BREBES, DN-II Forum Pelanggan Air Minum Tirta Baribis Brebes (Fopambes) secara tegas mendesak Bupati Brebes, Paramita Widya Kusuma, dan Gubernur Jawa Tengah, Ahmad Luthfi, untuk menetapkan kriteria Direktur Utama PDAM yang berwawasan mendalam mengenai isu lingkungan, Daerah Aliran Sungai (DAS), konservasi air, dan pelestarian hutan sebagai sumber air baku utama.
Desakan ini muncul dari kekhawatiran serius bahwa fokus PDAM selama ini terlalu didominasi oleh aspek finansial, mengabaikan tanggung jawab inti mereka dalam pelestarian ekosistem yang menjadi penopang ketersediaan air.
“PDAM Tirta Baribis harus melestarikan lingkungan, bukan hanya fokus pada keuntungan keuangan,” tegas Abdul Jamil, Ketua Fopambes Brebes, dalam pernyataan videonya pada Minggu, 14 Desember 2025.
Kerusakan Hulu DAS Pemali dan Dampaknya yang Merusak
Abdul Jamil mengungkapkan keprihatinan mendalam atas kerusakan lingkungan masif di kawasan hulu DAS Pemali. Kerusakan ini, yang dipicu oleh alih fungsi lahan hutan menjadi perkebunan sayuran, telah menimbulkan dampak langsung dan merugikan bagi masyarakat Brebes:
Suara Anda Penting bagi Kami
Di DETIK Nasional, akurasi adalah prioritas utama. Jika Anda merasa terdapat informasi yang kurang tepat atau merasa dirugikan oleh pemberitaan kami, jangan ragu untuk mengajukan Berita Sanggahan atau Hak Jawab.
Kami berkomitmen untuk mendengarkan dan mengoreksi demi informasi yang lebih berkualitas bagi masyarakat.
Penurunan Debit Air: Pasokan air baku PDAM dan irigasi pertanian menurun drastis.
Kerusakan Infrastruktur: Sejumlah bendungan jebol akibat derasnya aliran dan erosi.
Ancaman Pertanian: Lahan pertanian di Brebes Selatan banyak yang telantar karena kesulitan irigasi, padahal Brebes adalah lumbung padi terluas kedua di Jawa Tengah.
“PDAM harus betul-betul memahami akar permasalahan ini dan disusul dengan upaya nyata bagaimana meningkatkan air baku,” ujar Jamil.
Solusi Konkret: Memprioritaskan Konservasi Melalui CSR
Fopambes mengusulkan agar program Corporate Social Responsibility (CSR) PDAM dialihkan sepenuhnya untuk inisiatif konservasi hulu. Prioritas utamanya adalah penanaman pohon masif di sumber-sumber mata air dan sepanjang Daerah Aliran Sungai.
Langkah ini dinilai sebagai solusi konkret untuk meningkatkan kemampuan tanah menyerap, menyimpan, dan melepaskan air secara stabil, yang sangat penting untuk menjaga ketersediaan air pertanian di dataran rendah.
Fopambes juga menyoroti masalah sedimentasi yang kian parah. Lumpur dari hulu yang dibawa oleh Kali Keruh menumpuk di irigasi Brebes Utara, menyebabkan pendangkalan dan akhirnya menjadi pemicu utama banjir di Kabupaten Brebes.
“Mestinya hulunya yang dibenahi,” kritik Fopambes, menyindir fokus yang selama ini hanya tertuju pada penanaman mangrove di pesisir, sementara kawasan hulu diabaikan.
Kegagalan Pelayanan dan Prioritas yang Tidak Merata
Suara Anda Penting bagi Kami
Di DETIK Nasional, akurasi adalah prioritas utama. Jika Anda merasa terdapat informasi yang kurang tepat atau merasa dirugikan oleh pemberitaan kami, jangan ragu untuk mengajukan Berita Sanggahan atau Hak Jawab.
Kami berkomitmen untuk mendengarkan dan mengoreksi demi informasi yang lebih berkualitas bagi masyarakat.
Kekhawatiran terhadap manajemen PDAM juga mencakup kegagalan pelayanan di Brebes Selatan. Fopambes menyebutkan kasus pasca-aksi demonstrasi di Tuk Suci, di mana proyek penyambungan untuk 2.200 pelanggan yang sudah membayar biaya penyambungan berakhir tanpa kejelasan.
“Sangat prihatin, uangnya dikembalikan dan tidak jelas kelanjutannya, padahal pipa sudah sampai,” keluh Fopambes. Mereka menduga adanya ketimpangan prioritas air yang lebih diutamakan untuk distribusi ke Tegal dan Brebes Utara, membuat warga Brebes Selatan kehilangan hak atas layanan air bersih.
Desakan Pembentukan Taman Nasional di Gunung Slamet
Sebagai solusi jangka panjang dan permanen, Fopambes mengingatkan bahwa serangkaian bencana tanah gerak di Sridadi, Melayang, dan Kali Giri adalah ciri nyata dari ekosistem hulu yang rusak parah. Ancaman terbesar bahkan dilayangkan kepada kawasan Igir Kelanceng dan Igir Gowok yang berpotensi tinggi mengalami banjir bandang.
Untuk mengendalikan perambahan hutan oleh petani sayuran secara permanen, Fopambes mendesak pemerintah daerah dan pusat untuk segera mewujudkan Taman Nasional di Gunung Slamet bagian barat (wilayah Brebes dan Tegal).
“Kepentingan Taman Nasional adalah kepentingan bersama, demi air dan oksigen sebagai sumber kehidupan,” tutup Fopambes. “Kami memohon agar sesuai UUD 1945 dan Kongres Jenewa, Hutan Lindung tidak boleh dialihfungsikan untuk apapun.”
Mereka juga mengajak para pejabat untuk berkomitmen kuat dalam menjaga kelestarian alam dan mengembalikan fungsi hutan lindung, menjadikannya prioritas utama dalam setiap kebijakan.
Red/Teguh
Brebes, DN-II Kepolisian Resor Brebes bersinergi dengan instansi terkait sukses mengamankan jalannya Festival Konser Musik “Naragigs” yang menghadirkan band legendaris Dewa 19, Andra and The Backbone, dan Guyon Waton, pada Sabtu, 13 Desember 2025, bertempat di Stadion Karangbirahi, Kabupaten Brebes.
