BANTEN, DN-II Berdiri kokoh sebagai saksi bisu penyebaran Islam di Tanah Jawara, kompleks pemakaman Syekh Maulana Hasanuddin terus menjadi magnet bagi para peziarah. Tidak hanya dari penjuru nusantara, kemasyhuran makam Sultan pertama Banten ini bahkan telah terdengar hingga ke mancanegara.
Pak Ridwan, salah satu pengurus makam dan masjid yang telah mengabdi selama satu dekade, menuturkan bahwa kompleks ini merupakan situs sejarah yang sangat tua. Menurut estimasinya, makam ini telah berusia hampir 400 tahun.
Raja Pertama dan Garis Keturunan Mulia
Syekh Maulana Hasanuddin bukan sekadar tokoh agama, melainkan pemimpin besar. Beliau merupakan putra dari Sunan Gunung Jati (Cirebon) dan tercatat sebagai Raja atau Sultan pertama yang memimpin kesultanan Banten.
”Beliau dimakamkan sekitar tahun 1525-an. Beliau adalah Raja Banten pertama kali,” ujar Pak Ridwan saat ditemui di lokasi.
Peziarah Tanpa Henti: Dari Nusantara hingga Luar Negeri
Daya tarik makam ini seolah tak pernah pudar oleh waktu. Pak Ridwan menjelaskan bahwa setiap hari, siang maupun malam, area makam selalu dipadati oleh pengunjung yang ingin memanjatkan doa.
Suara Anda Penting bagi Kami
Di DETIK Nasional, akurasi adalah prioritas utama. Jika Anda merasa terdapat informasi yang kurang tepat atau merasa dirugikan oleh pemberitaan kami, jangan ragu untuk mengajukan Berita Sanggahan atau Hak Jawab.
Kami berkomitmen untuk mendengarkan dan mengoreksi demi informasi yang lebih berkualitas bagi masyarakat.
- Asal Pengunjung: Seluruh Indonesia hingga luar negeri.
- Waktu Kunjungan: Aktif 24 jam (siang dan malam).
- Tujuan Ziarah: Menyambung silaturahmi spiritual dan mengharap keberkahan.
Mengharap Karomah Sang Wali
Bagi masyarakat yang datang, berziarah ke makam Syekh Maulana Hasanuddin bukan sekadar wisata religi biasa. Ada keyakinan akan kemuliaan yang melekat pada sosok beliau sebagai kekasih Allah (Waliullah).
”Semua yang berkunjung ke sini tujuannya pertama untuk silaturahmi, lalu meminta karomah dari Wali Allah. Namanya orang mulia pasti punya kemuliaan dan karomah, karena orang yang taat kepada Allah pasti diberikan hal tersebut,” tambah Pak Ridwan.
Hingga saat ini, Makam Syekh Maulana Hasanuddin tetap menjadi pusat spiritualitas yang menghubungkan generasi masa kini dengan kejayaan Islam di masa lalu. Pengabdian para pengurus seperti Pak Ridwan memastikan bahwa warisan sejarah ini tetap terjaga bagi siapa pun yang datang mencari ketenangan dan berkah.
Reporter: Teguh
CIREBON, DN-II Di balik riuh rendah langkah peziarah yang memadati kompleks Makam Sunan Gunung Jati, Cirebon, terselip kisah kesetiaan yang melampaui waktu. Di sana, Pak Sabdi berdiri dengan sapu di tangan, menjaga kesucian area yang dianggap keramat tersebut. Ia bukan sekadar petugas kebersihan; ia adalah saksi bisu sejarah yang telah mendedikasikan tiga dekade hidupnya di sana. (8/2/2026).
Selama 30 tahun—sejak masa lajang hingga kini memiliki anak yang beranjak dewasa—Pak Sabdi setia melakoni perannya. Baginya, menyapu lantai atau mengumpulkan sampah di area makam bukanlah beban pekerjaan, melainkan sebuah bentuk pengabdian spiritual.
Karomah yang Menghidupi
Dalam percakapan hangat di sela tugasnya, Pak Sabdi berbagi pandangan mendalam mengenai sosok Sunan Gunung Jati. Baginya, sang Wali tidak benar-benar meninggalkan umatnya. Meski telah wafat berabad-abad silam, “kehadiran” Sunan Gunung Jati tetap menjadi magnet ekonomi dan spiritual bagi masyarakat sekitar.
