman dan nyaman membelanjakan uangnya di INDONESIA maka para mentri harus menyiapkan strategi.
Suara Anda Penting bagi Kami
Di DETIK Nasional, akurasi adalah prioritas utama. Jika Anda merasa terdapat informasi yang kurang tepat atau merasa dirugikan oleh pemberitaan kami, jangan ragu untuk mengajukan Berita Sanggahan atau Hak Jawab.
Kami berkomitmen untuk mendengarkan dan mengoreksi demi informasi yang lebih berkualitas bagi masyarakat.
Prof Dr Sutan Nasomal SE,SH,MH menyampaikan kepada media bahwa Pemerintah harus melihat dua sisi. Sisi yang pertama permasalahan ekonomi saat ini. Nilai rupiah yang semakin rendah di mata uang Dollar USA sehingga beberapa harga barang terus naik harganya. Sangat memberatkan Masyarakat yang nilai penghasilannya semakin menurun dalam berbelanja.
Punya uang Rp 1 juta rupiah saat ini di tahun 2026 sama saja nilainya Rp 300.000 di tahun 2005. Bila di belanjakan untuk kebutuhan hidup. Nilainya besar Rp 1 juta di tahun 2026 tetapi mendapatkan barangnya tidak seberapa seperti Rp 300.000 di tahun 2005.
Bila para orang kaya tetap satu kamar bersama Negara INDONESIA membelanjakan kekayaannya maka putaran ekonomi akan kembali berangsur sehat. Jangan pemerintah hanya mampu memberikan hutang yang besar untuk para orang kaya bermodal tetapi penghasilannya di habiskan di luar negri. Ekonomi INDONESIA menjadi rusak. Seharusnya pemerintah ambil alih kekuatan jalur ekonomi untuk satu kamar dengan para pengusaha kaya yang di modalkan oleh Negara Indonesia.
Masyarakat tingkat menengah sudah tidak punya tabungan di INDONESIA serta banyak yang terlilit dengan hutang pinjol untuk bertahan bisa makan. Bahkan dari penghasilan Masyarakat tingkat menengah setiap bulan sudah tidak bisa membayar pinjol. Tidak mungkin Masyarakat harus kelaparan akibat penghasilan perbulannya tidak mencukupi.
Selama 11 tahun ini kenaikan harga harga kebutuhan pokok tidak sesuai dengan penghasilan perbulan pada Masyarakat. Nilai uang Rupiah semakin menyulitkan Masyarakat dalam berbelanja untuk kebutuhan sehari hari.
Hal ini menjadi beban berat yang memiskinkan Masyarakat luas.
Menurut Prof Dr Sutan Nasomal SE,SH,MH ini sudah memasuki super krisis bagi Masyarakat yang hanya bisa bertahan hidup sederhana. Makan sehari dua kali dengan mie instan dan nasi saja sudah bagus para keluarga rumah tangga akibat sulitnya mencari uang tetapi tidak lagi mampu membeli lauk pauk 4 sehat dan 5 sempurna. Apa iya pagi siang malam Masyarakat hanya makan mie instan dan nasi saja. Sudah tidak mampu Masyarakat mencari solusi untuk menopang hidup keluarganya.
Sedangkan para orang kaya di INDONESIA makin menumpuk kekayaannya dan memikirkan nasib Negara INDONESIA dan Masyarakat luas.
Narasumber : PROF DR SUTAN NASOMAL SE,SH,MH Pakar Hukum Internasional, Ekonom Nasional Presiden Partai Oposisi Merdeka Jenderal Kompii Pendiri/Pemimpin/ Pengasuh Ponpes ASS SAQWA PLUS. 
BREBES, DN-II Pemerintah Kecamatan Jatibarang memberikan klarifikasi resmi terkait mekanisme penyaluran Bantuan Sosial (Bansos) yang tengah menjadi sorotan publik. Klarifikasi ini merespons adanya laporan dugaan praktik “bagi dua” bantuan antara Keluarga Penerima Manfaat (KPM) dengan warga non-penerima. (14/1/2026).
