BREBES, DN-II Menuju tatanan masyarakat yang lebih harmonis dan tertata, Kabupaten Brebes dinilai memerlukan landasan spiritual dan etika yang kokoh. Hal tersebut disampaikan oleh dai kondang, Ustadz Wijayanto, dalam tausiyah peringatan Isra Mi’raj 1447 H sekaligus rangkaian HUT Kabupaten Brebes ke-348 di Alun-Alun Brebes, Jumat (16/1/2026).
Dalam ceramahnya, Ustadz Wijayanto memperkenalkan konsep “Brebes Beres”, sebuah visi yang dijabarkan melalui 10 prinsip kebaikan berdasarkan nilai-nilai Al-Qur’an. Visi ini bertujuan menciptakan masyarakat yang tidak hanya maju secara fisik, tetapi juga meraih keberkahan spiritual (Baldatun Toyyibatun Warobbun Ghofur).
Pilar Profesionalisme dan Etika Kerja
Ustadz Wijayanto menekankan bahwa produktivitas daerah sangat bergantung pada hubungan antar-rekan sejawat. Profesionalisme harus dijunjung tinggi dengan prinsip proporsionalitas—menempatkan seseorang sesuai dengan keahliannya.
“Dengan menerapkan the right man on the right place, roda organisasi baik di pemerintahan maupun sektor swasta di Brebes akan berjalan jauh lebih efektif,” ungkapnya di hadapan ribuan jamaah dan jajaran Forkopimda.
Suara Anda Penting bagi Kami
Di DETIK Nasional, akurasi adalah prioritas utama. Jika Anda merasa terdapat informasi yang kurang tepat atau merasa dirugikan oleh pemberitaan kami, jangan ragu untuk mengajukan Berita Sanggahan atau Hak Jawab.
Kami berkomitmen untuk mendengarkan dan mengoreksi demi informasi yang lebih berkualitas bagi masyarakat.
Memuliakan Tamu: Wajah Keramahan Brebes
Mengingat posisi geografis Brebes sebagai daerah perlintasan strategis (jalur Pantura dan Tol), keramahan terhadap pendatang menjadi poin krusial. Mengacu pada konsep Ibnu Sabil, Ustadz Wijayanto mengingatkan bahwa setiap tamu wajib dimuliakan melalui dua hal:
Pelayanan Prima: Memberikan penyambutan dan pengantaran yang santun.
Kearifan Lokal: Memberikan buah tangan khas Brebes (seperti Telur Asin dan Bawang Merah) sebagai simbol penghormatan sekaligus penggerak ekonomi lokal.
Sinergi Pemimpin dan Rakyat
Keberhasilan Brebes di masa depan sangat bergantung pada sinergi dua arah. Pemimpin wajib memiliki empati dan kepedulian tinggi terhadap kesejahteraan bawahan. Sebaliknya, masyarakat diharapkan menunjukkan loyalitas dan rasa hormat yang tulus.
“Prinsip ini universal, berlaku mulai dari birokrasi pemerintahan hingga keharmonisan dalam lingkup rumah tangga,” tambah Ustadz yang dikenal dengan gaya bicaranya yang jenaka namun sarat makna ini.
10 Pesan Al-Qur’an untuk “Brebes Berkah”
Sebagai peta jalan transformasi daerah, berikut adalah 10 urutan pengabdian yang harus dijaga secara konsisten oleh warga Brebes:
Tauhid: Menjaga kemurnian ibadah hanya kepada Allah SWT.
Suara Anda Penting bagi Kami
Di DETIK Nasional, akurasi adalah prioritas utama. Jika Anda merasa terdapat informasi yang kurang tepat atau merasa dirugikan oleh pemberitaan kami, jangan ragu untuk mengajukan Berita Sanggahan atau Hak Jawab.
Kami berkomitmen untuk mendengarkan dan mengoreksi demi informasi yang lebih berkualitas bagi masyarakat.
Bakti Orang Tua: Menempatkan orang tua sebagai prioritas utama.
Kekerabatan: Mempererat tali silaturahmi antar keluarga besar.
Kepedulian Sosial: Memberikan perlindungan dan santunan bagi anak yatim.
Filantropi: Membantu fakir miskin secara berkelanjutan.
Tetangga Dekat: Menjamin lingkungan sekitar yang aman dan nyaman.
Tetangga Jauh: Memperluas jejaring persaudaraan antarwilayah.
Teman Sejawat: Membangun kolaborasi profesional yang sehat.
Ibnu Sabil: Memuliakan musafir dan tamu yang berkunjung.
Keadilan Sosial: Memperhatikan hak dan kesejahteraan bawahan atau staf.
Menatap Masa Depan
Memasuki tahun 2026, penerapan nilai-nilai luhur ini diharapkan mampu meningkatkan kesejahteraan rakyat Brebes secara bertahap (step by step). Melalui integrasi nilai spiritual ke dalam tata kelola sosial, visi Kabupaten Brebes yang sejahtera dan diberkahi Allah SWT optimis dapat segera terwujud.