Kegiatan yang dihadiri oleh sekitar 8.000 penonton dari Brebes dan sekitarnya ini berjalan dengan aman, tertib, dan kondusif hingga akhir.
Kapolres Brebes AKBP Lilik Ardhiansyah, melalui Kabag Ops Polres Brebes Kompol Suraedi menyampaikan apresiasi atas sinergitas seluruh pihak yang terlibat dalam pengamanan.
“Keberhasilan pengamanan ini merupakan wujud nyata dari soliditas dan sinergitas antara Polri, TNI, Pemerintah Daerah, dan seluruh elemen masyarakat. Kami bersyukur, dari awal kegiatan pukul 15.00 WIB hingga closing pada pukul 23.40 WIB, seluruh rangkaian acara berjalan lancar tanpa adanya insiden menonjol,” ujar Kompol Suraedi.
Dalam rangka menjamin keamanan dan ketertiban, Polres Brebes mengerahkan 817 personel gabungan yang terdiri dari berbagai unsur terdiri dari personel Polri, TNI, Satpol PP, Dishub, Damkar, Dinas Kesehatan serta pengamanan internal.
Suara Anda Penting bagi Kami
Di DETIK Nasional, akurasi adalah prioritas utama. Jika Anda merasa terdapat informasi yang kurang tepat atau merasa dirugikan oleh pemberitaan kami, jangan ragu untuk mengajukan Berita Sanggahan atau Hak Jawab.
Kami berkomitmen untuk mendengarkan dan mengoreksi demi informasi yang lebih berkualitas bagi masyarakat.
Apel persiapan pengamanan telah dilaksanakan sejak pukul 13.00 WIB, dilanjutkan dengan Apel Konsolidasi pasca-kegiatan pada pukul 00.00 Wib (Minggu, dinihari) memastikan tidak ada gangguan keamanan.
Konser yang menampilkan sejumlah local band serta Guest Star utama seperti Andra dan The Backbone, Guyon Waton dan puncak penampilan Dewa 19 berlangsung sangat meriah dan tertib.
Seluruh penonton tampak antusias menikmati pertunjukan, serta mematuhi arahan dari petugas keamanan.
“Kami berharap kegiatan skala besar lainnya di Kabupaten Brebes juga dapat berjalan sesukses ini. Ini membuktikan bahwa sinergi dan kolaborasi adalah kunci utama,” tutupnya. (Red/Hms).
Brebes, DN-II Sebuah gerakan konservasi lingkungan masif yang bertajuk “Aksi Nyata Peduli Lingkungan” sukses digelar di kawasan Sijampang, Desa Wanatirta, Kecamatan Paguyangan, Kabupaten Brebes. Sebanyak 1.000 bibit pohon berhasil ditanam di lahan kritis kaki Gunung Slamet dalam aksi yang diinisiasi oleh kolaborasi luar biasa dari 68 komunitas dan organisasi berbeda. Minggu, (14/12/2025).
Puluhan organisasi, mulai dari pecinta alam, relawan kebencanaan, organisasi kepemudaan, hingga kelompok masyarakat sipil, bersatu padu mengesampingkan perbedaan wilayah dan afiliasi demi satu tujuan mulia: menjaga kelestarian ekosistem.
Kolaborasi Lintas Sektor untuk Lahan Kritis
Penanaman seribu pohon ini memiliki tujuan strategis, yaitu memperkuat konservasi lahan kritis, mencegah erosi dan tanah longsor, serta mendukung gerakan Presidium Gunung Slamet Menuju Taman Nasional.
Lokasi Sijampang di Desa Wanatirta dipilih secara spesifik karena merupakan daerah resapan air penting di kaki Gunung Slamet yang sangat rentan terhadap bencana hidrometeorologi, terutama saat musim hujan. Para peserta dengan antusias menanam berbagai jenis bibit, termasuk pohon buah, kayu keras, dan tanaman endemik, di lahan yang telah disiapkan.
Suara Anda Penting bagi Kami
Di DETIK Nasional, akurasi adalah prioritas utama. Jika Anda merasa terdapat informasi yang kurang tepat atau merasa dirugikan oleh pemberitaan kami, jangan ragu untuk mengajukan Berita Sanggahan atau Hak Jawab.
Kami berkomitmen untuk mendengarkan dan mengoreksi demi informasi yang lebih berkualitas bagi masyarakat.
Penekanan pada Keberlanjutan dan Tanggung Jawab Bersama
Aksi ini juga selaras dengan seruan Pemerintah Daerah (Pemda) Brebes yang menekankan pentingnya tanggung jawab kolektif dalam menjaga kelestarian hutan. Pemda, dalam kesempatan lain, telah mengimbau seluruh lapisan masyarakat, termasuk suporter dan ibu-ibu, untuk menjalankan kegiatan yang selaras dengan ekosistem hutan.
“Kegiatan tanam pohon tidak boleh hanya seremonial. Kami mendorong agar kegiatan konservasi dilaksanakan secara berkelanjutan, minimal satu tahun dua kali. Setelah ditanam, pohonnya juga harus dirawat agar tumbuh dan tidak sia-sia,” tegas perwakilan Pemda, menggarisbawahi bahwa upaya pelestarian harus berorientasi pada hasil jangka panjang.
Pemerintah daerah menyambut baik inisiatif berbasis alam yang berkelanjutan, seperti peternak madu, pengolahan jamu-jamuan, dan pengambilan getah karet, sebagai contoh kegiatan ekonomi yang tidak merusak ekosistem.
Pesan Persatuan dan Apresiasi
Koordinator Lapangan Aksi Nyata Peduli Lingkungan, Bapak Budi Santoso (contoh nama), menyampaikan apresiasi tinggi atas tingginya partisipasi.
“Kami sangat bangga melihat semangat persatuan dari 68 komunitas ini. Ini adalah bukti nyata bahwa kepedulian terhadap lingkungan adalah tanggung jawab bersama, bukan hanya tugas pemerintah,” ujar Bapak Budi.
“Penanaman seribu pohon ini bukan hanya seremoni, tapi langkah awal untuk memastikan Sijampang dan kawasan sekitar memiliki masa depan ekologis yang lebih baik, terutama dalam menghadapi musim hujan yang rawan bencana,” tambahnya.
