Lantai Istana Semakin Licin oleh Liur Penjilat dan Alergi Suara Rakyat: Sorotan Tajam Prof. Sutan Nasomal Menjelang Pemilu 2029
JAKARTA, DN-II Suhu politik nasional menjelang Pemilu 2029 mulai menunjukkan eskalasi tinggi. Di tengah dinamika lintas partai yang mulai bergerak, para tokoh masyarakat dan pengamat menyoroti tajam kondisi ekonomi serta jurang pemisah yang semakin lebar antara elite kekuasaan dan penderitaan rakyat kecil.
โHal tersebut diungkapkan oleh Tokoh Pemerhati Masyarakat Dunia sekaligus Pakar Hukum Internasional dan Ekonom, Prof. Dr. Sutan Nasomal, S.H., M.H. Menurutnya, ketidakpekaan para pemangku kekuasaan saat ini terhadap isu “matahari kembar” bukanlah sekadar desas-desus belaka. Panasnya konstelasi politik bahkan sudah terasa sejak pertengahan tahun 2026.
โ”Tidak malu-malu lagi, dalam rapat internal mulai disampaikan rencana menggulingkan presiden secara terbuka. Hal ini memicu panasnya hati para pendukung yang saling mengancam melalui telegram politik,” ujar Prof. Sutan Nasomal saat dihubungi dari Markas Pusat Partai Oposisi Merdeka di kawasan Cijantung, Jakarta, Selasa (15/9/2026).
โSafari Politik Elite dan Pengabaian Akar Rumput
โProf. Sutan juga menyoroti manuver para elite partai yang mulai membuka pintu lebar-lebar dengan melakukan safari politik atau “sowan” ke kediaman bakal calon presiden 2029. Aksi tersebut dinilai dipertontonkan di tengah rakyat yang sedang berjuang menyambung hidup di tengah himpitan ekonomi.
Suara Anda Penting bagi Kami
Di DETIK Nasional, akurasi adalah prioritas utama. Jika Anda merasa terdapat informasi yang kurang tepat atau merasa dirugikan oleh pemberitaan kami, jangan ragu untuk mengajukan Berita Sanggahan atau Hak Jawab.
Kami berkomitmen untuk mendengarkan dan mengoreksi demi informasi yang lebih berkualitas bagi masyarakat.
โ”Setiap rumah pengantin calon presiden di 2029 sudah mulai bagi-bagi janji dan memamerkan peta politik. Suara sunyi di akar rumput tetap terabaikan, membuat ratusan juta rakyat Nusantara terkejut dan kecewa. Siapa yang sebenarnya memikirkan nasib rakyat susah di negeri ini?” tegas Ketua Umum Perkumpulan Advokat Muda Indonesia (PAMID) ini.
โBeban Ekonomi dan Birokrasi “Uang Pelicin”
โKondisi ekonomi rakyat kecil kian terhimpit oleh mahalnya kebutuhan pokok dan tingginya biaya hidup. Aksi demonstrasi damai yang menuntut kebijakan pro-rakyat kerap menemui jalan buntu. Beban berat dipukulkan ke pundak orang kecil melalui birokrasi yang rumit serta maraknya praktik “uang pelicin” bagi oknum dinas terkait.
โ”Banyak izin usaha mandiri atau perpindahan alamat yang mandek karena mahar pelicin harus disetorkan kepada oknum birokrasi, baik di pusat maupun daerah. Akibatnya, kebangkrutan terjadi di mana-mana akibat kegagalan pemerintah memberikan kemudahan bagi masyarakat kecil,” tambahnya.
โTekanan terhadap wong cilik juga merambah ke kebijakan daerah yang kerap memburu pendapatan kas daerah dari sumber yang tidak tepatโmulai dari merampas kendaraan warga miskin yang menunggak pajak hingga menyasar pedagang warung kecil. Ironisnya, banyak warga yang terpaksa berutang ke “Bank Emok” (pinjaman keliling) sekadar untuk membayar listrik atau kontrakan di tengah kesulitan uang yang nyata.
โIroni Pendataan Sosial

โPersoalan pendataan sosial (seperti golongan Desil 9) yang menyasar tukang becak, kuli panggul, hingga lansia jompo turut dikritik tajam. Prof. Sutan heran mengapa alasan data yang tidak akurat selalu dijadikan tameng penghematan anggaran, sementara sensus penduduk dan ekonomi rutin dilakukan.
โ”Mungkin data yang sebenarnya tak pernah sampai ke meja para pemimpin, agar selalu bisa menjadi alasan bahwa jumlah rakyat miskin berkurang atau semakin banyak yang kaya mendadak, yang faktanya tidak sama dengan data lembaga dunia,” kritiknya.
โMetafora Istana dan Harapan Rakyat
Suara Anda Penting bagi Kami
Di DETIK Nasional, akurasi adalah prioritas utama. Jika Anda merasa terdapat informasi yang kurang tepat atau merasa dirugikan oleh pemberitaan kami, jangan ragu untuk mengajukan Berita Sanggahan atau Hak Jawab.
Kami berkomitmen untuk mendengarkan dan mengoreksi demi informasi yang lebih berkualitas bagi masyarakat.
โMenutup pandangannya, Prof. Sutan Nasomal melontarkan kritik metaforis yang menohok terhadap lingkaran kekuasaan di Istana.
โ”Ketika keluhan dari rakyat kecil dituliskan dan hendak disampaikan ke Istana Negara, ubinnya sangat licin oleh liur para penjilat, sehingga kertas dari rakyat tidak boleh sampai ke meja penguasa.”
โKendati demikian, ia mengingatkan masyarakat untuk tetap tabah dan memanjatkan doa kepada Tuhan Yang Maha Esa. “Berdoalah kepada Tuhan yang tidak pernah tidur dan lantai-Nya tidak pernah licin, sehingga doa dari rakyat pasti diterima dan diijabah,” pungkasnya.
โProfil Narasumber: Prof. Dr. Sutan Nasomal, S.H., M.H.
โPakar Hukum Internasional & Ekonom
โPresiden Partai Oposisi Merdeka Ketua Umum Perkumpulan Advokat Muda Indonesia (PAMID) / Association of Young Indonesian Advocates
โKetua Umum YPLBH Profesor Sutan Nasomal, S.H., M.H. Rektor Universitas STIA STIH Pronass
โPendiri & Pengasuh Ponpes Ass-Saqwa Plus
โKetua Umum YPP Brigade Global Indonesia Plus (YPP. BRIGIP)
Eksplorasi konten lain dari Detik Nasional com
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