Reporter: Teguh
Editor: Casroni
WWW.DETIK-NASIONAL.COM – Peringatan Isra Mikraj Nabi Muhammad SAW 1447 Hijriah menjadi momentum krusial bagi umat Islam untuk merefleksikan kembali perjalanan spiritual agung yang melampaui batas ruang dan waktu. Peristiwa ini bukan sekadar narasi sejarah, melainkan simbol keteguhan iman dan ketaatan mutlak seorang hamba di tengah gempuran modernitas.
Casroni, perwakilan media Detik Nasional, menekankan bahwa esensi perjalanan dari Masjidil Haram menuju Masjidil Aqsa hingga Sidratul Muntaha adalah tentang penerimaan mandat suci salat lima waktu.
“Mandat ini merupakan fondasi utama sekaligus kompas hidup bagi setiap Muslim dalam menjaga hubungan vertikal dengan Sang Pencipta (Hablum Minallah),” ungkapnya dalam keterangan tertulis, Jumat (16/1/2026).
Salat Sebagai Jangkar Moral di Era Modern
Isra Mikraj sejatinya adalah pengingat bahwa di balik setiap kesulitan hidup, terdapat kekuatan iman yang mampu melampaui logika manusia. Di tengah dinamika kehidupan modern yang serba cepat dan penuh distraksi, nilai disiplin serta kepasrahan dalam ibadah salat diharapkan mampu menjadi jangkar moral bagi masyarakat.
Suara Anda Penting bagi Kami
Di DETIK Nasional, akurasi adalah prioritas utama. Jika Anda merasa terdapat informasi yang kurang tepat atau merasa dirugikan oleh pemberitaan kami, jangan ragu untuk mengajukan Berita Sanggahan atau Hak Jawab.
Kami berkomitmen untuk mendengarkan dan mengoreksi demi informasi yang lebih berkualitas bagi masyarakat.
“Mari kita jadikan peringatan ini momentum untuk memperkuat akar iman. Keimanan yang kokoh bukan hanya soal ritual, tetapi harus mampu melahirkan karakter bangsa yang tangguh, jujur, dan penuh integritas,” lanjut Casroni.
Pesan Kedamaian dalam Keberagaman
Senada dengan hal tersebut, Pimpinan Umum Detik-Nasional.com, Firdaus Andika, menambahkan bahwa selain aspek spiritual personal, Isra Mikraj tahun ini juga membawa pesan persatuan yang kuat.
Menurutnya, dengan meneladani kerendahhatian Rasulullah SAW, umat diajak untuk terus menebar kedamaian dan mempererat tali persaudaraan (Ukhuwah) di tengah keberagaman bangsa.
“Melalui peringatan ini, diharapkan cahaya perjalanan suci Rasulullah senantiasa menyinari langkah masyarakat dalam berbakti kepada agama, bangsa, dan negara,” pungkasnya.
Selamat memperingati Isra Mikraj Nabi Muhammad SAW 1447 H. Semoga nilai-nilai luhur dari perjalanan ini senantiasa tertanam dalam sanubari.
Red
JAKARTA, DN-II Ustadzah Nadia Hawasyi adalah Qoriah berprestasi bersinar, bukti sinergi Cinta dan Ketakwaan menginspirasi Masyarakat.
Dunia tilawah Indonesia kembali diguncang oleh pencapaian gemilang yang lahir dari cinta tak lekang pada Al-Qur’an dan dukungan keluarga yang penuh kehangatan.
Ustadzah Nadia Hawasyi, qoriah berbakat dengan suara merdu dan teknik tajwid mujawwad yang mumpuni, berhasil mengangkat nama baik Kafilah Kecamatan Pagedangan, Kabupaten Tangerang dengan meraih juara umum cabang Qira’at Sab’ah pada Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) Tingkat Kabupaten Tangerang yang berlangsung kemarin.
Prestasi ini menjadi lebih istimewa karena diraih setelah beliau sebelumnya telah mengukir sejarah sebagai juara tingkat Nasional pada MTQ Kalimantan tahun 2023. Kerendahan hati beliau untuk kembali berkompetisi di tingkat kabupaten bukan hanya membawa kemenangan, melainkan juga menjadi teladan hidup bagi para generasi muda qori dan qoriah di seluruh Indonesia.
DUKUNGAN SUAMI: SUMBER KEKUATAN DAN KETENANGAN HATI
Suara Anda Penting bagi Kami
Di DETIK Nasional, akurasi adalah prioritas utama. Jika Anda merasa terdapat informasi yang kurang tepat atau merasa dirugikan oleh pemberitaan kami, jangan ragu untuk mengajukan Berita Sanggahan atau Hak Jawab.