Penyerahan Berdasarkan Administrasi Ketat
Camat Jatibarang Rade Andriana Younansyah, S.STP, M.Si, menegaskan bahwa proses distribusi di tingkat desa, termasuk di Desa Klikiran, telah berjalan sesuai aturan formal. Berdasarkan laporan Berita Acara (BA) dan pantauan Kasi Kesejahteraan Sosial (Kesos) di lapangan, bantuan dipastikan jatuh ke tangan yang tepat sesuai data KPM.
“Pihak desa telah menyerahkan bantuan kepada KPM yang terdaftar. Saat penyerahan di balai desa, petugas melakukan verifikasi identitas secara ketat dengan mewajibkan pemeriksaan KTP dan KK asli sebagai syarat mutlak,” ungkap Camat saat melakukan evaluasi Bansos.
Dilema Fenomena Sosial di Tingkat Warga
Suara Anda Penting bagi Kami
Di DETIK Nasional, akurasi adalah prioritas utama. Jika Anda merasa terdapat informasi yang kurang tepat atau merasa dirugikan oleh pemberitaan kami, jangan ragu untuk mengajukan Berita Sanggahan atau Hak Jawab.
Kami berkomitmen untuk mendengarkan dan mengoreksi demi informasi yang lebih berkualitas bagi masyarakat.
Mengenai kabar adanya bantuan yang dibagi dua setelah diterima, pihak kecamatan mengaku hal tersebut berada di luar pengawasan langsung petugas. Camat menjelaskan bahwa setelah bantuan diserahkan secara sah kepada KPM, penggunaan atau kesepakatan sosial di tingkat lingkungan merupakan keputusan personal penerima.
“Fokus kami adalah memastikan penyerahan di Balai Desa sesuai prosedur. Secara teknis, sulit bagi kami untuk memantau hingga ke rumah masing-masing guna memastikan apakah bantuan tersebut dibagi lagi kepada orang lain atau tidak,” tambahnya.
Instruksi Evaluasi ke 22 Desa
Meski isu ini mencuat di Desa Klikiran, Camat Jatibarang, Rade, ” telah menginstruksikan langkah preventif di seluruh wilayahnya. Ia memerintahkan Kasi Kesos, Heryadi, untuk melakukan monitoring ketat di 22 desa di Kecamatan Jatibarang ” .
Sebagai bahan evaluasi, pihak kecamatan membandingkan pola distribusi di Desa Kendawa dan Desa Kertas yang terpantau berjalan normal tanpa kendala serupa.
“Kami ingin memastikan transparansi tetap terjaga. Kasi Kesos akan terus melakukan pemantauan berkala agar bantuan sosial tepat sasaran dan meminimalisir adanya tekanan atau praktik yang berpotensi merugikan KPM yang berhak,” tegas Rade.
Reporter: Teguh
MALANG, DN-II Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, meresmikan SMA Taruna Nusantara Kampus Malang pada Selasa (13/1/2026). Sekolah unggulan ini memiliki nilai historis yang kuat karena arsitektur bangunannya didesain langsung oleh Kepala Negara sejak masa rintisan saat ia menjabat sebagai Menteri Pertahanan pada November 2023 lalu.
Dalam sambutannya, Presiden Prabowo menegaskan bahwa lembaga pendidikan unggulan seperti SMA Taruna Nusantara merupakan wadah strategis bagi kemajuan anak bangsa. Kehadiran kampus ini diharapkan mampu mencetak generasi yang unggul, terutama dalam penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek).
Keunggulan Sistem Pendidikan
SMA Taruna Nusantara Kampus Malang hadir dengan skema pendidikan yang komprehensif untuk mencetak kader bangsa masa depan. Terdapat tiga pilar utama yang menjadi keunggulan kampus ini:
Sistem Berasrama (Boarding School): Membentuk kedisiplinan dan kemandirian siswa secara totalitas.
