Bulan: Oktober 2026

​LAMONGAN, DN-II Pendidikan di Pondok Pesantren Sunan Drajat tidak hanya berfokus pada ilmu agama, melainkan juga sukses mengembangkan sektor perekonomian, kewirausahaan, sosial, dan berbagai aktivitas keumatan lainnya. Model pemberdayaan yang berjalan di pesantren ini dinilai layak menjadi teladan bagi pesantren-pesantren lain di Indonesia.

​Hal tersebut diungkapkan oleh Wakil Menteri Transmigrasi, Viva Yoga Mauladi, saat menjadi pembicara utama dalam Seminar Nasional bertema ‘Kemandirian Pesantren Melalui Transmigrasi’ yang digelar di Hall Pondok Pesantren Sunan Drajat, Lamongan, Jawa Timur, Rabu (30/9/2026).

​Kegiatan yang diinisiasi oleh Persatuan Santri Alumni Sunan Drajat (Pessandra) ini turut dihadiri oleh Ketua Yayasan Pondok Pesantren Sunan Drajat H. Murobby Binnur, Ketua Umum Pessandra S. Muhajirin, Direktur Utama Lembaga Perekonomian H. Anas Al Hifni, serta ratusan alumni, santri, dan pengasuh pesantren.

​Lebih lanjut, Wamen Viva Yoga menyebutkan bahwa di pesantren yang didirikan oleh Prof. Dr. KH. Abdul Ghofur ini, terdapat berbagai unit usaha yang sangat beragam.

​“Ada unit usaha pertanian, peternakan, perikanan, kelautan, tata rias, dan banyak lagi. Semua dijalankan dengan menghasilkan produk turunan seperti garam, telur, pupuk, hingga ayam potong,” ujar Viva Yoga. Apa yang dilakukan pesantren ini, imbuhnya, merupakan wujud nyata dalam menopang kemandirian pangan nasional.

Hak Jawab - DETIK Nasional

Suara Anda Penting bagi Kami

Di DETIK Nasional, akurasi adalah prioritas utama. Jika Anda merasa terdapat informasi yang kurang tepat atau merasa dirugikan oleh pemberitaan kami, jangan ragu untuk mengajukan Berita Sanggahan atau Hak Jawab.

Kami berkomitmen untuk mendengarkan dan mengoreksi demi informasi yang lebih berkualitas bagi masyarakat.

​Terkait pendidikan keagamaan, pesantren yang terletak di Kecamatan Paciran, Lamongan, ini tidak hanya mendalami pemahaman agama secara tekstual dan kontekstual, tetapi juga mengimplementasikan pesan-pesan luhur dari sang pendiri dalam kehidupan sehari-hari. “Apa yang menjadi pesan KH. Ghofur harus terus diamalkan,” tuturnya.

​Di hadapan para peserta seminar, Wamen Viva Yoga juga memaparkan bahwa kawasan-kawasan transmigrasi saat ini telah bertransformasi menjadi wilayah pertumbuhan ekonomi baru. Sebagai kawasan yang terus berkembang, wilayah transmigrasi sangat terbuka bagi hadirnya pelaku usaha dari berbagai skala, mulai dari skala besar hingga Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM).

​Para santri dan alumni Sunan Drajat yang telah dibekali jiwa kewirausahaan dinilai memiliki peluang besar untuk mengambil peran dan memberikan kontribusi nyata di kawasan transmigrasi.

​“Kawasan transmigrasi butuh pengembangan. Di sana ada lahan luas yang membutuhkan sumber daya manusia yang handal untuk berinovasi dan berinvestasi,” tegasnya.

​Dalam kesempatan tersebut, Wamen Viva Yoga juga menjelaskan komitmen Kementerian Transmigrasi yang tidak sekadar membuka kesempatan bagi santri dan alumni untuk berwirausaha. Sejak tahun 2015 hingga 2024, kementerian yang berkantor pusat di Kalibata, Jakarta ini telah menginvestasikan lebih dari Rp20 miliar guna membangun fasilitas pendukung seperti Islamic Centre, asrama santri, dan masjid di berbagai kawasan transmigrasi.

​Beberapa wilayah sasaran pembangunan tersebut meliputi Provinsi Aceh, Sumatera Selatan, Bengkulu, Lampung, Kalimantan Timur, Sulawesi Barat, hingga Maluku Utara.

​“Infrastruktur fisik telah dibangun, kini saatnya mengisi infrastruktur ekonomi yang digerakkan oleh para santri,” pungkas pejabat asal Lamongan tersebut. Red