Kami berkomitmen untuk mendengarkan dan mengoreksi demi informasi yang lebih berkualitas bagi masyarakat.
Di balik setiap lantunan ayat suci yang memukau hati juri dan penonton, terdapat sosok pasangan hidup yang tak pernah lelah memberikan dukungan tanpa syarat – KH. Zaky Mubarok. Beliau bukan hanya menjadi pendamping, melainkan juga sumber kekuatan spiritual yang membuat Ustadzah Nadia mampu tampil dengan penuh ketenangan dan keikhlasan.
“Kebahagiaan saya hari ini berlipat ganda. Bukan hanya karena meraih juara, tapi karena saya merasakan dukungan penuh dari suami tercinta. Beliau adalah pijakan saya; yang selalu mempercayai potensi saya dan mengingatkan saya untuk selalu bersandar pada ridha Allah. Doa dan restunya adalah modal utama saya dalam setiap langkah,” ujar Ustadzah Nadia dengan wajah penuh syukur saat menerima piala penghargaan.
Melihat keberhasilan sang istri, KH. Zaky Mubarok tak bisa menyembunyikan rasa bangga yang mendalam dan penuh makna, beliau menyampaikan: “Aku bangga bukan karena kemenangan duniawi yang kamu raih, melainkan karena kamu selalu menjadikan Al-Qur’an sebagai jalan hidup dan sandaran hati.
“Engkau adalah anugerah terindah yang Allah berikan padaku – bukan hanya sebagai istri, tapi juga sebagai teman sejati dalam mengikuti jalan kebaikan. Keikhlasanmu dalam membaca dan mensyiarkan kalam ilahi adalah bukti nyata kesalehanmu yang tak ternilai harganya, ” Ujar KH. Zaky Rabu 13/1/2026.
Keberhasilan Ustadzah Nadia Hawasyi bukan hanya prestasi pribadi atau keluarga, melainkan juga menjadi berkah bagi masyarakat Kecamatan Pagedangan dan seluruh penjuru tanah air. Prestasi ini membuktikan bahwa ketika cinta keluarga dan ketakwaan pada Allah bersatu, akan melahirkan pencapaian yang luar biasa dan mampu menginspirasi banyak orang.
“Alhadulilah, Kemenangan ini adalah bukti bahwa Indonesia adalah lumbung qari-qariah terbaik, yang tidak hanya unggul dalam teknik, tapi juga dalam nilai-nilai spiritual dan kebersamaan keluarga,” ujar KH. Zaky Mubarok.
Semoga keberhasilan Ustadzah Nadia Hawasyi menjadi nyala semangat bagi seluruh umat untuk lebih dekat dengan Al-Qur’an dan menjadikan keluarga sebagai benteng utama dalam membangun peradaban yang penuh berkah.
Red/Eric Vr
BREBES, DN-II Dalam rangka memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) Satuan Pengamanan (Satpam) ke-45 tahun 2025, Sat Binmas Polres Brebes menyelenggarakan upacara ziarah rombongan dan kegiatan tabur bunga di Taman Makam Pahlawan (TMP) Kabupaten Brebes, Rabu (14/01/2026) pagi.
Kegiatan ini dipimpin langsung oleh Kasat Binmas Polres Brebes, AKP Puji Haryati. Ziarah ini merupakan bagian dari rangkaian agenda resmi Polres Brebes untuk menghormati jasa para pahlawan sekaligus memperkuat soliditas personel Satpam di wilayah hukum Kabupaten Brebes.
Hadir dalam kegiatan tersebut jajaran pejabat Sat Binmas Polres Brebes, di antaranya KBO Sat Binmas IPDA Sugiyanto, Kanit Binkamsa AIPTU Andy Setyawan, serta jajaran Kanit dan anggota Sat Binmas lainnya.
Upacara ini juga diikuti dengan khidmat oleh perwakilan anggota Satpam dari berbagai instansi di Kabupaten Brebes.
Dalam kesempatan tersebut, AKP Puji Haryati menyampaikan bahwa kegiatan ini bertujuan untuk menanamkan nilai-nilai juang dan profesionalisme kepada anggota Satpam sebagai mitra utama Polri dalam menjaga keamanan swakarsa.
Suara Anda Penting bagi Kami
Di DETIK Nasional, akurasi adalah prioritas utama. Jika Anda merasa terdapat informasi yang kurang tepat atau merasa dirugikan oleh pemberitaan kami, jangan ragu untuk mengajukan Berita Sanggahan atau Hak Jawab.
Kami berkomitmen untuk mendengarkan dan mengoreksi demi informasi yang lebih berkualitas bagi masyarakat.
“Melalui momentum HUT Satpam ke-45 ini, kami berharap rekan-rekan Satpam semakin profesional dalam mengemban tugas kepolisian terbatas. Ziarah ini bukan sekadar seremoni, melainkan pengingat bagi kita semua untuk meneladani semangat juang para pahlawan dalam menjaga keamanan dan ketertiban di lingkungan kerja masing-masing,” tegas AKP Puji Haryati di sela-sela kegiatan.