Kegiatan ini diharapkan dapat memicu kesadaran yang lebih luas tentang pentingnya reboisasi, terutama di wilayah pegunungan yang berfungsi vital sebagai penyangga ekosistem bagi Brebes dan sekitarnya.
68 Komunitas Peserta: Kekuatan Gotong Royong
Suara Anda Penting bagi Kami
Di DETIK Nasional, akurasi adalah prioritas utama. Jika Anda merasa terdapat informasi yang kurang tepat atau merasa dirugikan oleh pemberitaan kami, jangan ragu untuk mengajukan Berita Sanggahan atau Hak Jawab.
Kami berkomitmen untuk mendengarkan dan mengoreksi demi informasi yang lebih berkualitas bagi masyarakat.
Keberhasilan acara ini adalah cerminan dari partisipasi aktif 68 komunitas dan organisasi, yang mewakili semangat gotong royong dan kepedulian lingkungan.
No. Nama Komunitas/Organisasi No. Nama Komunitas/Organisasi No. Nama Komunitas/Organisasi
1. WIPALA 24. ipchi ngapak raya 47. Ambulance siaga bresel
2. LRB MDMC Brebes 25. BA’J banyumas 48. Pakujati RESCUE
3. RAPI 26. Nekad pala banjar negara 49. BRAVO MAWAR HIJAU
4. RELICA 27. BC patak banteng wonosobo 50. segenap outdoor sirampog
5. Jaga Rimba 28. Cilacap camp 51. LLHPB-Aisyiyah Brebes
6. Relawan Sirampog Peduli 29. Destana cilibur 52. LPBI NU sirampog
7. Relawan Gunung Slamet 30. gempas sijampang 53. SIJ Brebes
8. Mahapala Bumi (Univ Peradaban) 31. DESTANA DESA RAGATUNJUNG 54. PAGUYUBAN PEMUDA PASAR WAGE
9. Mapala Sakti (UMBS) 32. FPRB “Jala Kala” Kutamendala 55. SAKA WIRA KARTIKA Koramil 02 Jatibarang
10. Redkar 33. P2TKB (Paguyuban Pemuda Taman Kota Bumiayu) 56. BREBES CHAPTER
11. KPKN’45 34. GARANGGATI COMMUCATE BUMIAYU 57. YBI DPC Brebes
12. Team Seven Dukuhturi 35. Oi Brebes 58. DPD PPLH KAB. BREBES
13. KLIK ADVENTURE 36. Kupala Adventure 59. PAC GRIB JAYA SIRAMPOG
14. Garedha pala purbalingga 37. Presidium Gunung Slamet Menuju TN 60. PAC GRIB JAYA BUMIAYU
15. Celeng ngapak 38. celeng kluyuran magelang 61. PSBM (Persatuan Sedulur Bumiayu Motor)
16. curtina semarang 39. SAR KAB BREBES 62. PMI Kabupaten Brebes
17. grasindo wonosobo 40. PALAMUST (UMUS BREBES) 63. HAMIDA BREBES
18. pemuda pancasila winduaji 41. SAKA Wanabhakti Bumiayu 64. H2 Bersaudara
19. Med- A banyumas 42. Pelopor Hijau 65. Bravo mawar hijau DPD Brebes
20. destana wanatirta 43. BALA BALA 66. udho tembakau (Munggang-Bumiayu)
21. Pemuda pancasila pac paguyangan 44. GMNI universitas peradaban 67. SKI PEDULI KAB.BREBES
22. stikpala wonosobo 45. Bagana selatan 68. Sepakat Brebes Bermartabat (SBB)
23. BHV banyumas 46. Exalos brebes
Aksi ini menjadi catatan penting dalam upaya kolektif masyarakat Brebes dan sekitarnya untuk menjaga kelestarian lingkungan dan menanggulangi dampak perubahan iklim secara nyata.
Red/Casroni
Brebes, DN-II Bupati Brebes, Paramitha Widya Kusuma, turun langsung ke lapangan memimpin aksi penanaman 1.000 pohon di Petak 24 RPH Kretek, BKPH Paguyangan, Desa Pandansari, Kecamatan Paguyangan pada Minggu (14/12/2025).
Kehadiran Bupati menjadi simbol komitmen serius pemerintah daerah dalam memulihkan kawasan hutan yang rusak akibat penggarapan liar.
Aksi masif yang diikuti sekitar 500 peserta dari berbagai elemen masyarakat, aktivis lingkungan, dan jajaran Forkopimda ini merupakan tindak lanjut konkret dari kesepakatan warga Dukuh Sijampang dengan Perhutani untuk menghentikan penggarapan liar dan merehabilitasi kerusakan ekologis di area tersebut.
Langkah Nyata Pemulihan Ekologis dan Mitigasi Bencana
Dalam sambutannya, Bupati Paramitha menegaskan bahwa penanaman 1.000 pohon ini bukan sekadar kegiatan seremonial, melainkan langkah nyata dan mendesak untuk memulihkan fungsi ekologis Petak 24.
Suara Anda Penting bagi Kami
Di DETIK Nasional, akurasi adalah prioritas utama. Jika Anda merasa terdapat informasi yang kurang tepat atau merasa dirugikan oleh pemberitaan kami, jangan ragu untuk mengajukan Berita Sanggahan atau Hak Jawab.
Kami berkomitmen untuk mendengarkan dan mengoreksi demi informasi yang lebih berkualitas bagi masyarakat.
“Kerusakan ekologis di satu titik bisa berdampak luas. Penanaman hari ini adalah upaya serius memulihkan fungsi ekologis Petak 24,” ujar Paramitha.
Mengingat kontur wilayah Paguyangan yang rawan bencana longsor, Bupati juga menyoroti peran vital vegetasi sebagai mitigasi bencana alam.
“Menjaga vegetasi adalah kewajiban bersama, terutama di daerah rawan seperti ini, agar masyarakat tetap aman dan terhindar dari potensi longsor,” tegasnya.
Bupati Paramitha juga memberikan apresiasi tinggi atas sinergi yang terjalin antara warga, aktivis, dan pemerintah. Ia berharap kegiatan ini menjadi awal dari upaya berkelanjutan, tidak hanya dalam penanaman, tetapi juga dalam pemeliharaan dan pengawasan bersama.