”Hikmahnya adalah kita mendapat bakti dari orang yang sudah wafat kepada kita yang masih hidup. Lewat perantara beliau, anak cucu dan masyarakat sekitar diberikan jalan rezeki. Dari anak kecil hingga orang dewasa, semua ‘kecipratan’ berkah,” ungkap Pak Sabdi dengan raut wajah penuh syukur.
Arus peziarah yang tak pernah putus menjadi bukti nyata ucapannya. Tak hanya warga lokal dari pelosok Nusantara, Pak Sabdi menuturkan bahwa wisatawan mancanegara pun kerap datang berkunjung. “Tadi baru saja ada rombongan dari Bombay, India,” tambahnya, menunjukkan betapa luasnya jangkauan pengaruh sang Wali.
Suara Anda Penting bagi Kami
Di DETIK Nasional, akurasi adalah prioritas utama. Jika Anda merasa terdapat informasi yang kurang tepat atau merasa dirugikan oleh pemberitaan kami, jangan ragu untuk mengajukan Berita Sanggahan atau Hak Jawab.
Kami berkomitmen untuk mendengarkan dan mengoreksi demi informasi yang lebih berkualitas bagi masyarakat.
Filosofi di Balik Sumur Jati Waluyo Urip
Salah satu magnet utama di kompleks ini adalah Sumur Jati, sebuah sumber air yang dikeramatkan. Pak Sabdi menjelaskan bahwa nama lengkap sumber tersebut adalah Sumur Jati Waluyo Urip, yang menyimpan pesan filosofis mendalam:
- Waluyo: Melambangkan kebersihan atau kesucian hati.
- Urip: Melambangkan hidup yang mulia dan bermanfaat.
”Maknanya sederhana namun dalam. Siapa pun yang datang dan bersuci di sana, diharapkan hatinya menjadi bersih sehingga hidupnya pun akan menjadi mulia,” jelas Pak Sabdi sembari menunjuk ke arah lokasi sumur.
Penjaga Warisan Tak Kasat Mata
Kisah Pak Sabdi adalah potret kecil dari besarnya pengaruh Sunan Gunung Jati yang melintasi zaman. Melalui tangan-tangan tulus seperti Pak Sabdi, warisan sang Wali tidak hanya terjaga secara fisik, tetapi juga tetap hidup dalam sanubari setiap pengunjung.
Di makam ini, berkah tidak hanya turun dalam bentuk doa yang terkabul, tetapi juga dalam bentuk dedikasi seorang pria yang menemukan tujuan hidupnya dalam menjaga kebersihan rumah terakhir sang Guru Bangsa.
Reporter: Teguh
JAKARTA, DN-II Presiden RI Prabowo Subianto menghadiri acara “Bersatu dalam Munajat untuk Keselamatan Bangsa” sekaligus Pengukuhan dan Ta’aruf Pengurus Majelis Ulama Indonesia (MUI) Masa Khidmat 2025–2030 di Masjid Istiqlal, Jakarta, Sabtu (07/02/2026).
Dalam sambutannya, Presiden Prabowo menekankan bahwa sinergi antara ulama (pemimpin agama) dan umara (pemimpin pemerintahan) merupakan pilar utama dalam menjaga stabilitas serta mewujudkan kemakmuran di tanah air.
MUI sebagai Pilar Stabilitas
Presiden memberikan apresiasi mendalam terhadap peran strategis MUI yang selama ini konsisten menjadi peneduh bagi umat. Menurutnya, MUI bukan sekadar lembaga keagamaan, melainkan pilar stabilitas dan toleransi yang selalu hadir di garda terdepan, termasuk dalam situasi sulit seperti penanganan bencana alam.
“Kolaborasi antara pemimpin agama dan pemerintah akan membawa Indonesia menjadi bangsa besar yang mampu melindungi segenap tumpah darahnya,” ujar Presiden.
Suara Anda Penting bagi Kami
Di DETIK Nasional, akurasi adalah prioritas utama. Jika Anda merasa terdapat informasi yang kurang tepat atau merasa dirugikan oleh pemberitaan kami, jangan ragu untuk mengajukan Berita Sanggahan atau Hak Jawab.
Kami berkomitmen untuk mendengarkan dan mengoreksi demi informasi yang lebih berkualitas bagi masyarakat.
Komitmen Pemberantasan Korupsi
Di hadapan para pengurus MUI yang baru dikukuhkan, Kepala Negara juga menyinggung tantangan besar nasional. Ia mengajak seluruh elemen bangsa untuk bersatu dalam memerangi kemiskinan dan memastikan kekayaan alam Indonesia dikelola sepenuhnya untuk kesejahteraan rakyat.