AKP Puji juga menambahkan bahwa sinergi antara Polri dan Satpam sangat krusial dalam menciptakan situasi Kamtibmas yang kondusif di wilayah Kabupaten Brebes.
Prosesi upacara berlangsung dengan khidmat, diawali dengan penghormatan kepada arwah para pahlawan, peletakan karangan bunga, dan diakhiri dengan tabur bunga di pusara makam para pejuang oleh seluruh peserta upacara. (Red/Hms)
Upholding Integrity: Komitmen Bukan Sekadar Narasi, Melainkan Bukti Nyata
Reporter: Teguh | Penulis: Casroni
Selasa, 13 Januari 2026
WWW.DETIK-NASIONAL.COM (OPINI) – Di tengah dinamika profesional yang kian kompleks, integritas sering kali terjebak menjadi sekadar buzzword—jargon yang mudah diucapkan namun sulit dipertahankan. Sejatinya, integritas tidak diuji saat keadaan berjalan mulus, melainkan saat komitmen berbenturan dengan tembok ketidakpedulian. Dalam interaksi antarlembaga, sikap saling menghargai adalah core value utama yang menjaga marwah sebuah kerja sama.
Ketika prinsip dasar diabaikan dan etika profesional dikesampingkan, maka ketegasan bukan lagi sebuah pilihan, melainkan keharusan. Menjaga integritas berarti berani mengambil posisi teguh ketika nilai kejujuran mulai dikompromikan oleh kepentingan sepihak.
Melawan Apatisme Profesional
Suara Anda Penting bagi Kami
Di DETIK Nasional, akurasi adalah prioritas utama. Jika Anda merasa terdapat informasi yang kurang tepat atau merasa dirugikan oleh pemberitaan kami, jangan ragu untuk mengajukan Berita Sanggahan atau Hak Jawab.
Kami berkomitmen untuk mendengarkan dan mengoreksi demi informasi yang lebih berkualitas bagi masyarakat.
Sikap apatis atau ketidakpedulian dalam hubungan kerja sama memerlukan respons yang proporsional. Hubungan yang sehat harus berlandaskan asas reciprocity (timbal balik) yang saling menguatkan. Jika salah satu pihak memilih abai terhadap etika, maka langkah tegas perlu diambil sebagai bentuk safeguarding terhadap martabat organisasi.
Langkah ini diambil bukan atas dasar emosi, melainkan upaya melindungi standar moral. Membiarkan apatisme berlarut hanya akan merusak ekosistem profesional yang seharusnya bersih dari praktik pengabaian tanggung jawab.
Ucapan Adalah Amanah, Bukan False Promises
Bagi kami, setiap ucapan bukanlah sekadar narasi untuk menyenangkan telinga. Setiap pernyataan adalah janji yang memikul moral obligation. Komitmen yang telah dibuat tidak boleh goyah; ia adalah amanah yang wajib diwujudkan dalam tindakan nyata.
Kami memegang prinsip teguh bahwa sebuah janji bukanlah “halusinasi” atau bualan untuk menenangkan keadaan sementara. Sebaliknya, janji adalah kontrak sosial yang harus divalidasi dengan fakta. Tanpa realisasi, kata-kata hanyalah residu yang merusak kepercayaan publik (public trust).
Menakar Hukum Sebab-Akibat
Perlu disadari bahwa setiap tindakan berjalan berdasarkan hukum cause and effect. Seseorang atau lembaga tidak bisa terus-menerus menebar empty promises (janji manis) tanpa menghadapi konsekuensi. Ada batas toleransi bagi setiap kesabaran, dan ada saturation point (titik jenuh) bagi setiap penantian.
Sikap diam jangan disalahartikan sebagai persetujuan terhadap janji palsu yang berulang. Sebaliknya, diam bisa menjadi fase strategic evaluation sebelum tindakan lebih lanjut diambil. Kekecewaan akibat ingkar janji adalah reaksi logis yang akan bermuara pada tuntutan akuntabilitas (accountability) yang lebih keras.
Sinkronisasi Kata dan Perbuatan
Pada akhirnya, integritas hanya bisa dibuktikan melalui keselarasan (alignment) antara kata dan perbuatan. Publik tidak lagi membutuhkan retorika indah di atas kertas. Yang dibutuhkan adalah tangible evidence (bukti nyata) bahwa setiap poin kesepakatan dijalankan dengan penuh tanggung jawab.
Suara Anda Penting bagi Kami
Di DETIK Nasional, akurasi adalah prioritas utama. Jika Anda merasa terdapat informasi yang kurang tepat atau merasa dirugikan oleh pemberitaan kami, jangan ragu untuk mengajukan Berita Sanggahan atau Hak Jawab.