Simbol Komitmen: Menanam Suren Bersama Warga
Setelah menyampaikan pidato, Bupati Paramitha langsung mengambil sekop dan berbaur dengan peserta aksi. Ia menanam bibit pohon Suren bersama warga, aktivis lingkungan, dan jajaran Forkopimda. Momen ini menjadi penegasan komitmen Pemerintah Kabupaten Brebes untuk memulihkan Petak 24.
Koordinator Aksi Sijampang, Kasor, menyambut baik komitmen ini dan menyatakan kesiapan warga untuk menjaga kawasan tersebut ke depannya. “Kalau bukan kita yang menjaga lingkungan ini, siapa lagi,” kata Kasor penuh semangat.
Jenis pohon yang dipilih untuk penanaman meliputi Suren, Rambesi, Sere, dan Akasia, yang semuanya dikenal memiliki sistem perakaran yang kuat. Pohon-pohon ini dipilih secara spesifik untuk berfungsi ganda: memperkuat struktur tanah dan mencegah potensi longsor yang lebih parah di masa mendatang.
Aksi ini dihadiri oleh sejumlah pejabat penting, antara lain Kapolres Brebes AKBP Lilik Ardhiansyah, Kepala DLH Brebes M. Shodiq, perwakilan BPBD dan Dandim, Camat Paguyangan, Camat Bumiayu, Perhutani, serta perwakilan dari 72 aliansi aktivis lingkungan dan pecinta alam.
Red/Casroni
Suara Anda Penting bagi Kami
Di DETIK Nasional, akurasi adalah prioritas utama. Jika Anda merasa terdapat informasi yang kurang tepat atau merasa dirugikan oleh pemberitaan kami, jangan ragu untuk mengajukan Berita Sanggahan atau Hak Jawab.
Kami berkomitmen untuk mendengarkan dan mengoreksi demi informasi yang lebih berkualitas bagi masyarakat.
Brebes, DN-II Di tengah minimnya lahan pekarangan di perkotaan, seorang warga Kelurahan Gandasuli, Riyanto (38), berhasil membuktikan bahwa menanam anggur berkualitas tinggi tidak memerlukan kebun yang luas. Hanya dalam waktu empat bulan sejak penanaman, anggur di pekarangan rumahnya sudah mulai berbuah lebat.
Berlokasi di RT 04 RW 02 Gandasuli, kebun anggur milik Riyanto telah menjadi perbincangan. Saat ini, dilahan ukuran 2 x 3 meter ia menanam hingga 12 pohon dari delapan varietas unggulan yang berbeda, termasuk jenis-jenis favorit seperti Transfigurasi, Everest, Akademik, Baikonur, Dickson, dan Basanti.
Panen Perdana dalam Empat Bulan
Riyanto menjelaskan bahwa bibit anggur yang ia tanam merupakan bibit stek-an yang dibeli. Dalam kurun waktu empat bulan, tanaman tersebut sudah memasuki fase berbuah, menunjukkan keberhasilan dalam perawatannya.
“Ini berarti yang sudah buah sekitar empat bulan sejak penanaman. Dari kecil sampai sudah besar seperti ini,” ujar Riyanto.
Suara Anda Penting bagi Kami
Di DETIK Nasional, akurasi adalah prioritas utama. Jika Anda merasa terdapat informasi yang kurang tepat atau merasa dirugikan oleh pemberitaan kami, jangan ragu untuk mengajukan Berita Sanggahan atau Hak Jawab.
Kami berkomitmen untuk mendengarkan dan mengoreksi demi informasi yang lebih berkualitas bagi masyarakat.
Keberhasilan panen cepat ini didukung oleh pola pemupukan yang terencana. Untuk fase pertumbuhan (vegetatif), ia mengandalkan pupuk Grower dan Magnesium Sulfat. Sementara, untuk memicu pembuahan (generatif), ia beralih menggunakan MKP, KNO3, dan Boron.
Bermula dari Hobi di Media Sosial
Ketika ditanya dari mana ia belajar teknik budidaya anggur yang tergolong jarang di daerah tersebut, Riyanto menyebutkan perannya media sosial.
“Belajar dari grup di Facebook. Di grup itu banyak (informasi) tentang menanam anggur, jadi ilmunya didapat dari sana,” katanya.
Saat ini, menanam anggur masih merupakan hal yang langka di Kadasuli. “Di sini memang masih jarang sih, paling ada satu, dua, tiga orang saja,” tambahnya.
Manfaatkan Pekarangan Kosong
Riyanto berharap inovasinya ini dapat menginspirasi warga lain untuk memanfaatkan lahan pekarangan rumah yang kosong. Ia membuktikan bahwa anggur dapat ditanam di lahan yang sangat terbatas.
“Ini juga, apa, daripada pekarangan kosong, kan jadi bisa ditanam,” ucapnya.
Menurut Riyanto, menanam anggur tidak butuh lahan yang luas. Dengan sistem tralis yang memanfaatkan ruang vertikal, lahan seluas 3×2 meter saja sudah cukup untuk menampung setidaknya enam tanaman anggur.
“Paling sistemnya sistem tralis, kan ke atas itu bisa banyak,” pungkas Riyanto, menunjukkan bahwa budidaya anggur skala rumahan sangat mungkin dilakukan bahkan di area sempit
Suara Anda Penting bagi Kami
Di DETIK Nasional, akurasi adalah prioritas utama. Jika Anda merasa terdapat informasi yang kurang tepat atau merasa dirugikan oleh pemberitaan kami, jangan ragu untuk mengajukan Berita Sanggahan atau Hak Jawab.
Kami berkomitmen untuk mendengarkan dan mengoreksi demi informasi yang lebih berkualitas bagi masyarakat.
Red/Teguh
Kontribusi Peserta: Rp 120.000,- per Orang
BREBES, DN-II Keluarga Besar Bani Wasan, Brebes, akan kembali melaksanakan agenda tahunan Ziarah dan Rekreasi pada tahun 2026. Keputusan final mengenai jadwal, rute perjalanan, dan mekanisme pendanaan telah ditetapkan dalam Rapat Pengurus Keluarga Besar Bani Wasan yang dilaksanakan pada malam Kamis, 14 Desember 2025.