Suara Anda Penting bagi Kami
Di DETIK Nasional, akurasi adalah prioritas utama. Jika Anda merasa terdapat informasi yang kurang tepat atau merasa dirugikan oleh pemberitaan kami, jangan ragu untuk mengajukan Berita Sanggahan atau Hak Jawab.
Kami berkomitmen untuk mendengarkan dan mengoreksi demi informasi yang lebih berkualitas bagi masyarakat.
Beasiswa Penuh: Seluruh biaya pendidikan digratiskan, memberikan akses bagi putra-putri terbaik bangsa tanpa hambatan ekonomi. 
Integrasi Tiga Kurikulum: Proses pembelajaran menggabungkan Kurikulum Nasional, Kurikulum Khusus SMA Taruna Nusantara, dan Kurikulum Internasional Cambridge.
“Integrasi ketiga kurikulum ini bertujuan membentuk lulusan yang memiliki wawasan kebangsaan yang kuat, berdaya saing di kancah global, serta memiliki karakter unggul,” ujar Presiden.
Ekspansi Nasional
Langkah ini merupakan bagian dari visi besar Presiden Prabowo dalam melakukan pemerataan kualitas pendidikan. Setelah puluhan tahun berpusat di Magelang sejak awal 1990-an, Presiden kini memperluas jangkauan SMA Taruna Nusantara ke berbagai wilayah di Indonesia.
Selain di Jawa Timur (Malang), kampus serupa juga tengah dikembangkan di Jawa Barat, Sulawesi Utara, Sumatera Selatan, serta beberapa wilayah strategis lainnya. Presiden menekankan pentingnya sekolah unggulan dalam menyiapkan kader-kader bangsa yang memiliki karakter kuat dan jiwa patriotik yang tinggi.
Red
— TIW —
#CatatanSeskab
BREBES, DN-II Dalam rangka memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) Satuan Pengamanan (Satpam) ke-45 tahun 2025, Sat Binmas Polres Brebes menyelenggarakan upacara ziarah rombongan dan kegiatan tabur bunga di Taman Makam Pahlawan (TMP) Kabupaten Brebes, Rabu (14/01/2026) pagi.
Kegiatan ini dipimpin langsung oleh Kasat Binmas Polres Brebes, AKP Puji Haryati. Ziarah ini merupakan bagian dari rangkaian agenda resmi Polres Brebes untuk menghormati jasa para pahlawan sekaligus memperkuat soliditas personel Satpam di wilayah hukum Kabupaten Brebes.
Hadir dalam kegiatan tersebut jajaran pejabat Sat Binmas Polres Brebes, di antaranya KBO Sat Binmas IPDA Sugiyanto, Kanit Binkamsa AIPTU Andy Setyawan, serta jajaran Kanit dan anggota Sat Binmas lainnya.
Upacara ini juga diikuti dengan khidmat oleh perwakilan anggota Satpam dari berbagai instansi di Kabupaten Brebes.
Dalam kesempatan tersebut, AKP Puji Haryati menyampaikan bahwa kegiatan ini bertujuan untuk menanamkan nilai-nilai juang dan profesionalisme kepada anggota Satpam sebagai mitra utama Polri dalam menjaga keamanan swakarsa.
Suara Anda Penting bagi Kami
Di DETIK Nasional, akurasi adalah prioritas utama. Jika Anda merasa terdapat informasi yang kurang tepat atau merasa dirugikan oleh pemberitaan kami, jangan ragu untuk mengajukan Berita Sanggahan atau Hak Jawab.
Kami berkomitmen untuk mendengarkan dan mengoreksi demi informasi yang lebih berkualitas bagi masyarakat.
“Melalui momentum HUT Satpam ke-45 ini, kami berharap rekan-rekan Satpam semakin profesional dalam mengemban tugas kepolisian terbatas. Ziarah ini bukan sekadar seremoni, melainkan pengingat bagi kita semua untuk meneladani semangat juang para pahlawan dalam menjaga keamanan dan ketertiban di lingkungan kerja masing-masing,” tegas AKP Puji Haryati di sela-sela kegiatan.