Kami berkomitmen untuk mendengarkan dan mengoreksi demi informasi yang lebih berkualitas bagi masyarakat.
Menjaga integritas memang memiliki harga yang mahal, namun kehilangan kepercayaan jauh lebih merugikan bagi reputasi (brand reputation). Komitmen kami tetap teguh: konsistensi untuk berdiri di atas kebenaran faktual dan menolak segala bentuk manipulasi janji. ***
“Kekuatan di Balik Kesunyian: Tiga Pilar Karakter Sang Penjaga Prinsip”
WWW.DETIK-NASIONAL.COM – Dalam kosmologi Jawa, weton bukan sekadar hitungan hari lahir yang bersifat mekanis. Ia adalah manifestasi karakter, sebuah cermin psikologis yang menggambarkan bagaimana seseorang berinteraksi dengan dunianya. Di antara jajaran weton lainnya, Wage sering kali disalahpahami sebagai pribadi yang tertutup. Namun, jika kita menyelami lebih dalam, kesunyian seorang Wage bukanlah kekosongan, melainkan sebuah benteng prinsip yang kokoh.
Bagi Anda yang menyandang weton ini, atau berinteraksi erat dengan mereka, memahami “kode etik” hidup mereka adalah kunci membangun relasi yang bermartabat. Berikut adalah tiga pilar nilai yang dijaga oleh pemilik Wage sebagai kompas hidup mereka:
1. Kepercayaan: Integritas Tanpa Kompromi
Bagi seorang Wage, kepercayaan (trust) adalah komoditas langka yang tidak diperjualbelikan. Mereka tidak memberikan kepercayaan secara instan; ia harus dibangun melalui pembuktian integritas yang konsisten.
Suara Anda Penting bagi Kami
Di DETIK Nasional, akurasi adalah prioritas utama. Jika Anda merasa terdapat informasi yang kurang tepat atau merasa dirugikan oleh pemberitaan kami, jangan ragu untuk mengajukan Berita Sanggahan atau Hak Jawab.
Kami berkomitmen untuk mendengarkan dan mengoreksi demi informasi yang lebih berkualitas bagi masyarakat.
Loyalitas yang Sunyi: Sekali pintu kepercayaan terbuka, Wage akan menjadi sosok yang paling suportif. Mereka tidak butuh pengakuan publik atas kesetiaannya.
Filosofi “Pergi Tanpa Suara”: Ini adalah karakteristik paling distingtif. Jika dikhianati, seorang Wage jarang memilih konfrontasi yang meledak-ledak. Mereka lebih memilih menarik diri secara total. Bagi mereka, hilangnya rasa hormat adalah titik akhir dari sebuah hubungan.
Memori Institusional: Mereka mungkin memaafkan, namun memori mereka tentang pengkhianatan berfungsi sebagai mekanisme pertahanan agar tidak jatuh ke lubang yang sama.
2. Ketenangan sebagai Ruang Kontemplasi
Di tengah dunia yang bising dan penuh kepura-puraan, Wage memilih ketenangan bukan karena antisosial, melainkan sebagai bentuk preservasi energi dan kesehatan mental.
Radar terhadap Toksisitas: Wage memiliki intuisi yang tajam terhadap konflik yang tidak produktif. Mereka cenderung menjauh dari lingkaran yang penuh drama demi menjaga kejernihan berpikir.
Keseimbangan Emosional: Bagi mereka, kedamaian batin jauh lebih mewah daripada popularitas. Mereka lebih memilih lingkaran kecil yang berkualitas daripada kerumunan yang dangkal.
Recharging Privasi: Ruang privasi bagi Wage adalah tempat mereka mengolah pikiran dan menyusun strategi hidup sebelum kembali berhadapan dengan dunia luar.
3. Keadilan: “Singa Tidur” di Balik Kesantunan
Mungkin inilah aspek yang paling sering mengejutkan orang lain. Meski tampak mengalah dan pendiam, seorang Wage memiliki garis demarkasi yang sangat tegas mengenai apa yang benar dan salah.
Suara Anda Penting bagi Kami
Di DETIK Nasional, akurasi adalah prioritas utama. Jika Anda merasa terdapat informasi yang kurang tepat atau merasa dirugikan oleh pemberitaan kami, jangan ragu untuk mengajukan Berita Sanggahan atau Hak Jawab.
Kami berkomitmen untuk mendengarkan dan mengoreksi demi informasi yang lebih berkualitas bagi masyarakat.
Ketegasan yang Terukur: Mereka bisa diam dalam waktu lama, namun saat melihat ketidakadilan—baik bagi diri sendiri maupun orang lain—karakter “singa tidur” mereka akan bangkit.
Prinsip Hitam dan Putih: Dalam hal moralitas, Wage sulit berkompromi dengan kecurangan. Bagi mereka, integritas adalah harga mati yang tidak bisa ditawar oleh jabatan atau materi.