Rapat koordinasi yang dihadiri oleh perwakilan pengurus dari masing-masing keluarga ini berlangsung di kediaman Saudara Edi Syamsuri dan menghasilkan finalisasi rencana perjalanan yang wajib menjadi perhatian bagi seluruh anggota keluarga.
I. RENCANA PELAKSANAAN ZIARAH & REKREASI 2026
1. Waktu Pelaksanaan
Suara Anda Penting bagi Kami
Di DETIK Nasional, akurasi adalah prioritas utama. Jika Anda merasa terdapat informasi yang kurang tepat atau merasa dirugikan oleh pemberitaan kami, jangan ragu untuk mengajukan Berita Sanggahan atau Hak Jawab.
Kami berkomitmen untuk mendengarkan dan mengoreksi demi informasi yang lebih berkualitas bagi masyarakat.
Agenda Ziarah dan Rekreasi tahun 2026 akan dilaksanakan pada:
Hari/Tanggal: Senin, 23 Maret 2026.
Keterangan: Bertepatan dengan 4 Syawal 1447 Hijriah (Momen Halal Bihalal).
2. Titik Kumpul dan Keberangkatan
Untuk menjamin ketepatan waktu, seluruh peserta diimbau untuk memperhatikan jadwal berikut:
Titik Kumpul: Lokasi Gg. Bima (Banjir), Brebes.
Waktu Kumpul: Segera setelah pelaksanaan shalat Subuh.
Waktu Keberangkatan Bus: Tepat pukul 06.00 WIB.
Penting: Dua unit armada bus telah disiapkan. Peserta diwajibkan datang tepat waktu.
3. Rute Utama Perjalanan (Ziarah & Rekreasi)
Suara Anda Penting bagi Kami
Di DETIK Nasional, akurasi adalah prioritas utama. Jika Anda merasa terdapat informasi yang kurang tepat atau merasa dirugikan oleh pemberitaan kami, jangan ragu untuk mengajukan Berita Sanggahan atau Hak Jawab.
Kami berkomitmen untuk mendengarkan dan mengoreksi demi informasi yang lebih berkualitas bagi masyarakat.
Rute perjalanan telah ditetapkan dengan fokus pada Makam Auliya dan satu lokasi rekreasi utama:
Ziarah ke Makam Mbah RUBI, Klampok, Brebes.
Ziarah ke Makam Maulana Syekh Syamsudin, Widuri, Pemalang.
Rekreasi ke Pantai Dolphin Center SIGANDU, Batang.
Ziarah ke Makam Mbah NUR, Moga, Pemalang.
4. Rute Tambahan (Kondisional)
Pengurus mempertimbangkan penambahan satu lokasi ziarah, yang akan disesuaikan dengan ketersediaan waktu dan situasi di lapangan:
Pilihan 1: Makam Maulana Syekh Maghribi di Ujungnegoro (dekat Pantai Sigandu Batang), atau
Pilihan 2: Makam Syekh Ki Pandanjati di Bantar Bolang, Pemalang (searah menuju Mbah Nur Moga).
II. PENDANAAN DAN KONTRIBUSI PESERTA
Untuk menunjang kelancaran akomodasi dan transportasi, setiap peserta diwajibkan memberikan kontribusi biaya.
Biaya Kontribusi: Rp 120.000,00 (Seratus Dua Puluh Ribu Rupiah) per orang.
Mekanisme Pembayaran: Biaya dapat disetorkan melalui petugas koordinator keluarga masing-masing.
Konfirmasi Transfer: Bagi anggota yang membayar via transfer bank, diminta untuk segera mengirimkan bukti struk transfer kepada Bendahara untuk pendataan dan validasi. (Nomor rekening resmi akan segera dibagikan oleh Bendahara).
III. AGENDA TAMBAHAN: ZIARAH MAQBAROH KELUARGA (Pra-Acara)
Sebagai rangkaian acara, seluruh peserta dan Keluarga Besar Bani Wasan diimbau untuk bersama-sama melaksanakan ziarah ke makam leluhur sehari sebelum keberangkatan:
Tujuan Ziarah: Maqbaroh Mbah WASAN bin Caswad.
Waktu Pelaksanaan: Ahad, 22 Maret 2026, setelah waktu shalat Zuhur.
IV. KOORDINASI DAN EVALUASI LANJUTAN
Guna memastikan kesiapan maksimal seluruh panitia, Pengurus merencanakan Rapat Evaluasi dan Koordinasi lanjutan sebelum Hari-H. Rapat berikutnya diagendakan pada waktu antara bulan Ruwah atau bulan Puasa (Ramadhan).
Keputusan-keputusan ini bersifat final dan mengikat. Diharapkan partisipasi dan kerja sama seluruh anggota Keluarga Besar Bani Wasan dapat menjamin kesuksesan pelaksanaan agenda tahunan ini.
“Untuk Masyarakat Umum Juga Diperbolehkan Ikut”
Untuk Lebih Jelasnya Bisa Langsung Hub WhatsApp +62 823-2785-3901 – Bendahara.
Redaktur: Casroni
BREBES, DN-II Riuh rendah konser band legendaris Dewa 19 tak hanya milik penonton dan musisi. Di balik panggung, ada kisah perjuangan pedagang kaki lima yang menjadi nadi tak terpisahkan dari setiap gelaran akbar. Salah satunya adalah Agus, seorang pedagang gigih asal Bandung yang telah merambah lebih dari 30 kota di Indonesia, menjajakan pernak-pernik dari kipas bergambar band hingga jas hujan. (13/12/2025).
Saat ditemui di lokasi konser Dewa 19 di Brebes, Agus, yang menjual dagangan non-resmi, membagikan pengalamannya menjelajahi berbagai kota demi mencari nafkah.
Prediksi Cuaca Jadi ‘Dukun’ Dagang
Untuk konser Dewa 19 kali ini, Agus membawa dua komoditas utama: kipas bergambar band seharga Rp20.000 dan jas hujan seharga Rp15.000. Strategi dagangnya cukup unik, mengandalkan prakiraan cuaca sebagai penentu jenis barang yang dibawa.