AKP Puji juga menambahkan bahwa sinergi antara Polri dan Satpam sangat krusial dalam menciptakan situasi Kamtibmas yang kondusif di wilayah Kabupaten Brebes.
Prosesi upacara berlangsung dengan khidmat, diawali dengan penghormatan kepada arwah para pahlawan, peletakan karangan bunga, dan diakhiri dengan tabur bunga di pusara makam para pejuang oleh seluruh peserta upacara. (Red/Hms)
WWW.DETIK–NASIONAL.COM – Di tengah gempuran tren investasi yang kian beragam, banyak investor pemula terjebak dalam dilema antara bermain aman atau mengambil risiko besar. Padahal, jika berkaca pada pola para miliarder dunia, rahasia akselerasi kekayaan bukan terletak pada banyaknya instrumen yang dimiliki, melainkan pada ketajaman fokus terhadap satu peluang emas.
Bagi investor yang menargetkan lompatan finansial dari angka Rp100 juta menuju Rp1 miliar pertama, diperlukan pergeseran paradigma. Ini bukan lagi soal sekadar menabung, melainkan strategi “penggandaan” modal yang terukur dan agresif.
Hierarki Investasi: Modal Menentukan Strategi
Strategi investasi tidak bisa disamaratakan. Efektivitasnya sangat bergantung pada kapasitas modal yang dimiliki. Para praktisi keuangan menyarankan pembagian fase pertumbuhan sebagai berikut:
Fase Akumulasi (Modal < Rp100 Juta): Pada tahap ini, energi terbaik bukan dihabiskan untuk memantau fluktuasi pasar setiap detik. Fokus utama adalah peningkatan cash flow melalui pengasahan skill untuk memperbesar kapasitas menabung.
Suara Anda Penting bagi Kami
Di DETIK Nasional, akurasi adalah prioritas utama. Jika Anda merasa terdapat informasi yang kurang tepat atau merasa dirugikan oleh pemberitaan kami, jangan ragu untuk mengajukan Berita Sanggahan atau Hak Jawab.
Kami berkomitmen untuk mendengarkan dan mengoreksi demi informasi yang lebih berkualitas bagi masyarakat.
Fase Akselerasi (Modal Rp100 Juta – Rp500 Juta): Ini adalah masa transisi kritis. Investor mulai masuk ke instrumen investasi secara serius, namun tetap menjaga stabilitas pendapatan utama sebagai jaring pengaman (safety net).
Fase Profesional (Modal > Rp1 Miliar): Ketika aset menyentuh angka miliaran, imbal hasil (yield) biasanya mulai signifikan untuk menopang gaya hidup. Di titik inilah, opsi menjadi investor penuh waktu (full-time investor) menjadi lebih realistis.
Debat Klasik: All-In vs Diversifikasi
Diversifikasi sering kali dianggap sebagai “sabda utama” untuk meminimalkan risiko. Namun, bagi pencari pertumbuhan aset yang cepat, strategi menyebar modal ke terlalu banyak tempat justru bisa menjadi penghambat.
Investor legendaris, Warren Buffett, pernah menyatakan bahwa diversifikasi adalah perlindungan terhadap ketidaktahuan. Sebaliknya, bagi mereka yang memiliki pemahaman mendalam terhadap suatu aset—baik itu saham maupun bisnis riil—strategi konsentrasi modal atau full power sering kali menjadi jalur ekspres menuju kekayaan.
“Jika Anda menemukan aset yang dipahami luar dalam dan memiliki potensi pertumbuhan tinggi, mengerahkan kekuatan penuh adalah strategi yang diambil mayoritas orang terkaya di dunia saat mereka memulai dari nol,” tulis laporan praktisi pasar modal.