Keberanian Berprinsip: Kekuatan terbesar mereka adalah keberanian untuk berdiri sendiri demi mempertahankan apa yang adil, meskipun hal itu membuatnya tidak populer.
Kesimpulan: Menjaga Martabat di Balik Diam
Menjadi seorang Wage berarti memikul tanggung jawab moral terhadap diri sendiri. Standar hidup yang tinggi terhadap nilai-nilai kemanusiaan sering kali membuat mereka tampak “berbeda” atau keras kepala. Namun, dalam perspektif yang lebih luas, itulah yang disebut sebagai integritas diri.
Ketiga hal di atas bukan sekadar karakter bawaan, melainkan kompas yang menuntun pemilik Wage menuju kehidupan yang lebih bermakna dan terhormat. Di dunia yang terus berubah, konsistensi prinsip seperti inilah yang sebenarnya dibutuhkan. “””
Bosnia, Herzegovina, DN-II Menhan RI Sjafrie Sjamsoeddin melaksanakan kunjungan ke Masjid Soeharto atau Masjid Istiklal Sarajevo, di sela rangkaian kunjungan kerja di Bosnia dan Herzegovina, pada Minggu (11/1/2026).
Kunjungan ini merupakan bagian dari agenda bilateral Indonesia–Bosnia dan Herzegovina yang turut membahas penguatan kerja sama pertahanan antara kedua negara.
Masjid Soeharto memiliki nilai historis yang kuat sebagai simbol solidaritas dan komitmen kemanusiaan Indonesia kepada rakyat Bosnia dan Herzegovina pascakonflik Balkan pada dekade 1990-an. Pembangunan masjid Soeharto merupakan inisiatif Pemerintah Republik Indonesia sebagai wujud dukungan moral dan kemanusiaan bagi masyarakat Bosnia dalam masa pemulihan pascaperang.
Dalam kunjungan tersebut, Menhan Sjafrie menegaskan bahwa hubungan Indonesia dan Bosnia dan Herzegovina dibangun di atas nilai persahabatan, solidaritas, dan kemanusiaan. Nilai-nilai tersebut hingga kini terus menjadi fondasi penting dalam memperkuat kemitraan strategis serta kontribusi bersama kedua negara bagi perdamaian.

Suara Anda Penting bagi Kami
Di DETIK Nasional, akurasi adalah prioritas utama. Jika Anda merasa terdapat informasi yang kurang tepat atau merasa dirugikan oleh pemberitaan kami, jangan ragu untuk mengajukan Berita Sanggahan atau Hak Jawab.
Kami berkomitmen untuk mendengarkan dan mengoreksi demi informasi yang lebih berkualitas bagi masyarakat.
The Minister of Defence of the Republic of Indonesia, Sjafrie Sjamsoeddin, paid a visit to Soeharto Mosque (also known as the Istiklal Mosque Sarajevo) on the sidelines of his working visit to Bosnia and Herzegovina, on Sunday (11 January). The visit formed part of the Indonesia–Bosnia and Herzegovina bilateral agenda, which also addresses the strengthening of defence cooperation between the two countries.
Soeharto Mosque holds strong historical significance as a symbol of Indonesia’s solidarity and humanitarian commitment to the people of Bosnia and Herzegovina in the aftermath of the Balkan conflict in the 1990s. The construction of the mosque was initiated by the Government of the Republic of Indonesia as an expression of moral and humanitarian support for the Bosnian people during the post-war recovery period.
During the visit, Minister Sjafrie underscored that relations between Indonesia and Bosnia and Herzegovina are built upon enduring values of friendship, solidarity, and humanity. These values continue to serve as an important foundation for strengthening strategic partnership and for joint contributions by both countries to peace.
Red
#SjafrieSjamsoeddin
#MenhanSjafrie
#KemhanRI
#PertahananUntukIndonesia #IndonesiaBosniaHerzegovina
SEMARANG, www.detik-nasional.com Kanal Banjir Barat (KBB) Kota Semarang menjadi saksi persaingan sengit ratusan atlet dalam ajang Lomba Dayung Nasional Piala Bergilir Menteri Pekerjaan Umum (PU) Tahun 2026. Kompetisi bergengsi ini resmi dibuka pada Sabtu (10/1/2026) sebagai ajang penjaringan talenta muda sekaligus penguatan karakter insan PU.
Acara dibuka secara resmi oleh Kepala Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BPSDM) Kementerian PU, Apri Artoto, S.T., M.P.P.M. Dalam sambutannya, ia menekankan pentingnya filosofi mendayung dalam kerja tim.
“Tidak ada perahu yang dapat melaju dengan baik hanya karena satu orang mendayung lebih kuat. Keberhasilan hanya dapat dicapai apabila seluruh tim bergerak seirama menuju tujuan yang sama,” tegas Apri Artoto di hadapan para peserta.