Secara spesifik, Presiden Prabowo menegaskan komitmennya dalam menciptakan pemerintahan yang bersih. Beliau menyatakan tidak akan mundur setapak pun dalam upaya:
Memberantas praktik korupsi secara sistematis.
Menegakkan hukum tanpa pandang bulu.
Mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.
“Dukungan dan persatuan dari para ulama memberikan kekuatan moral luar biasa bagi saya dalam menjalankan amanah untuk menegakkan keadilan di seluruh penjuru tanah air,” tegasnya.
Acara ini diakhiri dengan prosesi pengukuhan pengurus pusat MUI periode 2025–2030 yang diharapkan dapat terus bersinergi dengan pemerintah dalam menjaga keutuhan NKRI.
Red
Tag:
Sumber: BPMI Setpres
#KemensetnegRI
#RilisPresiden
#PresidenPrabowo
#MUI2025
#PersatuanBangsa
#MasjidIstiqlal
#KemensetnegRI
Suara Anda Penting bagi Kami
Di DETIK Nasional, akurasi adalah prioritas utama. Jika Anda merasa terdapat informasi yang kurang tepat atau merasa dirugikan oleh pemberitaan kami, jangan ragu untuk mengajukan Berita Sanggahan atau Hak Jawab.
Kami berkomitmen untuk mendengarkan dan mengoreksi demi informasi yang lebih berkualitas bagi masyarakat.
JAKARTA, DN-II Presiden Prabowo Subianto menghadiri acara “Bersatu dalam Munajat untuk Keselamatan Bangsa” sekaligus Pengukuhan dan Ta’aruf Pengurus Majelis Ulama Indonesia (MUI) Masa Khidmat 2025–2030 di Masjid Istiqlal, Jakarta, Sabtu (7/2/2026).
Dalam sambutannya, Kepala Negara menegaskan peran krusial MUI sebagai jangkar stabilitas nasional. Menurut Presiden, MUI bukan sekadar organisasi keagamaan, melainkan pilar yang menentukan arah kehidupan berbangsa dan bernegara.
“MUI selalu menjadi pilar stabilitas, ketenangan, kesejukan, dan toleransi antarumat beragama. MUI tidak pernah absen saat bangsa mengalami kesulitan,” ujar Presiden Prabowo.
Beliau juga mengapresiasi respons cepat MUI dalam membantu penanganan bencana alam yang baru-baru ini melanda sejumlah wilayah, mulai dari Aceh, Sumatra Barat, hingga Sumatra Utara.
Sinergi Ulama dan Pemerintah
Suara Anda Penting bagi Kami
Di DETIK Nasional, akurasi adalah prioritas utama. Jika Anda merasa terdapat informasi yang kurang tepat atau merasa dirugikan oleh pemberitaan kami, jangan ragu untuk mengajukan Berita Sanggahan atau Hak Jawab.
Kami berkomitmen untuk mendengarkan dan mengoreksi demi informasi yang lebih berkualitas bagi masyarakat.
Lebih lanjut, Presiden menekankan bahwa sejarah peradaban membuktikan bahwa bangsa yang makmur adalah bangsa yang mampu menjaga perdamaian. Hal tersebut, menurutnya, hanya bisa dicapai jika para pemimpin agama (ulama) dan pemimpin pemerintahan (umara) berjalan beriringan.
“Persatuan antara ulama dan umara merupakan kunci utama terciptanya perdamaian, kemakmuran, dan kebangkitan bangsa Indonesia,” tegasnya.
Kado untuk Umat: Gedung Baru di Jantung Ibu Kota
Sebagai bentuk dukungan nyata pemerintah terhadap penguatan institusi Islam, Presiden Prabowo mengumumkan rencana pembangunan gedung baru bagi MUI. Pemerintah telah menyiapkan lahan strategis seluas kurang lebih 4.000 meter persegi di kawasan Bundaran Hotel Indonesia (HI), Jakarta.
Lahan tersebut nantinya akan difungsikan sebagai pusat aktivitas MUI serta berbagai lembaga umat Islam lainnya, sehingga koordinasi dan pelayanan kepada umat dapat terpusat di jantung ibu kota.
