JAKARTA, DN-II Kondisi dunia internasional selama sebulan belakangan ini kian memprihatinkan. Situasi geopolitik global saat ini diwarnai oleh perang perebutan sumber daya alam (SDA) yang dijadikan komoditas taruhan oleh seluruh kepentingan politik elit internasional. (12/6/2026).
Pakar Hukum Internasional sekaligus Ekonom, Prof. Dr. Sutan Nasomal, SH, MH, menilai ada ketakutan besar dari pihak Amerika Serikat (AS) dan Israel terhadap solidnya persatuan negara-negara yang tergabung dalam BRICS. Blok ekonomi ini dinilai menjadi tandingan kuat yang mampu melawan dominasi kekuatan Amerika Serikat beserta para sekutu Baratnya.
“Apalagi China sudah sangat kuat teknologinya dan terbukti Amerika tertinggal jauh. Maka tercipta suhu panas politik yang mengganggu ketenangan Amerika di bawah bayangan Presiden Donald Trump bersama para sekutunya,” ujar Prof. Sutan Nasomal kepada awak media di Jakarta.
Dominasi Dagang China dan Skenario Global
Menurut Prof. Sutan, China telah berhasil menjadi pemenang mutlak dalam panggung perdagangan dunia. Produk teknologi China, mulai dari skala kecil hingga industri besar, baik barang rumah tangga, ponsel, hingga otomotif (mobil), telah menguasai pasar global dari kelas murah hingga toko-toko besar berkelas.
Suara Anda Penting bagi Kami
Di DETIK Nasional, akurasi adalah prioritas utama. Jika Anda merasa terdapat informasi yang kurang tepat atau merasa dirugikan oleh pemberitaan kami, jangan ragu untuk mengajukan Berita Sanggahan atau Hak Jawab.
Kami berkomitmen untuk mendengarkan dan mengoreksi demi informasi yang lebih berkualitas bagi masyarakat.
Keberhasilan China yang disokong oleh arus investasi besar dari negara-negara kaya ini memicu kekhawatiran serius di pihak Amerika. Prof. Sutan mensinyalir adanya manuver perang melalui trik kotor yang dilancarkan oleh para elit global. Ia mengaitkannya dengan peristiwa beberapa tahun lalu.
“Pada tahun 2020, skenario meruntuhkan ekonomi dilakukan oleh pihak yang sangat marah dan ketakutan agar China dan negara sekutunya bangkrut. Akibat kekurangan modal dari para pemain elit global, Covid-19 akhirnya terhentikan dan hilang begitu saja setelah tiga tahun menjadi teror menakutkan. Target utamanya memang menakut-nakuti masyarakat dunia dan mengunci roda ekonomi,” jelas Pengasuh Ponpes Ass Saqwa Plus tersebut.
Ia menambahkan, wabah Covid-19 sengaja disebar oleh para ahli virus gelap hingga meledak merata demi menghentikan jalur ekonomi global dan menjatuhkan banyak korban. Sempat mereda di akhir 2023, upaya memunculkan kembali virus tersebut pada tahun 2025 dinilai telah gagal.
Peran BRICS dan Polarisasi Energi di Timur Tengah
Sebagai pemerhati masyarakat dunia, Prof. Sutan memaparkan bahwa BRICS yang berdiri sejak 2009โdengan anggota awal Brasil, Rusia, India, China, dan Afrika Selatan, kemudian disusul Ethiopia, Mesir, Iran, Uni Emirat Arab (UEA), serta bergabungnya Indonesiaโkini menjelma menjadi pesaing hebat untuk mematahkan kepentingan kapitalisme global.
Kesadaran membentuk poros baru ini lahir akibat hancurnya pasar dagang di Timur Tengah yang selama ini menjadi pondasi pertumbuhan ekonomi. Wilayah Timur Tengah sengaja dipecah belah karena memiliki cadangan minyak yang diperebutkan.