Membentuk Karakter Tangguh
Apri menambahkan bahwa Politeknik Pekerjaan Umum (PUtech), sebagai institusi vokasi, memiliki peran strategis dalam mencetak generasi profesional. Menurutnya, kompetisi ini bukan sekadar mengejar juara, melainkan upaya membentuk talenta yang memiliki keseimbangan antara kecerdasan teknis, kesehatan jasmani, dan ketangguhan mental.
Suara Anda Penting bagi Kami
Di DETIK Nasional, akurasi adalah prioritas utama. Jika Anda merasa terdapat informasi yang kurang tepat atau merasa dirugikan oleh pemberitaan kami, jangan ragu untuk mengajukan Berita Sanggahan atau Hak Jawab.
Kami berkomitmen untuk mendengarkan dan mengoreksi demi informasi yang lebih berkualitas bagi masyarakat.
Kementerian PU pun berharap ajang ini dapat masuk ke dalam kalender resmi Pengurus Besar Persatuan Olahraga Dayung Seluruh Indonesia (PB PODSI).
“Ke depan, kami berharap lomba ini ditetapkan sebagai agenda tetap PB PODSI sebagai bentuk kontribusi berkelanjutan bagi pembinaan dan pengembangan olahraga dayung nasional,” imbuhnya.
Antusiasme Peserta Meningkat
Ketua Penyelenggara sekaligus Direktur II Bidang Administrasi Umum Politeknik PU, Ir. Iriandi Azwartika, Sp-1, melaporkan bahwa antusiasme tahun ini sangat luar biasa. Sejak dimulai pada 2023, jumlah partisipan terus menunjukkan tren positif.
“Tahun ini diikuti oleh 511 peserta yang terbagi dalam berbagai kategori, mulai dari Dragon Boat Race (DBR) hingga Stand Up Paddle (SUP),” jelas Iriandi.
Rincian kategori lomba meliputi:
Dragon Boat Race (DBR): Terdiri dari kategori Unit Pelaksana Teknis (UPT) Kementerian PU (8 tim), DBR Mix 500 meter Umum (13 tim), serta kategori Pelajar/Mahasiswa (10 tim).
Stand Up Paddle (SUP): Menandingkan nomor 200 meter Putra (26 peserta) dan 200 meter Putri (25 peserta).
Dukungan Akademik dan Prestasi
Senada dengan hal tersebut, Direktur PUtech, Ir. Brawijaya, S.E., M.Eng.I.E, MSCE, Ph.D.IPU, ASEAN.Eng., menegaskan komitmen institusi dalam mendukung Tridharma Perguruan Tinggi melalui kegiatan non-akademik.
Suara Anda Penting bagi Kami
Di DETIK Nasional, akurasi adalah prioritas utama. Jika Anda merasa terdapat informasi yang kurang tepat atau merasa dirugikan oleh pemberitaan kami, jangan ragu untuk mengajukan Berita Sanggahan atau Hak Jawab.
Kami berkomitmen untuk mendengarkan dan mengoreksi demi informasi yang lebih berkualitas bagi masyarakat.
“PUtech terus mendorong prestasi olahraga, khususnya dayung. Ini adalah cabang olahraga yang terbukti memberikan kontribusi besar bagi prestasi Indonesia di kancah internasional,” pungkas Brawijaya.
Pembukaan ini turut dihadiri oleh Sekretaris BPSDM Lina Anggraini, jajaran Pemerintah Kota Semarang dan Provinsi Jawa Tengah, TNI AL, Polairud, BBWS Pemali Juana, serta perwakilan dari PODSI dan KONI.
Re
Jakarta, DN-II Rektor Universitas Pertahanan Republik Indonesia (Unhan RI), Letnan Jenderal TNI (Purn.) Dr. Anton Nugroho, M.M.D.S., M.A., menghadiri keberangkatan Menteri Pertahanan Republik Indonesia, Jenderal TNI (Purn.) Dr. Sjafrie Sjamsoeddin, M.B.A., beserta rombongan dalam rangka lawatan resmi ke Turkiye, Bosnia dan Pakistan. Kegiatan ini bertempat di Lanud Halim Perdanakusuma, Jakarta. Kamis, (9/1/2026).
Kegiatan ini turut dihadiri langsung oleh Wakil Menteri Pertahanan RI, Marsekal TNI (Purn.) Donny Ermawan T., M.D.S., M.S.P., Kepala Staf Angkatan Udara (Kasau) Marsekal TNI M. Tonny Harjono, S.E., M.M., Sekretaris Jenderal Kemhan RI Letjen TNI Tri Budi Utomo, S.E., Inspektur Jenderal Kemhan RI Letjen TNI Rui F.G.P. Duarte, M.A., Kepala Badan Cadangan Nasional (Kabacadnas) Kemhan RI Letjen TNI Gabriel Lema, Kepala Baharwathan Kemhan RI Laksdya TNI Ir. Supo Dwi Diantara, S.T., M.Tr.Opsla., IPU., M.A., M.S.P., APEC Eng., para Direktur Jenderal Kemhan RI, serta Pejabat Tinggi TNI.