“Kipas sekarang bikin sedikit,” ungkap Agus, yang hanya membawa sekitar dua lusin kipas. Ia menjelaskan bahwa awalnya ia berencana berjualan di Majalengka, namun segera mengalihkan tujuan ke Brebes karena adanya prediksi hujan.
Suara Anda Penting bagi Kami
Di DETIK Nasional, akurasi adalah prioritas utama. Jika Anda merasa terdapat informasi yang kurang tepat atau merasa dirugikan oleh pemberitaan kami, jangan ragu untuk mengajukan Berita Sanggahan atau Hak Jawab.
Kami berkomitmen untuk mendengarkan dan mengoreksi demi informasi yang lebih berkualitas bagi masyarakat.
“Tadinya kan rencana mau ke Majalengka. Karena di sini apa, ada prediksi hujan, makanya kita ke sini,” tuturnya sambil berseloroh. “Kalau kita enggak pakai dukun, tapi pakai BMKG,” candanya, merujuk pada Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika.
Melintasi 30 Kota: Tantangan di Era Digital
Pria asal Cicadas, Kecamatan Cibeunying Kidul (sebelumnya Tiara Condong), Bandung ini bukanlah pendatang baru. Ia telah menggeluti profesi ini sejak lama, mengikuti jejak tur band-band besar seperti Dewa 19 dan Slank, dan sudah menjangkau lebih dari 30 kota.
“Oh, saya jualan itu sudah oh, sudah menjangkau. Bukan Dewa saja, ada Slank, ada apa 30 kota,” katanya penuh semangat.
Namun, ia tak menampik bahwa omzet berdagang merchandise kini telah berubah drastis sejak menjamurnya platform daring. “Kalau zaman dulu, sebelum apa, ada online-online kayak gitu, mah kenceng gitu. Zaman Slank gitu, kan, dulu… Sampai 30 kota itu,” kenang Agus, menggambarkan masa kejayaan dagang offline.
Tujuan Berikutnya: Konser Amal untuk Palestina
Tak ada waktu untuk beristirahat. Setelah konser Dewa 19, Agus sudah merencanakan destinasi berikutnya, yaitu konser amal di Cirebon yang menghadirkan band Wali, dalam rangka penggalangan dana untuk Palestina.
Berbeda dengan pernak-pernik musik, di acara amal ini ia menyesuaikan dagangannya dengan tema kemanusiaan:
Syal Palestina: Rp30.000
Bendera Palestina: Rp30.000
Suara Anda Penting bagi Kami
Di DETIK Nasional, akurasi adalah prioritas utama. Jika Anda merasa terdapat informasi yang kurang tepat atau merasa dirugikan oleh pemberitaan kami, jangan ragu untuk mengajukan Berita Sanggahan atau Hak Jawab.
Kami berkomitmen untuk mendengarkan dan mengoreksi demi informasi yang lebih berkualitas bagi masyarakat.
Tempelan (Stiker/Tatto Temporer): Mulai dari Rp1.000
Dengan semangat pantang menyerah, Agus menunjukkan bahwa mencari nafkah bisa dilakukan di mana saja, mengikuti hiruk pikuk acara, baik itu konser musik rock maupun gelaran amal. Setelah menyelesaikan tugas dagangnya di tiap kota, ia akan langsung kembali ke Bandung, siap untuk petualangan dagang berikutnya
Red/Teguh
BREBES, DN-II Ribuan Baladewa (sebutan fans Dewa 19) dan penikmat musik memadati Stadion Karangbirahi pada 13 Desember 2025. Dalam gelaran akbar “NARAGIGS BREBES! 2025”, malam itu bertransformasi menjadi lautan energi, nostalgia, dan euforia, dengan DEWA 19 sebagai bintang utama yang diperkuat oleh penampilan spesial dari Ello dan Virzha.
Konsep Unik “Paket Malem” dan Skema Hiburan Bertahap
Konser ini mengusung konsep unik “Paket Malem”, yang dirancang untuk memastikan kenyamanan penonton dalam beribadah. Rangkaian acara sempat dihentikan sejenak untuk break Maghrib pada pukul 17.35 WIB. Setelah jeda, penyanyi lokal, Febri Yoga, membuka panggung selama 20 menit dan sukses menghangatkan suasana.
Acara kembali dihentikan untuk break Isya pada pukul 18.40 WIB. Skema ini mendapat apresiasi karena menunjukkan perhatian penyelenggara terhadap kebutuhan spiritual penonton.
Usai jeda Isya, atmosfer stadion mulai memanas. Pertunjukan tata cahaya (lighting show) dengan efek “kerlap-kerlip” yang megah membalut langit Karangbirahi, menciptakan panggung dramatis sebelum bintang tamu naik.
Suara Anda Penting bagi Kami
Di DETIK Nasional, akurasi adalah prioritas utama. Jika Anda merasa terdapat informasi yang kurang tepat atau merasa dirugikan oleh pemberitaan kami, jangan ragu untuk mengajukan Berita Sanggahan atau Hak Jawab.
Kami berkomitmen untuk mendengarkan dan mengoreksi demi informasi yang lebih berkualitas bagi masyarakat.
Andra & The Backbone Membakar Semangat, Guyon Waton Menghadirkan Keakraban
Aksi panggung kemudian dilanjutkan oleh Andra & The Backbone, yang tampil penuh energi selama satu jam. Mereka membawakan deretan lagu hits yang sontak membuat penonton ikut bernyanyi massal.
Energi konser terus menanjak ketika grup musik asal Jawa Tengah, Guyon Waton, mengambil alih panggung. Dengan suguhan musik yang akrab di telinga masyarakat lokal, mereka berhasil menciptakan momen kebersamaan dan tawa di tengah keramaian.
Puncak Acara: Gerimis Magis DEWA 19
Puncak kemeriahan yang paling dinantikan tiba ketika DEWA 19 bersama Ello dan Virzha naik panggung. Mereka tampil tanpa jeda selama satu setengah jam, membawakan lagu-lagu legendaris yang memicu nostalgia. 
Sebuah momen tak terlupakan terjadi: gerimis mulai turun tepat saat intro lagu pertama dimainkan. Namun, fenomena ini justru tidak menyurutkan semangat, bahkan membuat suasana menjadi lebih dramatis. Penonton tidak bergeser sedikit pun. Sorak-sorai, lampu ponsel, dan koor massal dalam rintik hujan menciptakan adegan yang sulit dilukiskan.