Red
— TIW —
#CatatanSeskab
Membangun Masa Depan: Antara Keberanian Melangkah dan Ketajaman Firasat. “Suara Hati”
Melampaui Jerat Keraguan: Mengukir Takdir di Atas Ketidakpastian
CATATAN:
Oleh: Casroni / 7 Februari 2026.
www.Detik-Nasional.Com – Banyak orang mengubur mimpi berwirausaha karena terlalu lama terjebak dalam labirin pertimbangan risiko. Padahal, dunia bisnis tidak pernah meminta kurikulum teori yang sempurna; ia hanya menuntut keberanian untuk melangkah. Jika Anda masih ragu, ingatlah satu prinsip dasar: Sekecil apa pun skala bisnis yang Anda rintis, Anda adalah pemimpinnya, bukan sekadar roda penggerak di mesin orang lain.
Mentalitas di Atas Modal
Suara Anda Penting bagi Kami
Di DETIK Nasional, akurasi adalah prioritas utama. Jika Anda merasa terdapat informasi yang kurang tepat atau merasa dirugikan oleh pemberitaan kami, jangan ragu untuk mengajukan Berita Sanggahan atau Hak Jawab.
Kami berkomitmen untuk mendengarkan dan mengoreksi demi informasi yang lebih berkualitas bagi masyarakat.
Menjadi bos bagi diri sendiri bukanlah soal seberapa besar angka di rekening bank, melainkan soal transformasi mentalitas. Seringkali, ketakutan akan kegagalan menjadi barikade utama yang mematikan langkah. Namun, dalam ekosistem ekonomi yang dinamis saat ini, sikap “nekat” yang terukur jauh lebih berharga daripada kecerdasan intelektual yang hanya berakhir sebagai angan-angan di atas kertas.
Ada adagium yang perlu kita renungkan: “Lebih baik nekat lalu berdarah-darah belajar untuk sukses, daripada pintar namun hanya berakhir sebagai penonton kesuksesan orang lain.”
Kesalahan Adalah Nutrisi Strategi
Jangan pernah memandang kesalahan sebagai titik henti. Di dunia profesional, setiap kekeliruan adalah “nutrisi” bagi intuisi bisnis Anda. Menunda langkah dengan alasan menunggu “waktu yang tepat” atau “datangnya keberuntungan” adalah jebakan psikologis yang paling mematikan. Waktu yang tepat tidak pernah datang; ia diciptakan melalui keputusan-keputusan kecil yang berani. 
Rumus Menjadi Tak Terhentikan
Untuk bertahan dan memenangkan pasar yang kian kompetitif, seorang perintis harus mampu mengawinkan dua keterampilan fundamental secara beriringan:
Kemampuan Menjual (Selling): Seni memasarkan nilai dan solusi, bukan sekadar menawarkan barang.
Kemampuan Membangun (Building): Kapasitas untuk menciptakan produk berkualitas atau sistem operasional yang solid.
Jika Anda menguasai seni menjual sekaligus mahir dalam membangun sistem, Anda akan menjadi kekuatan yang sulit dihentikan oleh kompetitor mana pun.
Kesimpulan: Menjemput Masa Depan
Suara Anda Penting bagi Kami
Di DETIK Nasional, akurasi adalah prioritas utama. Jika Anda merasa terdapat informasi yang kurang tepat atau merasa dirugikan oleh pemberitaan kami, jangan ragu untuk mengajukan Berita Sanggahan atau Hak Jawab.
Kami berkomitmen untuk mendengarkan dan mengoreksi demi informasi yang lebih berkualitas bagi masyarakat.
Masa depan tidak datang kepada mereka yang menunggu di pinggir lapangan, tetapi kepada mereka yang berani masuk ke arena dan menjemputnya. Keberuntungan hanyalah sebuah titik temu antara persiapan yang matang dan kesempatan yang diambil.
Berhentilah menunda-nunda jika Anda benar-benar peduli pada kualitas hidup Anda di masa depan. Jangan sampai Anda menua hanya untuk meratapi tumpukan peluang yang pernah Anda biarkan lewat begitu saja. Pilihannya hanya dua: mulai sekarang, atau menyesal selamanya. (**)
SMPN 1 Rambang Kuang Resmi Melantik Pengurus OSIS Periode 2026/2027
RAMBANG KUANG, WWW.DETIK-NASIOANAL.COM // SMPN 1 Rambang Kuang sukses melaksanakan upacara pelantikan pengurus Organisasi Siswa Intra Sekolah (OSIS) untuk masa bakti periode tahun 2026/2027. Kegiatan khidmat ini berlangsung pada hari Kamis (15/01/2026) dan dipusatkan di lapangan utama SMPN 1 Rambang Kuang dengan diikuti oleh seluruh siswa, guru, serta staf kependidikan.
