BREBES, DN-II Wajah pelayanan kesehatan masyarakat di tingkat akar rumput kini tengah bersalin rupa. Puskesmas Brebes melalui Kelurahan Brebes resmi mengintegrasikan pendekatan Siklus Hidup dalam layanan Posyandu. Transformasi ini bertujuan memastikan tidak ada satu pun kelompok usia yang terlewatkan dalam pemantauan kesehatan.
Dalam sesi wawancara kamis 29 Januari 2026 mendalam, tim medis Puskesmas Brebes, Bidan Indah , Eli dan Bidan Solikhati, memaparkan empat pilar utama yang menjadi motor penggerak perubahan ini:
1. Inklusivitas Layanan: Melintasi Batas Usia
Posyandu kini bukan lagi sekadar tempat “timbang bayi”. Di wilayah Kelurahan Brebes yang mencakup 11 RW (RW 6 hingga RW 22 ), layanan kini menyasar seluruh kelompok usia:
Bayi & Balita: Fokus pada deteksi dini stunting melalui pemantauan tumbuh kembang yang presisi.
Ibu Hamil & Menyusui: Pendampingan rutin, edukasi gizi, serta pemenuhan suplemen kesehatan.
Usia Produktif & Lansia: Skrining penyakit tidak menular, pemeriksaan tekanan darah, hingga pengobatan keluhan ringan secara responsif.
Remaja: Tetap menjadi target sasaran melalui skema jemput bola atau penjadwalan khusus di luar jam sekolah.
2. Manajemen Operasional yang Efisien
Menjangkau 24 titik Posyandu di wilayah yang luas bukanlah perkara mudah. Puskesmas Brebes menerapkan sistem mobile yang taktis:
Tenaga Medis: Tiga bidan disiagakan untuk berkeliling secara bergilir.
Rasio Pelayanan: Satu bidan mampu mengawal satu hingga dua titik Posyandu setiap harinya.
Aksesibilitas: Seluruh layanan dan obat-obatan dasar diberikan secara gratis, sepenuhnya didukung oleh suplai Puskesmas.
3. Kader: Jantung dan Ujung Tombak Pelayanan
Keberhasilan program ini bertumpu pada pundak lebih dari 100 kader kesehatan. Mereka adalah pahlawan tanpa tanda jasa yang bergerak atas dasar kemanusiaan.
Apresiasi Pemerintah: Sebagai bentuk dukungan, Pemerintah Kabupaten memberikan stimulasi berupa uang transportasi sebesar kurang lebih Rp 200.000 per kader. Meski bersifat bantuan operasional, hal ini menjadi simbol pengakuan atas dedikasi mereka di lapangan.
4. Sisi Humanis: Menembus Lelah dengan Kekeluargaan
Dinamika di lapangan menyajikan perpaduan antara tantangan fisik dan kepuasan batin bagi tim medis:
Sisi Terang: Terjalinnya ikatan emosional dengan warga. Mengenal karakter unik setiap RW membuat edukasi kesehatan lebih mudah diterima karena kedekatan layaknya keluarga sendiri.
Tantangan: Lonjakan antusiasme warga sering kali membuat tim lapangan harus bekerja ekstra keras. Jumlah pasien yang membeludak menuntut ketahanan fisik dan manajemen waktu yang ketat agar kualitas pelayanan tidak menurun.
Kesimpulan
Transformasi Posyandu di Kelurahan Brebes membuktikan bahwa integrasi antara dukungan medis Puskesmas, kebijakan pemerintah, dan militansi kader mampu menciptakan pusat kesehatan komunitas yang inklusif. Kini, kesehatan warga terjaga sejak dalam kandungan hingga usia senja.
Reporter: Teguh
Eksplorasi konten lain dari Detik Nasional
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