“Gerimisnya bikin merinding. Nyanyi bareng Dewa 19 di Brebes sambil hujan rintik-rintik, rasanya kayak konser besar di kota-kota besar. Ini malam yang nggak bakal saya lupa,” ujar Rizky (24), salah seorang penonton yang mengaku terkesan dengan suasana magis tersebut.
Pengalaman Konser yang Tertib dan Profesional
Perwakilan NaraGigs, Hendy, mengonfirmasi bahwa gerimis yang turun sudah diantisipasi.
“Kami sudah menyiapkan skenario cuaca sejak awal. Gerimis tidak menghambat pertunjukan, dan keamanan penonton tetap menjadi prioritas. Justru atmosfernya jadi lebih dramatis,” jelasnya, menunjukkan kesiapan dan profesionalitas penyelenggara.
Suara Anda Penting bagi Kami
Di DETIK Nasional, akurasi adalah prioritas utama. Jika Anda merasa terdapat informasi yang kurang tepat atau merasa dirugikan oleh pemberitaan kami, jangan ragu untuk mengajukan Berita Sanggahan atau Hak Jawab.
Kami berkomitmen untuk mendengarkan dan mengoreksi demi informasi yang lebih berkualitas bagi masyarakat.
Gelaran “NARAGIGS BREBES! 2025” tidak hanya menghadirkan hiburan kelas atas, tetapi juga membuktikan bahwa Brebes mampu menjadi tuan rumah konser akbar. Dengan pengalaman yang tertib, nyaman, dan penuh kesan, konser ini telah mencetak sejarah baru dalam kalender hiburan kota Brebes.
Red/Casroni
BREBES, DN-II Malam di Stadion Karangbirahi, Brebes, bertransformasi menjadi panggung sejarah ketika DEWA 19 menutup megakonser “NARAGIGS BREBES! 2025” pada Sabtu (13/12). Menariknya, justru gerimis yang turun mengiringi naiknya band legendaris ini ke panggung, menciptakan atmosfer dramatis yang tak terlupakan. Ribuan Baladewa dan penonton Brebes lainnya tak bergeming, justru semakin larut dan bersemangat menyanyikan seluruh lagu hits.
Rangkaian Acara & Kepedulian Waktu Ibadah
Konser yang mengusung konsep pertunjukan maraton “Paket Malem” ini dibuka dengan jeda yang patut diacungi jempol. Panitia menyediakan ‘break Maghrib’ pada pukul 17.35 WIB dan ‘break Isya’ pada pukul 18.40 WIB. Jeda ini memastikan seluruh penonton dapat menjalankan ibadah dengan nyaman, sebuah detail yang menunjukkan kepedulian NaraGigs terhadap kearifan lokal.
Setelah jeda Isya, suasana langsung memanas. Panggung diterangi pertunjukan lighting show spektakuler dengan efek “Kerlap Kerlip” yang mewah, seolah mempersiapkan kanvas langit Karangbirahi untuk para bintang.
Pembuka yang Membakar Semangat
Suara Anda Penting bagi Kami
Di DETIK Nasional, akurasi adalah prioritas utama. Jika Anda merasa terdapat informasi yang kurang tepat atau merasa dirugikan oleh pemberitaan kami, jangan ragu untuk mengajukan Berita Sanggahan atau Hak Jawab.
Kami berkomitmen untuk mendengarkan dan mengoreksi demi informasi yang lebih berkualitas bagi masyarakat.
Gairah penonton terus dipanaskan oleh line-up bintang tamu:
Febri Yoga tampil 20 menit dan sukses menjadi pemantik awal yang disambut hangat.
Andra & The Backbone memukau selama satu jam penuh, membawakan sederet lagu populer yang membuat sing-along massal.
Guyon Waton kemudian menyajikan musik yang akrab dan dekat dengan masyarakat Jawa Tengah, menjaga energi konser tetap tinggi.
Puncak Kemeriahan di Bawah Rintik Hujan
Puncak yang paling dinanti tiba. Selama satu setengah jam penuh, DEWA 19 tampil energik bersama dua vokalis andalan, Ello dan Virzha. Hebatnya, gerimis mulai turun tepat saat intro lagu pertama dimainkan—sebuah momen sinematik yang tak direncanakan.
Namun, alih-alih bubar, ribuan penonton justru semakin merapatkan barisan.
“Gerimisnya bikin suasananya beda. Nyanyi bareng Dewa 19 di Brebes sambil hujan rintik-rintik, rasanya kayak konser besar di kota-kota metropolitan. Ini malam yang nggak bakal saya lupa,” ujar Rizky (24), salah satu penonton yang larut dalam emosi.
Perwakilan NaraGigs, Hendy, memastikan bahwa cuaca bukanlah penghalang. “Kami sudah menyiapkan skenario cuaca. Gerimis tidak menghambat pertunjukan, dan keamanan penonton adalah prioritas. Justru atmosfernya jadi lebih dramatis,” jelasnya, membenarkan sensasi magis yang dirasakan penonton.
Akhir yang Penuh Kesan
Suara Anda Penting bagi Kami
Di DETIK Nasional, akurasi adalah prioritas utama. Jika Anda merasa terdapat informasi yang kurang tepat atau merasa dirugikan oleh pemberitaan kami, jangan ragu untuk mengajukan Berita Sanggahan atau Hak Jawab.
Kami berkomitmen untuk mendengarkan dan mengoreksi demi informasi yang lebih berkualitas bagi masyarakat.
Hingga lagu terakhir berakhir, penonton tetap tegak berdiri. Lautan cahaya dari ponsel yang diangkat tinggi berpadu dengan sorak-sorai dan rintik hujan, menciptakan penutup konser yang epik.
Gelaran “NARAGIGS BREBES 2025” ini sekali lagi membuktikan bahwa Brebes mampu menjadi tuan rumah konser skala besar dengan pengalaman yang tertib, aman, dan penuh kesan mendalam.
Red/Casroni
BREBES, DN-II Proyek pembangunan komersial yang dikenal sebagai “Teras Padi” di Brebes kini memicu sorotan tajam dan kontroversi serius. Proyek ini diduga kuat telah melanggar peruntukan tata ruang, dengan sebagian lokasinya disinyalir berada di Kawasan Lindung atau Lahan Sawah Dilindungi (LSD)/Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan (LP2B) yang termasuk zona hijau. (13/12/2025).