Pelantikan kepengurusan OSIS yang baru ini dihadiri dan dilantik langsung oleh Kepala SMPN 1 Rambang Kuang, Darmansyah, M.Pd. Prosesi dimulai dengan pembacaan surat keputusan kepala sekolah mengenai susunan pengurus baru, yang dilanjutkan dengan pengambilan sumpah janji jabatan di hadapan seluruh peserta upacara sebagai bentuk komitmen menjalankan amanah.
Dalam suasana yang penuh semangat, dilakukan pula prosesi serah terima jabatan dari pengurus OSIS periode sebelumnya kepada pengurus yang baru. Penyerahan bendera pataka OSIS menjadi simbol beralihnya tongkat estafet kepemimpinan dan tanggung jawab organisasi kepada putra-putri terbaik sekolah yang telah terpilih melalui proses seleksi yang ketat.
Darmansyah, M.Pd dalam amanatnya menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya kepada pengurus OSIS lama atas dedikasi dan kontribusi mereka selama satu tahun terakhir. Beliau berharap agar segala pengalaman organisasi yang telah didapatkan dapat menjadi bekal berharga bagi pengembangan diri mereka di masa yang akan datang.
Suara Anda Penting bagi Kami
Di DETIK Nasional, akurasi adalah prioritas utama. Jika Anda merasa terdapat informasi yang kurang tepat atau merasa dirugikan oleh pemberitaan kami, jangan ragu untuk mengajukan Berita Sanggahan atau Hak Jawab.
Kami berkomitmen untuk mendengarkan dan mengoreksi demi informasi yang lebih berkualitas bagi masyarakat.
Kepada pengurus OSIS periode 2026/2027 yang baru dilantik, Darmansyah, M.Pd berpesan agar mereka mampu menjadi teladan bagi siswa lainnya dalam hal kedisiplinan dan prestasi. Beliau menekankan pentingnya kerja sama tim serta inovasi dalam menyusun program kerja yang dapat mengharumkan nama baik SMPN 1 Rambang Kuang.
Upacara pelantikan ini ditutup dengan pemberian ucapan selamat dari para guru dan sesi foto bersama sebagai dokumentasi sejarah sekolah. Dengan resminya pelantikan ini, diharapkan pengurus OSIS yang baru dapat segera menjalankan tugasnya dengan penuh tanggung jawab demi kemajuan dan kreativitas siswa di lingkungan sekolah.
REPORT : JULIYAN
SMPN 1 Rambang Kuang Peringati Isra Mi’raj dengan Khidmat dan Meriah
RAMBANG KUANG, WWW.DETIK-NASIONAL.COM // SMPN 1 Rambang Kuang menggelar peringatan Isra Mi’raj Nabi Muhammad SAW pada hari Kamis (30/01/2026). Kegiatan yang dipusatkan di lingkungan sekolah ini menjadi momentum penting bagi seluruh warga sekolah untuk mengenang kembali perjalanan agung Rasulullah SAW sekaligus memperkuat nilai-nilai spiritual di tengah perkembangan zaman.
Acara ini dihadiri langsung oleh Kepala SMPN 1 Rambang Kuang, dewan guru, staf tata usaha, serta seluruh siswa-siswi. Kehadiran para tenaga pendidik ini memberikan dukungan penuh terhadap pelaksanaan kegiatan keagamaan sebagai bagian dari upaya pembentukan karakter dan akhlak mulia bagi generasi muda di lingkungan sekolah.
Suasana religius sangat terasa dengan rangkaian acara yang disusun secara apik. Kegiatan diawali dengan pembacaan ayat suci Al-Qur’an, kemudian dilanjutkan dengan lantunan selawat Nabi yang dibawakan oleh grup rebana sekolah. Iringan gendang rebana yang harmonis menambah kekhusyukan dan kemeriahan, sekaligus menunjukkan bakat seni religi para siswa.

Suara Anda Penting bagi Kami
Di DETIK Nasional, akurasi adalah prioritas utama. Jika Anda merasa terdapat informasi yang kurang tepat atau merasa dirugikan oleh pemberitaan kami, jangan ragu untuk mengajukan Berita Sanggahan atau Hak Jawab.
Kami berkomitmen untuk mendengarkan dan mengoreksi demi informasi yang lebih berkualitas bagi masyarakat.