Membangun vs Menjaga: Dua Mentalitas Berbeda
Kesalahan fatal banyak investor pemula adalah menerapkan strategi “menjaga” saat modal masih kecil. Padahal, ada perbedaan mendasar antara fase membangun dan fase mempertahankan kekayaan:
Tahapan Strategi Utama Tujuan Utama
Membangun Kekayaan Fokus & Konsentrasi Melipatgandakan modal secara eksponensial.
Suara Anda Penting bagi Kami
Di DETIK Nasional, akurasi adalah prioritas utama. Jika Anda merasa terdapat informasi yang kurang tepat atau merasa dirugikan oleh pemberitaan kami, jangan ragu untuk mengajukan Berita Sanggahan atau Hak Jawab.
Kami berkomitmen untuk mendengarkan dan mengoreksi demi informasi yang lebih berkualitas bagi masyarakat.
Menjaga Kekayaan Diversifikasi Melindungi aset dari risiko volatilitas dan inflasi.
Dalam dunia bisnis riil, jarang ditemukan pengusaha sukses yang langsung membuka sepuluh jenis bisnis berbeda di tahun pertama. Mereka biasanya fokus membesarkan satu lini bisnis hingga menghasilkan arus kas yang kuat (strong cash flow) sebelum akhirnya melakukan ekspansi.
Kesimpulan: Fokus untuk Kaya, Diversifikasi untuk Tetap Kaya
Pada akhirnya, prinsip di dunia bisnis dan pasar modal adalah sama: Fokuslah untuk menjadi kaya, lalu diversifikasilah agar tetap kaya. Investor disarankan untuk tidak terburu-buru menyebar modal yang terbatas ke terlalu banyak tempat. Temukan satu peluang yang paling dikuasai, kerahkan energi dan modal di sana, dan biarkan efek bola salju (compounding effect) bekerja membawa Anda menuju angka satu miliar pertama.
Reporter: Teguh
Penulis: Casroni
Opini: Kamis, 14 Januari 2026
OPINI: Kekayaan Bukan di Dompet, Melainkan di Kepala
WWW.DETIK-NASIONAL.COM – Banyak orang menghabiskan seumur hidupnya mengejar angka di rekening bank, namun alpa membenahi “perangkat lunak” di dalam kepala mereka. Dalam realitas sosial, kita sering keliru menganggap bahwa kemiskinan dan kelimpahan hanyalah soal nasib atau warisan. Padahal, garis pemisah antara keduanya sering kali setipis pola pikir (mindset).
Paradoks Mentalitas: Mengapa Angka Bisa Menipu?
Perbedaan antara mentalitas kaya dan miskin tidak terletak pada apa yang digenggam hari ini, melainkan pada cara memandang hari esok. Ini adalah soal “frekuensi internal” yang dipancarkan seseorang ke dunianya.
- Mentalitas Kelangkaan (Scarcity Mindset): Cenderung memelihara negativitas sebagai mekanisme pertahanan diri. Mereka yang terjebak di sini fokus pada hambatan, gemar mencari kambing hitam, dan terjebak dalam mentalitas korban (victim mentality). Baginya, dunia adalah arena tidak adil di mana peluang hanya milik orang lain. Siklus pesimisme inilah yang secara tidak sadar mengunci pintu kesempatan sebelum sempat terbuka.
- Mentalitas Kelimpahan (Abundance Mindset): Selalu memupuk optimisme, bahkan sebelum saldo rekening berubah. Mereka fokus pada solusi dan pertumbuhan. Kegagalan tidak dipandang sebagai titik henti, melainkan “biaya pendidikan” menuju kematangan. Sikap inilah yang menjadi magnet alami bagi datangnya peluang.
Akar vs Buah: Mana yang Anda Siram?
Kita harus berani jujur: Kekayaan materi hanyalah output (buah), sedangkan pola pikir adalah input (akar). Mustahil mengharapkan buah yang manis jika akarnya dibiarkan membusuk oleh prasangka dan kemalasan berpikir.