Isu dugaan pelanggaran ini mengemuka berdasarkan keterangan dari seorang staf di Kantor Perencanaan, Sumber Daya Manusia, dan Administrasi Pertanahan (PSDAP) Tata Ruang Brebes, Ibu Ayu (bukan nama sebenarnya), dalam wawancara eksklusif.
Dasar Hukum Pelanggaran: Zona Hijau sebagai LP2B
Dalam wawancara tersebut, staf Tata Ruang menjelaskan bahwa lokasi proyek “Teras Padi” terbagi dalam dua kategori peruntukan lahan sesuai Rencana Detail Tata Ruang (RDTR) Kabupaten Brebes:
Zona Kuning (Permukiman/Komersial): Bagian yang berada di kawasan permukiman (diidentifikasi berwarna kuning atau cokelat muda) diakui telah memiliki izin.
Suara Anda Penting bagi Kami
Di DETIK Nasional, akurasi adalah prioritas utama. Jika Anda merasa terdapat informasi yang kurang tepat atau merasa dirugikan oleh pemberitaan kami, jangan ragu untuk mengajukan Berita Sanggahan atau Hak Jawab.
Kami berkomitmen untuk mendengarkan dan mengoreksi demi informasi yang lebih berkualitas bagi masyarakat.
Zona Hijau (Ketahanan Pangan/Konservasi): Area yang masuk zona hijau diperuntukkan bagi ketahanan pangan. Pembangunan fisik, meskipun sederhana seperti struktur menyerupai pos, di zona ini jelas melanggar fungsi lahan.
“Teras padi itu ada yang jalur kuning, itu permukiman. Ada jalur hijau, itu untuk ketahanan pangan,” jelas staf tersebut.
Berdasarkan regulasi nasional, lahan yang ditetapkan sebagai zona hijau untuk ketahanan pangan (seperti LSD atau LP2B) dilindungi secara ketat. Pemanfaatan lahan ini harus tunduk pada:
Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang, khususnya Pasal 69 Ayat (1) yang menyatakan bahwa setiap orang yang tidak menaati rencana tata ruang yang telah ditetapkan dapat dikenakan sanksi pidana. 
Undang-Undang Nomor 41 Tahun 2009 tentang Perlindungan Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan (LP2B). Pasal 44 Ayat (1) UU ini secara tegas melarang alih fungsi lahan LP2B, kecuali untuk kepentingan umum atau bencana alam, yang penetapannya dilakukan secara ketat oleh pemerintah pusat/daerah.
Peraturan Daerah (Perda) Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) dan RDTR Kabupaten Brebes yang semestinya menjadi acuan utama dalam penerbitan izin.
Lambannya Penindakan dan Konsekuensi Hukum
Meski indikasi pelanggaran tata ruang di jalur hijau sudah diketahui, pihak Tata Ruang Brebes mengakui adanya kelambatan signifikan dalam proses penindakan.
Staf Ayu mengungkapkan bahwa surat peneguran resmi hingga kini belum dikeluarkan, dengan alasan masih dalam proses dan terkendala pergantian pejabat. Padahal, proyek ini diperkirakan telah berdiri selama kurang lebih lima tahun.
Penundaan penindakan ini bertentangan dengan prinsip ketegasan dalam penegakan hukum dan dapat menimbulkan preseden buruk. Pihak yang berwenang menindak, dalam hal ini Pemerintah Daerah Brebes melalui Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) dan Dinas terkait, seharusnya segera mengambil langkah sesuai Pasal 133 hingga Pasal 139 Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 21 Tahun 2021 tentang Penyelenggaraan Penataan Ruang, yang mengatur tahapan penertiban (Peringatan, Penghentian Sementara, Pembongkaran, dll.).
Suara Anda Penting bagi Kami
Di DETIK Nasional, akurasi adalah prioritas utama. Jika Anda merasa terdapat informasi yang kurang tepat atau merasa dirugikan oleh pemberitaan kami, jangan ragu untuk mengajukan Berita Sanggahan atau Hak Jawab.
Kami berkomitmen untuk mendengarkan dan mengoreksi demi informasi yang lebih berkualitas bagi masyarakat.
Celah Hukum Perizinan OSS dan Ketaatan Tata Ruang
Pembahasan juga menyoroti potensi celah hukum terkait perizinan usaha melalui sistem Online Single Submission (OSS), khususnya untuk kategori Pernyataan Mandiri Pelaku Usaha (PMP-UMK).
Staf Tata Ruang Brebes menegaskan bahwa mereka tidak memiliki akses dan tidak dilalui dalam proses verifikasi perizinan PMP-UMK yang terbit langsung melalui NIB (Nomor Induk Berusaha) di OSS.
Kondisi ini menunjukkan adanya diskoneksi serius antara sistem perizinan berusaha dan penegakan tata ruang, di mana izin usaha dapat terbit tanpa pemeriksaan ketat terhadap Kesesuaian Kegiatan Pemanfaatan Ruang (KKPR), terutama di lahan hijau yang dilindungi.
Kondisi ini seharusnya diatasi sesuai Pasal 57 Ayat (3) PP No. 21 Tahun 2021, yang menegaskan bahwa izin berusaha yang memerlukan pemanfaatan ruang (seperti Izin Mendirikan Bangunan/PBG) wajib mencantumkan KKPR sebagai prasyarat utama. Jika izin terbit tanpa mengindahkan tata ruang yang berlaku, maka izin tersebut cacat hukum dan dapat dibatalkan sesuai ketentuan yang berlaku.
Saat ini, Kantor PSDAP Tata Ruang Brebes dikabarkan tengah berupaya mempercepat proses administrasi untuk segera menindaklanjuti dugaan pelanggaran di Teras Padi.
Publik menantikan tindakan tegas dari Pemerintah Daerah Brebes, bukan hanya berupa peneguran, melainkan tindakan penertiban yang nyata sesuai amanat UU Penataan Ruang dan UU LP2B. Penegakan hukum yang konsisten diperlukan untuk memastikan perlindungan terhadap lahan LP2B dan tata ruang wilayah dari kepentingan komersial yang melanggar.
Red/Teguh