Dalam sambutannya, Darmansyah, M.Pd selaku Kepala Sekolah menyampaikan pesan mendalam mengenai esensi dari peristiwa Isra Mi’raj. Beliau menekankan bahwa peristiwa ini bukan sekadar sejarah masa lalu, melainkan pengingat bagi setiap muslim tentang pentingnya perintah salat lima waktu sebagai tiang agama yang harus dijaga dengan disiplin dan penuh keikhlasan.
Lebih lanjut, Darmansyah, M.Pd berharap agar semangat peringatan ini dapat diimplementasikan siswa dalam kehidupan sehari-hari, terutama dalam meningkatkan kedisiplinan belajar. Beliau berpesan agar nilai ketaatan yang diajarkan dalam ibadah salat mampu membentuk pribadi siswa yang jujur, bertanggung jawab, serta hormat kepada orang tua dan bapak-ibu guru.
Kegiatan ditutup dengan tausiah keagamaan yang mengupas hikmah perjalanan Rasulullah dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa hingga ke Sidratul Muntaha. Seluruh rangkaian acara berlangsung dengan lancar dan tertib, meninggalkan kesan mendalam serta semangat baru bagi keluarga besar SMPN 1 Rambang Kuang untuk terus memperbaiki diri.
REPORT : JULIYAN
WWW.DETIK-NASIONAL.COM – Seringkali kita merasa dunia bersikap tidak adil atau menyalahkan keadaan yang menjepit. Namun, mari sejenak merenung jujur: mungkinkah dunia tidak sepenuhnya jahat, melainkan kita yang kehilangan arah? Tanpa mimpi yang presisi, manusia ibarat kapal tanpa nakhoda—hanya menunggu waktu untuk karam dihantam ombak zaman.
Mimpi: Kompas di Tengah Badai Disrupsi
Langkah pertama untuk bertahan hidup di era disrupsi bukanlah sekadar bekerja keras tanpa tujuan, melainkan memiliki visi yang konkret. Di tengah ketidakpastian global, kita harus berani menjawab tantangan eksistensial: “Akan menjadi siapa saya di masa depan?”
Jika sejak awal kita gagal menetapkan tujuan, jangan harap peluang akan datang mengetuk pintu. Pikiran manusia bekerja layaknya radar; tanpa koordinat yang jelas, ia tidak akan pernah “terprogram” untuk mengenali celah keberhasilan di tengah kesempitan. Mimpi bukan sekadar khayalan, melainkan jangkar agar kita tidak hanyut oleh arus tren yang sesaat.
Peluang Adalah Anak Kandung Keberanian
Suara Anda Penting bagi Kami
Di DETIK Nasional, akurasi adalah prioritas utama. Jika Anda merasa terdapat informasi yang kurang tepat atau merasa dirugikan oleh pemberitaan kami, jangan ragu untuk mengajukan Berita Sanggahan atau Hak Jawab.
Kami berkomitmen untuk mendengarkan dan mengoreksi demi informasi yang lebih berkualitas bagi masyarakat.
Ada korelasi organik antara keberanian bermimpi dan terciptanya kesempatan. Peluang tidak turun secara ajaib dari langit; ia adalah hasil dari pikiran yang terus bertanya, “Bagaimana cara mewujudkan ini?” Saat seseorang mematok target tinggi, otaknya secara otomatis akan aktif mencari strategi dan solusi. Singkatnya, peluang hanya akan menampakkan diri kepada mereka yang memang sedang mencarinya. Di sinilah garis tegas yang memisahkan antara mereka yang hanya menunggu nasib dan mereka yang menjemput takdir.
Bahaya Terjebak dalam ‘Zona Pasrah’
Salah satu hambatan terbesar masyarakat kita adalah salah kaprah dalam memaknai rasa syukur dan ikhlas. Menghargai apa yang dimiliki adalah kebajikan, namun menjadikannya alasan untuk berhenti berjuang adalah kekeliruan fatal.
Menerima nasib—seperti kemiskinan atau keterbatasan—tanpa upaya untuk mendobraknya bukanlah bentuk keikhlasan, melainkan kepasrahan yang melumpuhkan. Di dunia yang bergerak secara eksponensial, sikap diam berarti tertinggal. Perubahan nasib selalu dimulai dari sebuah penolakan: menolak menyerah pada keadaan, lalu menetapkan standar hidup yang lebih tinggi.
Manifesto Perubahan: Dari Mimpi Menjadi Aksi
Agar visi Anda tidak berakhir di bantal tidur, diperlukan langkah taktis untuk mengubah mimpi menjadi realitas:
Visualisasi yang Terukur: Jangan hanya ingin “sukses”. Tuliskan secara spesifik apa pencapaian Anda dalam 5 tahun ke depan. Spesifikasi adalah kunci eksekusi; tanpa detail, mimpi hanyalah halusinasi.