“Dimulai dari penghancuran Irak, yang sebenarnya memiliki pipa minyak hingga ke Rusia dan kerap membantu negara-negara miskin untuk membangun. Irak dihancurkan agar minyaknya bisa dikuasai Amerika untuk menopang ekonominya. Setelah itu, Iran dijadikan target karena memiliki minyak sangat murah yang selama ini menyokong China dan banyak negara di Asia Tenggara,” urai Ketua Umum Perkumpulan Advokat Muda Indonesia ini.
Hubungan erat dan perlindungan China terhadap Iran dalam kerja sama pengelolaan BBM termurah di dunia inilah yang memicu ketakutan Amerika. Menurutnya, serangan dan teror perang terhadap Iran bertujuan melumpuhkan ekonomi China beserta sekutunya. Bahkan, ia juga menyoroti intervensi terhadap Venezuela demi mengamankan pasokan minyak murah bagi operasional militer Amerika.
Konsep ‘Israel Raya’ dan Ketahanan Nasional RI
Lebih lanjut, Prof. Sutan mengkritisi konsep ‘Israel Raya’ yang disebutnya sebagai kampanye politik dan militer untuk menguasai seluruh wilayah Timur Tengah dan Persia di bawah satu pintu kendali AS-Israel. Ia juga menyayangkan pernyataan Menteri Pertahanan Amerika Serikat, Pete Hegseth (Mr. Hegseth), yang menyebut Muslim Sunni dan Syiah sebagai musuh Amerika.
Suara Anda Penting bagi Kami
Di DETIK Nasional, akurasi adalah prioritas utama. Jika Anda merasa terdapat informasi yang kurang tepat atau merasa dirugikan oleh pemberitaan kami, jangan ragu untuk mengajukan Berita Sanggahan atau Hak Jawab.
Kami berkomitmen untuk mendengarkan dan mengoreksi demi informasi yang lebih berkualitas bagi masyarakat.
“Padahal seluruh Muslim di dunia tidak pernah memerangi Amerika dan sekutunya,” tegas Presiden Partai Oposisi Merdeka ini.
Prof. Sutan menegaskan bahwa langkah elite global kapitalis yang memicu perang dan memiskinkan wilayah Timur Tengah, Persia, Afrika, dan Asia memiliki tujuan strategis: agar negara-negara dengan mayoritas penduduk Muslim tersebut mudah diteror, diatur, dan dikuras habis kekayaan alamnya.
Belajar dari sejarah runtuhnya Uni Soviet akibat tekanan politik kapitalisme, Rusia kini memelopori poros BRICS guna menjaga keseimbangan perdagangan energi dunia dan menekan harga minyak agar tetap terjangkau.
Menutup keterangannya, Prof. Dr. Sutan Nasomal, SH, MH, memberikan imbauan tegas kepada Presiden Republik Indonesia agar tidak terjebak dalam pusaran konflik geopolitik tersebut.
“Saya menghimbau Presiden RI jangan terlibat dengan permainan judi para elite global. Lebih baik mengambil sikap netral dan fokus perhatikan ekonomi serta ketahanan negara RI. Tidak perlu keras kepala dan sulit menerima nasihat para orang tua dulu. Gunakan ilmu padi yang kian berisi kian merunduk,” pungkasnya.
Menurutnya, Indonesia harus memanfaatkan kekayaan SDA dalam negeri secara mandiri untuk bertahan di tengah situasi ketika “para gajah” geopolitik sedang bertaruh dan berperang karena ketamakan. “Hal yang paling berbahaya adalah ketika rakyat sudah tidak percaya lagi kepada pemimpinnya,” tutup Prof. Sutan.
Narasumber : Prof Dr Sutan Nasomal SH,MH Pakar Hukum Internasional, Ekonom Presiden Partai Oposisi Merdeka Ketua Umum Perkumpulan Advokat Muda Indonesia Pengasuh Ponpes ASS SAQWA PLUS Call Center 087719021960
Eksplorasi konten lain dari Detik Nasional
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
