TEGAL, DN-II Bagi sebagian orang, sepatu sekolah adalah hal lumrah. Namun bagi Nur Hayati (56), sepasang sepatu adalah simbol kemewahan yang tak pernah ia rasakan. Warga Desa Wangandawa, Kecamatan Talang, Kabupaten Tegal ini tidak pernah mengenyam pendidikan formal. Namun, kegelapan buta aksara tak menghalanginya menjadi pelita bagi masa depan ketiga anaknya.
“Saya tidak tahu rasanya pakai sepatu sekolah, tapi anak-anak saya harus punya gelar sarjana,” ungkapnya tegar saat ditemui, Selasa (17/2/2026).
Merajut Asa dari Tumpukan Rongsok
Keseharian perempuan yang akrab disapa Ibu Nur ini jauh dari kata mudah. Ia menyambung hidup dengan mengais barang rongsok di jalanan sekaligus bekerja sebagai Asisten Rumah Tangga (ART). Setiap hari, ia menyisir sudut kota untuk mengumpulkan kardus dan kertas bekas demi rupiah yang tak menentu.
“Terkadang hanya dapat Rp7.000, kalau lagi ramai bisa Rp10.000 sehari,” katanya lirih. Dari recehan inilah, satu demi satu mimpi anaknya dirajut hingga menembus gerbang universitas ternama.
Buah Manis Ketulusan: Tiga Anak, Tiga Sarjana
Perjuangan berat Ibu Nur membuahkan hasil yang melampaui ekspektasi. Ketiga anaknya berhasil membuktikan bahwa kemiskinan bukan penghalang untuk berprestasi:
Anak Sulung: Berhasil menyelesaikan studi di jurusan Biologi, Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) Purwokerto, dan kini telah mandiri bekerja di Bekasi.
Anak Kedua (Munir): Menempuh studi Tafsir Al-Qur’an di IAIN Salatiga. Munir sempat menunjukkan baktinya dengan menunda kuliah selama dua tahun demi membiayai adiknya setelah sang ayah wafat.
Anak Bungsu: Kini sedang menempuh semester 4 di Universitas Airlangga (UNAIR), Surabaya, mengambil jurusan Ekonomi Islam melalui beasiswa bergengsi dari BSI.
Solidaritas di Tengah Keterbatasan
Ibu Nur mengakui, jalannya menuju titik ini tidak dilalui sendirian. Keajaiban demi keajaiban hadir melalui tangan-tangan dermawan. Ia menyebut nama H. Imam dan Hj. Linda (pemilik Chicken Meccah dan Cafe Alif) sebagai sosok yang konsisten membantu biaya sekolah anak-anaknya.
Ia juga mengenang kebaikan Dedy Yon Supriyono (Wali Kota Tegal periode 2019-2024). “Beliau sering membantu langsung kalau bertemu saya sedang mencari rongsok di jalanan,” kenangnya.
Pesan Untuk Negeri
Kisah Nur Hayati adalah potret nyata bahwa pendidikan adalah hak segala bangsa, bukan hanya milik mereka yang berada. Dengan kerja keras, doa yang tak putus, dan dukungan sosial yang tepat, tembok kemiskinan terbukti bisa diruntuhkan.
Ibu Nur telah membuktikan: meski kakinya tak pernah menginjak bangku sekolah, langkahnya telah membawa anak-anaknya melampaui batas yang pernah ia bayangkan.
Reporter: Teguh
Editor: Casroni
Eksplorasi konten lain dari Detik Nasional
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