Lawatan tersebut sebagai bagian dari upaya penguatan kerja sama pertahanan internasional melalui pembahasan dan pengembangan defense cooperation agreement antara Pemerintah Republik Indonesia dengan negara-negara mitra strategis. Agenda ini mencerminkan komitmen Indonesia dalam memperluas jejaring diplomasi pertahanan yang adaptif terhadap dinamika lingkungan strategis global.
Kehadiran Rektor Unhan RI pada momentum keberangkatan ini menegaskan peran Unhan RI sebagai think tank pertahanan negara yang mendukung kebijakan strategis Kementerian Pertahanan RI, khususnya dalam pengembangan sumber daya manusia pertahanan, diplomasi pertahanan, serta kerja sama pendidikan dan riset pertahanan dengan mitra internasional.
(Red/Humas Unhan RI).
Suara Anda Penting bagi Kami
Di DETIK Nasional, akurasi adalah prioritas utama. Jika Anda merasa terdapat informasi yang kurang tepat atau merasa dirugikan oleh pemberitaan kami, jangan ragu untuk mengajukan Berita Sanggahan atau Hak Jawab.
Kami berkomitmen untuk mendengarkan dan mengoreksi demi informasi yang lebih berkualitas bagi masyarakat.
JAKARTA, DN-II Presiden Prabowo Subianto menghadiri Puncak Peringatan Natal Nasional Tahun 2025 yang berlangsung khidmat di Tennis Indoor Senayan, Jakarta, pada Senin (5/1/2026).
Dalam suasana penuh persaudaraan tersebut, Kepala Negara mengajak seluruh elemen bangsa untuk terus memperkuat tali persatuan di tengah keberagaman.
Mengusung tema “Allah Hadir Menyelamatkan Keluarga”, Presiden menekankan bahwa nilai-nilai Natal—seperti kasih, pengorbanan, dan kepedulian—bukanlah hal asing bagi rakyat Indonesia. Menurut beliau, nilai-nilai tersebut sangat selaras dengan jati diri bangsa yang menjunjung tinggi kemanusiaan.
Meneladani Jejak Toleransi Para Pendiri Bangsa
Dalam pidatonya, Presiden Prabowo mengungkapkan rasa bangganya terhadap fondasi toleransi yang telah diletakkan oleh para pendiri bangsa. Beliau memberikan contoh inspiratif saat Presiden pertama RI, Soekarno, memilih arsitek beragama Nasrani untuk membangun Masjid Istiqlal sebagai simbol persatuan yang abadi.
Suara Anda Penting bagi Kami
Di DETIK Nasional, akurasi adalah prioritas utama. Jika Anda merasa terdapat informasi yang kurang tepat atau merasa dirugikan oleh pemberitaan kami, jangan ragu untuk mengajukan Berita Sanggahan atau Hak Jawab.
Kami berkomitmen untuk mendengarkan dan mengoreksi demi informasi yang lebih berkualitas bagi masyarakat.
Tak hanya bicara sejarah, Presiden juga berbagi kisah personal yang menyentuh:
Pembangunan di Hambalang: Melibatkan arsitek dan pekerja beragama Katolik dalam pembangunan masjid.
Harmoni Musik: Pengalaman membina kelompok musik dengan anggota dari berbagai latar belakang iman yang berbeda.
“Keberagaman bagi kita adalah kekuatan, bukan pemisah,” ungkap Presiden.
Aksi Nyata untuk Sesama
Momentum Natal tahun ini juga diwarnai dengan aksi kemanusiaan yang nyata. Presiden memberikan apresiasi tinggi kepada panitia Natal Nasional atas kepedulian mereka yang mewujud dalam:
Renovasi Rumah Ibadah: Bantuan dana sebesar Rp100 juta per gereja untuk renovasi 100 gereja yang tersebar di 38 provinsi.
Kepedulian Bencana: Penyaluran bantuan bagi masyarakat di 3 provinsi yang sedang terdampak musibah.
Menutup arahannya, Presiden berharap semangat Natal ini membawa kedamaian bagi setiap keluarga di Indonesia, sekaligus memperkokoh semangat gotong royong dalam membangun masa depan bangsa yang lebih baik.
Red
Suara Anda Penting bagi Kami
Di DETIK Nasional, akurasi adalah prioritas utama. Jika Anda merasa terdapat informasi yang kurang tepat atau merasa dirugikan oleh pemberitaan kami, jangan ragu untuk mengajukan Berita Sanggahan atau Hak Jawab.
Kami berkomitmen untuk mendengarkan dan mengoreksi demi informasi yang lebih berkualitas bagi masyarakat.
— TIW —
#CatatanSeskab