Sejarah mencatat fenomena menarik tentang ini. Seseorang dengan mentalitas kaya bisa saja kehilangan seluruh hartanya dalam semalam akibat krisis, namun ia memiliki “cetak biru” untuk membangunnya kembali dari nol. Sebaliknya, kita sering melihat pemenang lotre yang mendadak kaya, namun kembali melarat dalam waktu singkat. Tanpa fondasi mental yang kokoh, harta melimpah hanyalah titipan yang akan menguap tanpa sisa.
Memilih Frekuensi Kelimpahan
Menjadi kaya atau miskin sering kali dimulai dari keputusan sederhana saat bangun pagi: Apakah kita akan mengutuk kegelapan, atau mulai mencari lilin?
Suara Anda Penting bagi Kami
Di DETIK Nasional, akurasi adalah prioritas utama. Jika Anda merasa terdapat informasi yang kurang tepat atau merasa dirugikan oleh pemberitaan kami, jangan ragu untuk mengajukan Berita Sanggahan atau Hak Jawab.
Kami berkomitmen untuk mendengarkan dan mengoreksi demi informasi yang lebih berkualitas bagi masyarakat.
Perubahan nasib tidak melulu bergantung pada perubahan kebijakan pemerintah atau kenaikan gaji. Perubahan sejati dimulai dari keberanian untuk meruntuhkan tembok mentalitas korban dan mulai membangun mentalitas pemenang.
Dunia pada akhirnya tidak memberikan apa yang kita inginkan, tetapi dunia memantulkan siapa diri kita yang sebenarnya. Jika pikiran kita adalah ruang penuh peluang, maka realitas akan mengikutinya. Sebab, kekayaan sejati tidak pernah dimulai dari dompet, ia berhulu dari cara kita berpikir.
Reporter: Teguh
Penulis: Casroni – 14 Januari 2026
BREBES, DN-II Badan Percepatan Pengentasan Kemiskinan (BP Taskin) memperkuat sinergi dengan Pemerintah Kabupaten Brebes untuk mentransformasi penanganan kemiskinan melalui pendekatan teknologi. Dalam diskusi strategis yang digelar Selasa (13/1/2026), fokus utama diarahkan pada implementasi ekosistem Smart City guna memberantas manipulasi data dan fenomena sosial “mental miskin”.
Pertemuan yang berlangsung pukul 13.00 – 15.00 WIB ini dihadiri langsung oleh Bupati Brebes, Paramita Widya Kusuma, bersama Ketua Bhakti Taskin, Sahrul, dan Sekretaris Umum, Suntoro. Agenda ini juga terhubung secara virtual melalui video conference dengan Kepala BP Taskin, Budiman Sudjatmiko.
Digitalisasi Data: Memutus Rantai Nepotisme Bansos
Meski angka kemiskinan di Kabupaten Brebes dilaporkan tidak lagi masuk dalam kategori ekstrem, perbaikan sistem pendataan tetap menjadi prioritas mutlak. Budiman Sudjatmiko menegaskan bahwa sinkronisasi data antar-instansi adalah kunci agar bantuan tepat sasaran.
Sebagai solusi konkret, BP Taskin tengah menyiapkan sistem Smart City terintegrasi yang mencakup: 
Suara Anda Penting bagi Kami
Di DETIK Nasional, akurasi adalah prioritas utama. Jika Anda merasa terdapat informasi yang kurang tepat atau merasa dirugikan oleh pemberitaan kami, jangan ragu untuk mengajukan Berita Sanggahan atau Hak Jawab.
Kami berkomitmen untuk mendengarkan dan mengoreksi demi informasi yang lebih berkualitas bagi masyarakat.
Integrasi Rekam Medis: Memungkinkan riwayat kesehatan warga terdeteksi secara otomatis di seluruh fasilitas kesehatan. “Pasien tidak perlu lagi menjelaskan riwayat penyakitnya dari nol saat berpindah rumah sakit, karena sistem menyediakan data secara real-time,” ungkap tim ahli dalam diskusi tersebut.
