SEMPOR, KEBUMEN, DN-II Publik dikejutkan oleh temuan menjijikkan dalam distribusi paket Makan Bergizi Gratis (MBG) di SDN 3 Sempor, Kabupaten Kebumen. Pada periode 21-22 Januari lalu, sejumlah paket makanan yang berisi buah naga dan olahan ayam ditemukan terkontaminasi belatung. Insiden ini menjadi tamparan keras bagi Pemerintah Daerah (Pemda) yang dianggap gagal menjamin standar keamanan pangan paling mendasar bagi siswa. (25/1/2026).
Kronologi dan Keresahan Wali Murid
Meskipun kejadian telah berlangsung beberapa hari, keresahan wali murid memuncak hari ini akibat minimnya tindakan tegas dan evaluasi transparan dari otoritas terkait. Temuan larva hidup pada makanan siswa bukan sekadar masalah teknis dapur, melainkan indikasi adanya kelalaian sistematis dalam rantai pasok dan kontrol kualitas.
@netiknasionalPenyedia Bahan Pangan Berkomitmen Ganti Buah Rusak, Tekankan Keamanan Konsumsi Anak Kebumen, Menanggapi temuan adanya buah dengan kualitas kurang baik dalam distribusi logistik baru-baru ini, pihak penyedia bahan pangan memberikan klarifikasi resmi. Dalam pertemuan koordinasi yang dilakukan, pihak penyedia menyatakan komitmennya untuk bertanggung jawab penuh dan mengevaluasi standar pengecekan kualitas produk. (25/1/2026). Komitmen Ganti Rugi “One-for-One” Pihak penyedia menegaskan bahwa setiap butir buah yang ditemukan dalam kondisi busuk atau tidak layak konsumsi akan segera diganti. Langkah ini diambil guna memastikan hak konsumen terpenuhi tanpa kerugian materiil. “Jika ada satu yang rusak, akan kami ganti satu. Itu tidak masalah bagi kami,” ujar perwakilan pihak penyedia dalam pertemuan tersebut. Fokus Utama: Keselamatan Anak-Anak Selain masalah administratif penggantian, poin utama yang ditekankan adalah aspek kesehatan. Pihak penyedia mengimbau dengan tegas agar buah yang terindikasi rusak segera dipisahkan dan tidak diberikan kepada anak-anak. Kekhawatiran muncul mengingat beberapa jenis buah, seperti melon dan buah naga, seringkali menunjukkan tampilan luar yang segar namun ternyata mengalami pembusukan di bagian dalam (internal rot). Hal ini diakui menjadi tantangan tersendiri dalam proses sortir manual. “Prioritas kami adalah keamanan. Kami mohon bantuan agar buah yang kurang baik benar-benar jangan sampai dikonsumsi oleh anak-anak,” tambahnya. Langkah Evaluasi Internal Di sisi lain, pihak pengelola distribusi mengakui adanya celah dalam pengawasan sebelumnya. Pihak manajemen telah memberikan instruksi keras kepada staf lapangan untuk lebih selektif dan berhati-hati dalam proses kurasi bahan pangan. “Kami sudah memberikan penekanan kepada staf agar lebih teliti. Kedepannya, pengecekan akan dilakukan lebih mendalam untuk meminimalisir adanya buah busuk yang lolos sensor,” ungkap perwakilan tim distribusi. Hingga saat ini, koordinasi antara penyedia, pengelola, dan penerima manfaat terus diperketat guna memastikan insiden serupa tidak terulang kembali di masa mendatang.
https://vt.tiktok.com/ZSafARy2r/
“Ini bukan sekadar masalah teknis, ini soal nyawa dan kesehatan anak-anak. Jika di tingkat sekolah dasar saja pengawasannya bocor, bagaimana jaminan keamanan pangan di tingkat yang lebih luas?” ujar salah satu perwakilan wali murid dengan nada kecewa.
Rapor Merah Kebijakan Pemerintah Daerah
Insiden di SDN 3 Sempor ini menjadi rapor merah bagi implementasi program MBG di daerah. Publik kini mempertanyakan kredibilitas mekanisme penunjukan vendor dan pengelolaan dapur umum. Terdapat tiga poin krusial yang menuntut jawaban:
Sistem Audit: Sejauh mana audit berkala dilakukan terhadap kelayakan dapur dan kualitas bahan baku sebelum distribusi?
Transparansi Anggaran: Dengan alokasi dana yang ada, mengapa kualitas pangan yang diterima siswa justru jauh dari standar higienis?
Ketegasan Sanksi: Beranikah Pemda memutus kontrak atau menempuh jalur hukum terhadap pengelola yang terbukti lalai?
Klarifikasi yang Dinilai Formalitas
Pasca temuan tersebut, pihak pengelola MBG Sempor yang diwakili oleh Kepala Kitchen dan Koordinator Lapangan (Korlap) memang telah mendatangi sekolah untuk melakukan klarifikasi. Namun, langkah ini dinilai publik hanya sebagai upaya formalitas. Belum ada pertanggungjawaban publik yang menjelaskan bagaimana standar higienitas bisa merosot hingga ke titik yang membahayakan kesehatan anak-anak.
Desakan Tindakan Nyata
Masyarakat melalui pihak sekolah dan wali murid mendesak adanya jaminan tertulis agar kejadian serupa tidak terulang. Jika tidak ada langkah konkret, kebijakan MBG di wilayah ini layak untuk dievaluasi total atau dihentikan sementara hingga standar keamanan pangan terjamin 100%.
Kami mendesak Pemerintah Daerah untuk segera:
Audit Total: Memeriksa seluruh mata rantai penyedia MBG di wilayah Sempor tanpa kecuali.
Sanksi Blacklist: Memberikan sanksi pemutusan kontrak dan daftar hitam bagi vendor yang lalai.
Transparansi Hasil: Mempublikasikan hasil investigasi secara terbuka sebagai bentuk akuntabilitas publik.
“Program Makan Bergizi Gratis seharusnya menjadi solusi gizi, bukan sumber penyakit. Jika pemerintah gagal menjamin keamanan sepiring makanan untuk anak sekolah, maka integritas kebijakan daerah ini patut dipertanyakan secara serius.”
Redaksi/Fit
Eksplorasi konten lain dari Detik Nasional
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