Redefinisi Ikhlas vs Pasrah: Kita harus ikhlas menerima hasil akhir setelah berjuang maksimal, namun harus tetap “lapar” dan ambisius dalam menjalani prosesnya.
Inkubasi Peluang Kecil: Jangan menunggu momentum besar yang langka. Ciptakan momentum Anda sendiri melalui konsistensi langkah kecil setiap harinya.
Dunia tidak berutang apa pun pada kita. Namun, kita berutang pada diri sendiri untuk tidak membiarkan potensi hebat mati terkubur oleh rasa malas yang dibungkus dengan label “nasib”.
Suara Anda Penting bagi Kami
Di DETIK Nasional, akurasi adalah prioritas utama. Jika Anda merasa terdapat informasi yang kurang tepat atau merasa dirugikan oleh pemberitaan kami, jangan ragu untuk mengajukan Berita Sanggahan atau Hak Jawab.
Kami berkomitmen untuk mendengarkan dan mengoreksi demi informasi yang lebih berkualitas bagi masyarakat.
Opini:
Penulis: Casroni
Sabtu, 7 Februari 2026
Nasional, DN-II Di tengah dinamika ekonomi global tahun 2026 yang kian tak terprediksi, doktrin klasik “hemat pangkal kaya” mulai dipertanyakan relevansinya. Para pakar psikologi finansial menemukan fenomena paradoks: individu yang terlalu protektif terhadap uangnya hingga level “pelit” justru cenderung mengalami stagnansi ekonomi. Mengapa ambisi untuk menumpuk justru sering kali berujung pada kemacetan rezeki?
Paradoks Scarcity Mindset
Banyak orang terjebak dalam penghematan ekstrem namun tetap merasa hidupnya penuh tekanan dan dihantui utang. Masalahnya bukan pada nominal di saldo rekening, melainkan pada energi psikologis yang mendasarinya.
Dalam psikologi, ini dikenal sebagai Scarcity Mindset (Mentalitas Kekurangan). Ada garis tipis namun krusial antara pengelolaan keuangan yang bijak (frugal living) dengan tindakan menahan uang karena ketakutan (pelit).
“Saat seseorang mengeluarkan uang dengan rasa cemas, ia secara tidak sadar sedang menanamkan afirmasi ‘tidak mampu’ ke dalam alam bawah sadarnya,” ungkap sebuah laporan perilaku konsumen baru-baru ini.
Suara Anda Penting bagi Kami
Di DETIK Nasional, akurasi adalah prioritas utama. Jika Anda merasa terdapat informasi yang kurang tepat atau merasa dirugikan oleh pemberitaan kami, jangan ragu untuk mengajukan Berita Sanggahan atau Hak Jawab.
Kami berkomitmen untuk mendengarkan dan mengoreksi demi informasi yang lebih berkualitas bagi masyarakat.
Uang Ibarat Air yang Mengalir
Secara filosofis, uang bukanlah benda mati; ia adalah energi yang menyerupai air. Air yang mengalir akan tetap jernih dan memberi kehidupan, sementara air yang tergenang dalam wadah yang tertutup rapat cenderung menjadi keruh dan mati.
Frekuensi Kekurangan: Mengeluarkan uang dengan berat hati atau keluhan hanya memvalidasi kondisi kemiskinan mental. Dampaknya nyata secara psikis: rezeki terasa “seret”, muncul pengeluaran tak terduga (biaya servis mendadak atau tagihan medis), dan peluang emas seolah menjauh karena tertutup oleh aura kecemasan.
Frekuensi Kelimpahan: Sebaliknya, bertransaksi dengan rasa syukur dan kepercayaan bahwa uang adalah alat sirkulasi nilai akan menyelaraskan seseorang dengan frekuensi kelimpahan. Ini bukan ajakan untuk konsumerisme buta, melainkan tentang menjaga ketenangan batin dalam setiap arus kas yang keluar.
Mengaktifkan “Magnet” Rezeki
Mengubah nasib finansial tidak melulu soal menambah jam kerja lembur, melainkan mengubah resonansi emosional terhadap uang. Berikut adalah langkah praktis untuk bergeser dari rasa “takut kurang” menuju “selalu cukup”:
Apresiasi Kecil yang Berdampak: Membiasakan memberi tip kepada pengemudi ojek online atau kurir dengan doa tulus. Nilai yang mungkin kecil bagi Anda adalah investasi energi positif yang akan kembali dalam bentuk yang tak terduga.