Audit Bansos Otomatis: Sistem ini dirancang untuk menghapus praktik nepotisme. Teknologi AI akan memverifikasi kelayakan penerima guna memastikan tidak ada lagi keluarga perangkat desa atau warga mampu yang masuk dalam daftar penerima bantuan sosial (Bansos).
Tantangan Berat Fenomena ‘Mental Miskin’
Di luar kendala teknis, diskusi ini menyoroti degradasi moral berupa “mental miskin”. Budiman Sudjatmiko menggarisbawahi adanya oknum masyarakat yang secara ekonomi telah mandiri namun enggan melepaskan status sebagai penerima bantuan.
Beberapa temuan anomali di lapangan meliputi:
Manipulasi Status Sosial: Warga yang kondisi ekonominya telah membaik namun sengaja tidak melapor ke Program Keluarga Harapan (PKH) demi terus menerima kucuran dana.
Modus Pengemis Profesional: Ditemukan fakta miris mengenai pengemis yang datang ke lokasi operasi menggunakan sepeda motor, lalu mengubah penampilan dengan kostum dan riasan agar terlihat memprihatinkan.
Ekonomi Mengemis: Dengan pendapatan mencapai Rp300.000 per hari, mengemis telah bergeser menjadi profesi karena dianggap lebih menguntungkan daripada bekerja produktif.
Menuju Kemandirian Ekonomi
Bupati Brebes, Paramita Widya Kusuma, menyambut baik langkah BP Taskin. Menurutnya, pengentasan kemiskinan bukan sekadar memberikan stimulan dana, tetapi juga soal memperbaiki integritas data dan mentalitas masyarakat.
Suara Anda Penting bagi Kami
Di DETIK Nasional, akurasi adalah prioritas utama. Jika Anda merasa terdapat informasi yang kurang tepat atau merasa dirugikan oleh pemberitaan kami, jangan ragu untuk mengajukan Berita Sanggahan atau Hak Jawab.
Kami berkomitmen untuk mendengarkan dan mengoreksi demi informasi yang lebih berkualitas bagi masyarakat.
“Melalui penguatan Smart City, kita ingin menciptakan transparansi total. Tujuannya jelas: memutus rantai manipulasi sekaligus mengedukasi masyarakat agar memiliki harga diri untuk mandiri secara ekonomi,” tegas pihak BP Taskin.
Sesuai arahan Presiden, BP Taskin akan terus mendorong sinergi lintas sektor dan pemanfaatan teknologi tinggi untuk memastikan setiap rupiah anggaran negara benar-benar sampai ke tangan mereka yang membutuhkan.
Reporter: Teguh
WWW.DETIK-NASIONAL.COM – Di tengah pusaran ekonomi global yang kian turbulen, manusia kerap terjebak dalam satu bias kognitif yang berbahaya: obsesi terhadap kepastian. Kita gemar memahat keyakinan bahwa grafik pertumbuhan akan selalu linear ke kanan atas, sembari menghitung proyeksi Return on Investment (ROI) hingga desimal terakhir.
Namun, sejarah pasar berkali-kali memberikan pelajaran pahit bahwa kepastian adalah komoditas paling langka. Dunia bisnis dan investasi, pada hakikatnya, hanyalah sekumpulan probabilitas yang saling berkelindan. Menolak kenyataan ini sering kali melahirkan cacat karakter yang fatal dalam pengambilan keputusan: Kejumawaan.
1. Ilusi Kendali dan Jebakan Overconfidence Bias
Banyak pemimpin industri terjebak dalam sikap jumawa—sebuah overconfidence bias yang membutakan mata terhadap risiko sistemik. Mengklaim sebuah model bisnis “pasti” menguntungkan sering kali menjadi langkah awal menuju kejatuhan.
Pasar adalah organisme hidup yang tidak bisa didikte. Terdapat tiga variabel krusial yang sering kali terlupakan akibat sikap jumawa:
Suara Anda Penting bagi Kami
Di DETIK Nasional, akurasi adalah prioritas utama. Jika Anda merasa terdapat informasi yang kurang tepat atau merasa dirugikan oleh pemberitaan kami, jangan ragu untuk mengajukan Berita Sanggahan atau Hak Jawab.