Melancarkan Ekonomi Lokal: Belanja di warung tetangga atau UMKM tanpa menawar secara berlebihan. Ini adalah bentuk dukungan agar sirkulasi ekonomi tetap berputar di ekosistem terdekat Anda. 
Sedekah Sebagai Sinyal Kelimpahan: Memberi adalah instruksi terkuat kepada alam bawah sadar bahwa Anda memiliki “lebih dari cukup”. Sedekah meruntuhkan tembok ketakutan akan hari esok.
Kesimpulan: Filosofi Tangan Terbuka
Suara Anda Penting bagi Kami
Di DETIK Nasional, akurasi adalah prioritas utama. Jika Anda merasa terdapat informasi yang kurang tepat atau merasa dirugikan oleh pemberitaan kami, jangan ragu untuk mengajukan Berita Sanggahan atau Hak Jawab.
Kami berkomitmen untuk mendengarkan dan mengoreksi demi informasi yang lebih berkualitas bagi masyarakat.
Kekayaan sejati tidak datang dari seberapa ketat kita menggenggam dompet, melainkan dari seberapa luas kita membuka hati. Saat uang dilepaskan dengan rasa bahagia dan tujuan yang baik, Anda sebenarnya sedang melakukan investasi energi. Hasilnya tidak selalu berupa uang tunai instan, namun bisa berupa ide cemerlang, kemudahan urusan, hingga relasi yang bernilai tinggi.
Ingatlah sebuah hukum alam yang sederhana: Tangan yang tertutup rapat memang tidak akan kehilangan apa pun, tetapi ia juga tidak akan pernah bisa menerima apa pun.
Penulis: Casroni – 5 Februari 2026.
Editor: Redaksi
Sumber: Detik-Nasional.Com
BREBES, DETIK-NASIONAL.COM – Menjelang tibanya malam Nisfu Syaban 1447 Hijriah, perwakilan media Detik Nasional, Casroni, mengajak seluruh lapisan masyarakat untuk menjadikan momentum sakral ini sebagai sarana mempererat tali silaturahmi sekaligus pembersihan diri secara spiritual. (2/2/2026).
Berdasarkan perhitungan kalender Hijriah, pergantian hari dimulai saat matahari terbenam (maghrib). Mengingat 15 Syaban 1447 H jatuh pada Rabu, 4 Februari 2026, maka malam Nisfu Syaban akan dimulai sejak Selasa malam, 3 Februari 2026.
Momentum Refleksi dan Kerukunan
Dalam pernyataan resminya, Casroni menekankan pentingnya menjaga kerukunan serta budaya saling memaafkan di tengah masyarakat. Menurutnya, malam Nisfu Syaban bukan sekadar rutinitas ibadah, melainkan waktu terbaik untuk melakukan muhasabah atau refleksi diri atas segala tindakan selama setahun terakhir.
“Malam Nisfu Syaban adalah pintu menuju Ramadan. Ini adalah waktu yang tepat bagi kita untuk sejenak berhenti dari kesibukan dunia, menata hati, dan memperbaiki hubungan dengan sesama,” ujar Casroni.
Suara Anda Penting bagi Kami
Di DETIK Nasional, akurasi adalah prioritas utama. Jika Anda merasa terdapat informasi yang kurang tepat atau merasa dirugikan oleh pemberitaan kami, jangan ragu untuk mengajukan Berita Sanggahan atau Hak Jawab.
Kami berkomitmen untuk mendengarkan dan mengoreksi demi informasi yang lebih berkualitas bagi masyarakat.
Permohonan Maaf yang Tulus
Sebagai bagian dari perwakilan media www.detik-nasional.com di wilayah Brebes, Casroni juga memanfaatkan momen ini untuk menyampaikan permohonan maaf secara terbuka kepada kolega, mitra kerja, dan seluruh masyarakat. 
“Menjelang malam yang penuh berkah ini, dengan segala kerendahan hati, saya pribadi beserta keluarga memohon maaf lahir dan batin. Kami menyadari adanya kesalahan, kekhilafan, maupun lisan yang mungkin kurang berkenan di hati Bapak, Ibu, dan saudara sekalian selama ini,” pungkasnya.
Dengan semangat kedamaian, ia berharap masyarakat dapat menyambut malam tersebut dengan penuh kekhusyukan dan optimisme untuk menjadi pribadi yang lebih baik di masa mendatang.
Reporter: Teguh