Kami berkomitmen untuk mendengarkan dan mengoreksi demi informasi yang lebih berkualitas bagi masyarakat.
Pergeseran Eksponensial: Perubahan selera konsumen yang terjadi dalam semalam akibat algoritma media sosial.
Disrupsi Tanpa Permisi: Inovasi teknologi yang mampu melumpuhkan pemain lama tanpa peringatan dini.
Anomali Eksternal: Dinamika geopolitik dan regulasi yang berada jauh di luar kendali neraca perusahaan.
Mengakui bahwa sebuah bisnis memiliki celah untuk gagal bukanlah bentuk pesimisme, melainkan kewaspadaan strategis.
2. Pasar Modal: Panggung Psikologi dan Kerendahan Hati
Sentimen yang sama berlaku di koridor pasar modal. Tidak ada analis—sehebat apa pun rekam jejaknya—yang mampu menjamin harga aset akan selalu meroket. Pasar adalah manifestasi kolektif dari psikologi massa dan kompleksitas makroekonomi yang cair.
Bagi investor, narasi yang menjanjikan “pasti cuan” adalah lampu merah (red flag) yang benderang. Kejumawaan menjerumuskan investor pada keputusan emosional, pengabaian prinsip diversifikasi, dan hilangnya rasionalitas saat badai melanda. Di bursa efek, mereka yang merasa “paling tahu” biasanya adalah yang pertama kali tersapu saat arah angin berbalik.
3. Intellectual Humility sebagai Keunggulan Kompetitif
Menghapus kata “pasti” dari kamus strategi bukan berarti berhenti melangkah. Sebaliknya, ini adalah tentang merawat kerendahan hati intelektual (intellectual humility). Ini adalah kemampuan untuk tetap berpijak pada data sembari menyadari keterbatasan pengetahuan kita.
Sikap ini memberikan tiga keunggulan kompetitif utama:
Suara Anda Penting bagi Kami
Di DETIK Nasional, akurasi adalah prioritas utama. Jika Anda merasa terdapat informasi yang kurang tepat atau merasa dirugikan oleh pemberitaan kami, jangan ragu untuk mengajukan Berita Sanggahan atau Hak Jawab.
Kami berkomitmen untuk mendengarkan dan mengoreksi demi informasi yang lebih berkualitas bagi masyarakat.
Adaptabilitas Tinggi: Kemampuan mengakui kesalahan dengan cepat dan melakukan manuver (pivot) saat strategi lama mulai usang.
Ketajaman Manajemen Risiko: Kedisiplinan dalam menyiapkan “payung” melalui diversifikasi dan cadangan kas sebelum mendung datang.
Resiliensi Mental: Kekuatan psikis untuk tetap tenang ketika ekspektasi berbenturan dengan realitas pasar yang keras.
Penutup: Mengelola Badai, Bukan Menghindarinya
Ketidakpastian bukan untuk ditakuti, melainkan untuk dikelola dengan kebijaksanaan. Ketika kita menanggalkan kejumawaan dan mulai menghargai fluktuasi, kita bertransformasi menjadi aktor ekonomi yang lebih utuh: tetap tenang di tengah volatilitas, dan tetap waspada meski sedang berada di puncak kejayaan.
Pada akhirnya, di dunia yang serba tidak pasti, satu-satunya hal yang bisa kita kendalikan sepenuhnya adalah bagaimana kita merespons ketidakpastian itu sendiri.
Opini: 13 Januari 2026
Penulis: Casroni
You may have missed
You cannot copy content of this page
Detik Nasional com
Dapatkan kabar terkini dengan konten terkurasi dan berita utama terbaru yang dikirimkan langsung ke kotak masuk Anda. Langganan sekarang agar selalu terdepan dan jangan sampai ketinggalan!
